
"Kak Langit sudah pernah bilang ke kamu kan, Git?"
"Bilang apa?" Gita membuang pandangannya menghindari tatapan Anggita.
"Teddy itu mucikari."
"Mucikari tuh apaan sih?!" tanya Gita. Ia sebenarnya sudah paham arti dari kata mucikari, tapi hatinya menolak untuk menerima jika Teddy di sebut sebagai mucikari.
"Germo. Nawarin cewek ke pria hidung belang untuk ditiduri," tandas Anggita.
"Jangan main asal tuduh dong. Tuduhan kalian itu ga main-main loh."
"Beneran, Git." Anggita bersikukuh meyakinkan.
"Kamu disuruh Kak Langit bicara tentang ini? bahkan sampe nginep segala?, kalian berdua sekongkol ya, untungnya buat kalian apa sih, jauhin aku sama Teddy?"
"Kamu ga percaya?"
"Ga lah!"
"Jadi apa tujuan Kak Teddy kenalin kamu sama om-om, sampe kamu hampir dilecehin kemarin?"
Gita melihat ke arah Anggita, matanya membesar dan tubuhnya membeku. Ia tidak sampai mengira, Anggita tahu kejadian di dalam mobil.
"Cuman kenalan doang," jawab Gita setelah berhasil menguasai diri.
"Kenalan sama om-om?, yang bener aja, Git. Please lah, kita terbuka aja apa yang dikatakan Teddy sama kamu?"
Gita teringat perkataan Teddy tentang Anggita, jika tidak sama dengannya Anggita tidak akan mau terbuka.
"Aku pingin seperti kamu," ucap Gita lirih.
"Seperti aku?"
"Kamu punya Daddy sebagai pengganti Papamu, kan? Aku juga pingin seperti itu."
Anggita menarik nafas berat, "Aku mau kasih tau sesuatu, tapi tolong jangan dihakimi dulu."
Anggita menyenderkan tubuhnya di sisi kaki ranjang Gita, kepalanya menengadah dengan mata terpejam.
"Teddy benar aku punya Daddy, tapi bukan sebagai pengganti Papa aku."
"Aku ... pelacur, Git." Air mata Anggita menetes dengan mata masih terpejam.
"Ma-maks---"
"Tunggu aku selesaikan dulu," potong Anggita, tangannya terangkat di hadapan wajah Gita.
"Aku tau waktu kamu dikenalkan sama Om Bagas. Pria itu sudah terkenal di club malam, sebagai pemburu ABG macam kita."
"Teddy juga sudah terkenal sering terima pesanan cewek-cewek yang mau di booking sama pria macam Om Bagas."
"Aku terpaksa melakukan pekerjaan seperti itu, Git." Anggita membuka matanya dan memandang Gita yang menatapnya dengan mulut terbuka.
"Itu sama sekali tidak menyenangkan. Itu memalukan! aku jijik sama diriku sendiri." Anggita mulai terisak, tangannya mencabik-cabik baju di bagian dadanya.
"Nggi ...." Gita menahan tangan Anggi yang sudah mulai menarik rambutnya sendiri.
__ADS_1
"Dengarkan aku dulu sampai selesai, karena setelah ini mungkin aku ga akan mau cerita sama kamu lagi." Anggita menepis tangan Gita.
"A-aku terpaksa, Git. Papaku pergi gitu aja sama perempuan lain, ninggalin aku sama Mama dengan hutang yang banyak. Tiap hari kami diteror banyak rentenir berganti-ganti."
"Aku sama Mama sekarang kontrak di rumah kecil, karena rumah kami sudah disita."
"Papaku berhutang sama pemilik club yang kamu datangi sama Teddy ... aku dijual di sana." Anggita menatapnya dengan air mata berderai.
"Jangan mau seperti aku, Git. Hidupmu baik-baik aja, jangan dengarkan si brengsek Teddy."
"Yang kamu lihat aku ngobrol berdua sama dia, itu aku minta sama dia jangan bawa kamu ke dunia malam, tapi dia ngancam karena dia tau semua tentang aku."
"Aku ga mau kamu seperti aku!"
"Maaf kalo kamu ngerasa aku ikut campur, kemarin aku terpaksa minta tolong sama Kak Langit untuk cari kamu, karena aku ngerasa pasti Om Bagas mau bawa pergi kamu."
"Aku terpaksa cerita semua sama Kak Langit, dia panik sekali waktu bilang kamu mau dibawa sama om-om."
"Ga tunggu aku selesai cerita, sudah narik tangan aku ke mobilnya, udah gitu di jalan ngebut pula."
"Waktu di mall, Kak Langit sudah ga sabar mau datengin kalian tapi aku suruh sabar dulu karena masih ada Kak Teddy. Kalau Kak Langit datang terus mukul Om Bagas sama Kak Teddy di Mall, bisa-bisa Kak Langit yang dilaporkan ke polisi."
"Kak Langit narik kamu? gandeng maksudnya?" Ia tidak terlalu mendengarkan penjelasan lainnya dari Anggita, yang menarik perhatiannya adalah kata menarik tangan berarti Kak Langit menggandeng Anggita.
"Iyaa, dia narik aku buru-buru," sahut Anggita bersemangat.
"Ow," respon Gita singkat. Wajahnya kembali sendu.
"Kamu percaya aku kan, Git."
"Jangan cerita sama siapa-siapa ya, termasuk Nindy. Aku belum siap."
"Yang tau sekarang cuman kamu, Kak Langit, sama si Teddy."
"Kak Langit ga pa pa kamu jadi .. pe-pelacur?"
"Dia pesan supaya aku cepat keluar dari dunia hitam itu. Siapa sih yang ga mau, aku sekarang lagi berusaha masukin lamaran kerja di cafe, rumah makan, toko atau apa aja deh, yang bisa kerja sepulang sekolah."
"Ow, baik ya dia."
"Iya, Kak Langit memang baik banget," sahut Anggita seraya tersenyum lebar. Gita membalasnya dengan tersenyum masam.
"Kamu masih mau jadi temen aku kan, Git?" Gita mengangguk pelan.
"Thank you." Anggita memeluk Gita dengan erat.
Hampir semalaman Gita tidak bisa memejamkan mata, ada rasa yang hilang di sudut hatinya. Tidak ada kemarahan lagi, yang tersisa hanyalah ruang kosong.
Gita memandang temannya yang tertidur pulas di sisinya, 'Kamu sungguh beruntung, Nggi. Kak Langit beneran suka sama kamu, meski sudah tau kamu punya pekerjaan seperti itu, dia masih sayang sama kamu. Kak Teddy yang aku harapin ternyata cowok brengsek.' batin Gita. Ia menyusut lagi air mata yang menetes untuk kesekian kalinya malam ini.
...❤...
"Selamat Pagi, Tante," sapa Langit di depan pintu masuk rumah yang terbuka lebar.
"Pagiii, Langit. Ayok, sarapan dulu, Gita sama Anggita baru mulai juga."
"Sudah sarapan di rumah, Tan."
__ADS_1
"Ga pa-pa aku tungguin, ga usah buru-buru makannya," ucap Langit pada kedua gadis yang sedang menikmati sarapannya.
Wajah Langit dan Anggita terlihat cerah beda dengan Gita yang kuyu karena kurang tidur.
Gita menangkap dari ujung matanya, saat Langit dan Anggita berbicara dengan menggunakan kode mata dan anggukan kepala.
"Kenyang." Gita berdiri lalu membawa piringnya yang masih setengah terisi ke dapur.
"Kok ga habis?" tanya Mama yang sedang membuatkan teh untuk Langit.
"Lagi ga enak perutku."
"Masuk angin kali. Mama buat teh panas, bawa sekalian ke depan buat Langit."
"Kak, tehnya diminum," ucap Gita seraya menaruh secangkir teh ke hadapan Langit.
"Makasih, Empi," sahut Langit tersenyum manis, tapi yang disenyumin hanya mengangkat sudut bibirnya samar.
"Gimana kemarin seru ya ngobrol berdua."
"Seru ya, Git," sahut Anggita ceria. Lagi-lagi Gita hanya tersenyum kecil dan menganggukkan kepalanya pelan.
"Nanti malam nonton Doktor Strange yuk," ajak Langit.
"Udah main ya, Kak?" tanya Anggita antusias.
"Udah."
"Yuk, Git kita ajak Nindy juga biar rame."
"Kalian berdua aja, ga enak ganggu," sahut Gita pelan seraya tersenyum dengan sorot mata sendu.
"He?" Anggita dan Langit mengernyitkan kening bersamaan.
...❤❤...
follow ig : ave_aveeii
Ingatkan lagi aahh ..
Love/favorite ❤
Komen bebas asal santun 💭
Like / jempol 👍
Bunga 🌹
Kopi ☕
Rating / bintang lima 🌟
Votenya doong 🥰
Mampir ke karya teman aku yuk
__ADS_1