Ternyata Itu Cinta

Ternyata Itu Cinta
Cemburu?


__ADS_3

"Kak Langit ngomong apaan sih?!" Gita mendorong tubuh Langit, hingga kembali terduduk di kursi.


Matanya bergerak-gerak gelisah mencari keberadaan Mamanya, ia takut kalimat yang sempat keluar dari mulut Langit bisa didengar oleh Mamanya.


"Kenapa?, takut ketahuan sama Mama mu? katanya suka kalo di pegang-pegang sama ... siapa tadi kamu sebutnya?, Daddy??" Langit kembali berdiri dan berjalan mendekati Gita.


"Kak Langit!!" seru Gita gemas, tangannya mengepal dan wajahnya tampak semakin panik.


"Apa??, benar kan? kamu suka jadi peliharaan om-om, hanya di kasih upah ponsel harga dua jutaan kamu sudah mau dipegang-pegang??" seru Langit tidak kalah keras.


Ia berani bersuara keras karena tahu Mama Gita sedang berada di rumah tetangga.


Air mata Gita jatuh berderai, ia menangis tanpa suara dengan wajah memerah menahan amarah.


Hatinya terluka dan terhina dengan perkataan Langit, ia memang menerima ponsel dari Om Bagas, tapi bukan sebagai upah agar mau dipegang-pegang seperti kata Langit tadi.


Ia hanya ingin seperti Anggita yang tidak mempunyai Ayah, tapi berharap bisa merasakan kasih sayang dari pria dewasa yang dipanggilnya Daddy.


"Kalau iya, apa urusannya sama Kak Langit?" tantang Gita. Kepalang basah mandi sekalian, itu yang sedang ditunjukkan Gita di hadapan Langit saat ini.


Dengan pandangan yang sudah kabur karena penuh dengan air mata, ia menatap Langit dengan tatapan penuh kemarahan.


Ia masih ingat, bagaimana Langit menggiringnya ke kursi belakang mobil, karena ada Anggita di kursi depan. Entah kenapa pemandangan itu menyesakkan dadanya.


Langit terhenyak mendengar jawaban Gita. Ia tidak menyangka gadis polos dan lugu yang dikenalnya sejak kecil, bisa berubah sedemikian cepat.


Gita menghapus air matanya dengan cepat, saat mendengar pintu ruang tamu terbuka.


Tanpa berkata apapun, ia berjalan dengan cepat masuk ke dalam kamarnya.


"Lang, mana Gita?" tanya Tante Silvi menyadarkan Langit yang sedang merenung.


"Di kamar," jawab Langit pelan.


"Kok kamu ga ditemani ngobrol?, ga sopan ini anak gadis." Tante Silvi beranjak mendekati kamar Gita.


"Jangan Tan!," seru Langit cepat, sebelum Tante Silvi mengetuk pintu kamar Gita.


"Gita baru aja masuk kamar. Ngantuk katanya, dia mau tidur cepat."


"Baru bangun kok ngantuk lagi." Tante Silvi menggerutu.


"Tan, saya boleh pinjam ponsel Gita?"


"Sebentar yo, Tante ambil dulu di kamar." Tidak lama kemudian, Tante Silvi keluar membawa ponsel Gita yang dalam keadaan mati.


Pesan beruntun mulai masuk saat Langit menyalakan ponsel Gita, tapi tak berapa lama ponsel langsung mati karena kehabisan daya.


"Tan, ada chargernya?"


"Waah, di kamar Gita, Lang. Nanti kalo Tante minta chargernya, dia ngerengek lagi minta dikembalikan ponselnya."


"Saya ambil dulu di rumah kalo gitu."

__ADS_1


"Ga usah, kamu bawa aja dulu ponselnya kalo memang ada perlu."


"Saya bawa pulang dulu kalo gitu."


"Lang, ada apa to? kamu sepertinya menyembunyikan sesuatu dari Tante. Gita ada masalah?" Tante Silvi menghentikan langkahnya.


"Gita baik-baik saja, Tan. Ga ada masalah kok, biasa lagi deket sama cowok tapi agak ga bener aja anaknya. Bima minta tolong saya pantau Gita terus, makanya saya mau cek ponselnya," jelas Langit setelah mengembangkan senyum terbaiknya.


Kisah sugar baby sudah lebih dulu menghancurkan rumah tangga Tante Silvi, jangan sampai Tante Silvi tahu putrinya hampir terjerumus dalam kisah yang sama.


"Oww, si Teddy itu ya. Tante juga ga suka. Awalnya aja mempesona, ganteng, tapi ga ada tanggungjawabnya."


"Hehehe, iya. Saya pulang dulu, Tan," pamit Langit, sebelum Tante Silvi berhasil mengorek segala sesuatu tentang Teddy.


Sampai di rumah, Langit langsung masuk kamar dan menyalakan ponsel Gita.


Ia membaca semua pesan yang masuk termasuk pesan dari Teddy dan satu nomer yang belum disimpan, sepertinya nomer dari si perut buncit tadi.


Dengan geram ia menghapus semua pesan dari dua orang itu, dan memblokir nomernya.


...❤...


"Git, a-aku mau bicara." Anggita menghadang Gita saat jam istrirahat.


"Apa?" tanya Gita tak suka.


"Tentang Teddy."


Anggita tidak berusaha mengejar, ia hanya memandang punggung Gita yang berjalan semakin jauh. Ia bingung harus dari mana menjelaskan pada temannya itu.


Kehidupannya memang sudah rusak, bukan berarti ia mau temannya itu ikut menjadi rusak seperti dirinya juga.


Selain itu, sepertinya Gita belum mengerti tentang konsep Daddy yang dimaksudkan oleh Teddy.


Lain halnya dengan dirinya, ia menjadi sugar baby karena kebutuhan ekonomi yang mendesak.


Semakin dekatnya hubungan Gita dengan Teddy, membuat Anggita tidak nyaman. Selain karena takut aibnya terbongkar, ia juga khawatir akan keselamatan Gita karena Teddy di lingkungannya sudah terkenal sebagai mucikari wanita muda.


"Empi," Langit menyodorkan ponsel keluaran terbaru ke hadapan Gita.


Gita hanya melirik lalu berjalan begitu saja melewati Langit, persis seperti yang ia lakukan pada Anggita tadi saat jam istirahat.


Langit tidak menyerah, tanpa berbalik ia menarik lengan Gita, hingga gadis itu berjalan mundur dan kembali berdiri di hadapannya.


"Dari Bima," ucap Langit singkat. Ia kembali menyodorkan ponsel itu ke hadapan Gita.


"Terima kasih." Gita menerima ponsel itu dari tangan Langit, lalu hendak berlalu lagi.


"Mau ke mana?" Kembali Langit menahan lengan Gita lagi.


"Ya pulanglah!, lepasin, ah. Sakit tauk!" Gita berusaha melepaskan cengkraman tangan Langit pada lengannya.


Langit tidak menghiraukan kalimat protes dari Gita, ia menarik tangan Gita ke arah mobilnya.

__ADS_1


Langit membuka pintu mobil sisi penumpang, lalu memaksa Gita agar masuk dan duduk di dalam.


Sebelum Gita kembali protes dan keluar dari mobil, ia masuk lalu menyalakan mesin dan langsung membawa kendaraan itu keluar dari area parkir sekolah.


"Kok maksa sih!"


"Aku sudah pindahkan semua isi galeri ponselmu yang lama. Termasuk foto sama video manusia-manusia plastik itu." Langit tidak menghiraukan kemarahan Gita.


Gita menyalakan ponsel barunya dan mencoba semua fiturnya.


"Ini dari Kak Bima?, ini kan mahal, Kak Bima uang dari mana?" Gita bergumam seraya mengutak-atik ponselnya.


Sebelumnya Langit sudah menyampaikan pada Bima, jika ia akan membelikan sebuah ponsel baru untuk Gita, dengan alasan ponsel lamanya rusak karena lama tidak diaktifkan.


Sebenarnya ia membelikan Gita sebuah ponsel yang baru, karena lebih mudah untuk menaruh pelacak tanpa diketahui Gita.


"Loh, nomer Kak Teddy kok ga ada?"


"Mau apa kamu simpan nomer dia."


"Aku mau kirim pesan, tadi di sekolah Kak Teddy kayak hindarin aku gitu. Aku mau tanya kenapa, sekalian mau cerita tentang Om Bagas."


"Bagus kalo dia jauhin kamu, berarti dia sadar diri."


"Kok ngomong gitu sih."


"Jangan dekat-dekat dia lagi," ucap Langit tegas.


"Urusan apa sama situ. Urus tuh pacar Kak Langit sendiri, ga usah sok ngurusin orang lain." Gita melipat kedua tangannya di dada, lalu membuang pandangannya keluar jendela.


...❤❤...


follow ig : ave_aveeii


Ingatkan lagi aahh ..


Love/favorite ❤


Komen bebas asal santun 💭


Like / jempol 👍


Bunga 🌹


Kopi ☕


Rating / bintang lima 🌟


Votenya doong 🥰


Mampir ke karya teman aku yuk


__ADS_1


__ADS_2