
Langit sudah akan mengeluarkan kalimat protes, tapi urung karena Mama Gaby sedikit melirik penasaran ke arah mereka.
Tante Laras yang melihat Langit sudah duduk di sisi Gaby, akhirnya mengambil tempat di depan Mama Gaby. Sedangkan Gita dan Mamanya, duduk berhadapan dengan Langit dan Gaby.
“Lang, setelah lulus ini kamu mau melanjutkan kuliah di luar kota?” tanya Om Wahyu.
“Sepertinya ga, Om. Saya ambil kuliah di kota ini aja.”
“Bagus … bagus. Om sudah semakin tua, ga bisa handle perusahaan sendirian sekarang.”
“Kak Langit, ga jadi kuliah bareng Kak Bima? tanya Gita.
“Tanggung jawab di kantor semakin banyak, Git. Ga ada yang bantuin Om wahyu nanti,” jawab Langit seraya tersenyum manis. Ia sungguh merindukan gadis yang duduk di hadapannya ini sekarang. ‘Ga ada yang jagain kamu juga, Git. Aku juga ga kuat nahan kangen kalo harus jauhan dari kamu, sebulan lebih ga ketemu aja rasanya begini banget,’ tambahnya dalam hati.
“Asyiikk, Kak Langit masih di sini ga jadi keluar kota. Jadi kita masih bisa samaan terus,” ucap Gaby. Ia ingin memeluk lengan Langit, tapi gerakan pria itu jauh lebih cepat menghindar dengan berpura-pura mengambil sayur di tengah meja.
“Git, tumben kamu makan sedikit. Udang goreng mentega Ini kan kesukaanmu, kayaknya Mama bikin khusus buat kamu deh,” ucap Langit seraya mengambil beberapa udang, mengupasnya lalu menaruh udang yang sudah bersih langsung di piring Gita.
“Aku juga mau, Kak,” pinta Gaby memohon. Ia berharap diperlakukan hal yang sama seperti Gita tadi, tapi Langit hanya menggeser piring berisi udang itu lebih dekat ke arah Gaby.
Hati Gaby mendongkol melihat betapa sikap Langit, sangatlah berbeda dibanding ketika sedang bersamanya.
Setelah selesai makan malam, para orang tua kembali ke ruang tamu melanjutkan obrolan mereka yang serasa tidak ada habisnya.
Gita memilih duduk di depan televisi, menekan-nekan tombol remote tapi semua acara tidak ada yang membuat pikirannya beralih, dari sosok pria yang sedang memandangnya lekat dari meja makan.
“Kalau masih jam segini, acaranya ga ada yang menarik,” celetuk Langit, seraya mengambil alih remote televisi dari tangan Gita.
“Ga pa-pa sambil nungguin Mama.” Gita menunjuk ke arah ruang tamu dengan kepalanya.
“Nonton fim aja yuk di atas,” ajak Langit.
Gita sudah paham kata di atas yang dimaksud Langit, adalah kamarnya. Gita dan Bima sudah biasa berkunjung ke rumah Langit, lalu masuk ke kamarnya yang luas untuk bermain game bertiga atau sekedar menonton film bersama.
Setelah Bima kuliah di luar kota, Gita sudah tidak pernah lagi berlama-lama di dalam kamar Langit. Bukan karena Gita yang malu berduaan dengan pria dalam sebuah kamar, tapi Langitlah yang melarang karena ia takut tidak bisa menahan diri, jika hanya berdua dengan wanita yang dicintainya.
Namun, malam ini Langit ingin lebih lama lagi bersama dengan Gita. Sudah hampir dua bulan hidupnya terasa kosong, tanpa hadirnya gadis cerewet ini di sekitarnya.
“Mau kemana?” tanya Gaby kesal merasa diabaikan.
“Nonton film,” sahut Langit kesal. Ia hampir melupakan ada seorang wanita lagi di ruangan ini.
“Di mana?” tanyanya lagi. Langit dan Gita sudah berada di anak tangga siap naik ke atas.
__ADS_1
“Kamar.”
“Kamar Kak Langit?? Aku ikut,” sahut Gaby bersemangat.
“Terserah,” sahut Langit tak acuh, dan langsung menaiki tangga dengan setengah berlari diikuti Gita dibelakangnya.
“Aku sudah punya film Doctor Strange, kamu sih diajak nonton nolak mulu. Kita nonton ini aja ya.” Gita hanya mengangguk lalu duduk di atas karpet saat Langit mulai memutar filmnya.
Sedangkan Gaby, masih sibuk berkeliling melihat isi kamar Langit.
Gaby merasa kesal saat melihat posisi duduk Langit, sangat dekat dengan Gita.
“Git, geser dong aku di sebelah Kak Langit,” protes Gaby. Ia tidak bisa duduk di sisi Langit yang satunya, karena terhalang lemari dan di sisi sebelahnya lagi ada Gita.
“Duduk di sebelah Gita aja kenapa sih, Gab?” ucap Langit yang sudah mulai kesal dengan tingkah laku gadis itu.
Gita yang sudah bergerak akan menggeser badannya, di tahan oleh Langit.
“Kak Langit kok gitu. Aku kan pacar Kak Langit, kenapa kakak malah duduk deket-deketan sama cewek lain,” seru Gaby sambil menunjuk Gita yang masih duduk di bawah.
“Hah?! Sejak kapan aku jadi pacarmu??” Langit bangkit berdiri.
“Kemarin kan kita sudah jadian, aku bilang kita pacaran. Kakak juga ga menolak.” Gaby bersikukuh.
“Aku bukan pacarmu dan kita tidak pernah pacaran!” seru Langit dengan nada menekan di setiap katanya.
“Kak aku turun dulu.” Gita berdiri dan hendak keluar kamar.
“Iya, lebih baik kamu pergi. Gangguin aja, dasar pelakor!” ucap Gaby sinis.
“GABY! ….” Kemarahan Langit sudah sampai ke ubun-ubun. Ingin ia luapkan semua, tapi suara Mamanya memanggil dari lantai bawah menahan amarahnya yang siap meledak.
“Aku belum selesai sama kamu!” ancam Langit, seraya berjalan keluar kamar dan menarik tangan Gita.
“Duduk di sini dulu, Lang. Ada yang mau disampaikan Om sama Tante sedikit ke kamu,” ucap Om Wahyu.
Langit duduk di sisi Mamanya. Saat Gaby akan mengikuti duduk di sampingnya, ia langsung memberikan tatapan peringatan.
Akhirnya Gaby pindah duduk di sebelah Papanya, dengan perasaan kesal luar biasa.
“Beberapa hari ini Om sama Tante memikirkan sesuatu, kalian berdua kan hampir tiap hari bersama.” Om Wahyu menunjuk Langit dan Gaby.
“Om tahu, gejolak anak muda jaman sekarang kan luar biasa, ya to? Hanya untuk agar menghindari sesuatu dan tidak timbul fitnah, bagaimana jika mereka berdua ini di tunangkan saja, Jeng?” Om Wahyu melemparkan pertanyaan pada Mama Langit.
__ADS_1
“Biar kita nih sebagai orang tua tenang gitu, loh. Toh Papa kamu sama Om kan juga sudah sahabatan lama, Lang.”
“Bagaimana, Jeng? Setuju toh?” tanya Om Wahyu lagi.
Mama Langit yang masih terkejut hanya diam melongo, mendengar permintaan sahabat suaminya itu.
“Ehh … ehh, kalo saya sih terserah anak-anak saja,” ucapnya gamang. Mata Mama Langit dan Mama Gita saling melirik bingung.
“Aku mau, Pa. Kita juga sudah pacaran kok,” ucap Gaby seraya bergelayut pada lengan Papanya.
“Gab! Harus bagaimana aku bilang sama kamu, kita tidak pernah pacaran!” seru Langit. Ia sudah tidak peduli lagi dengan keberadaan kedua orang tua Gaby.
“Kak Langit mau bilang kalo lebih suka sama cewek panggilan om-om ini?” telunjuk Gaby mengarah ke arah Gita.
“Hah?!” Mama Gita terkejut dan langsung memandang putrinya yang sudah pucat pasi.
“Kamu jangan sembarangan ngomong, Gab!” seru Langit dengan wajah memerah menahan amarah.
“Aku tau kok, dia tuh cewek ga bener. Cewek mana yang gampang banget masuk kamar cowok kayak tadi?”
“GABY!!” Mata langit sudah menyala, emosinya sudah hampir tak tertahankan. Andaikan Gaby seorang pria, mungkin wajahnya sudah tidak berbentuk lagi.
...❤❤...
Ini cover pertama sekaligus visual Gita dan Langit sebelum diganti oleh NT. Semoga sesuai bayangan teman-teman ya.
Ingatkan lagi aahh ..
Love/favorite ❤
Komen bebas asal santun 💭
Like / jempol di setiap bab👍
Bunga 🌹
Kopi ☕
Rating / bintang lima 🌟
Votenya doong 🥰
__ADS_1