
"Malam, Tante," sapa Langit, saat Tante Silvi membuka pintu rumah. Ia menyodorkan satu kantong, berisi terang bulan merk ternama.
"Loh, Langit malam-malam gini bawa apa tuh?"
"Cuman terang bulan aja, Tan. Tadi habis dari ngumpul bentar sama teman."
"Sudah selesai pekerjaannya?, kata Gita kamu hari ini sibuk sekali ya, kasihan kamu anak remaja malam minggu gini harus selesaikan pekerjaan kantor."
"Ga sibuk, Tan. Biasa akhir bulan aja padatnya, kalau masih tengah bulan gini nyantai aja."
"Loh, kata Gita kamu sibuk, makanya ga bisa temenin dia kerja kelompok di rumah Nindy."
"Gita pergi?"
"Iya, dijemput sama Teddy, teman yang dia suka itu. Katanya mau kerja kelompok di rumah Nindy, semua sudah pada nungguin katanya." Langit mengkerutkan keningnya mendengar nama Teddy disebut.
Tanpa menanggapi perkataan Tante Silvi, Langit mengambil ponselnya, ia langsung menghubungi Gita.
Tidak ada jawaban, bahkan panggilannya ditolak. Tidak putus asa, ia mencoba menghubungi Nindy.
Belajar dari pengalaman sebelumnya, ia sudah berhasil mengantongi nomer ponsel kedua sahabat Gita, tanpa sepengetahuan Gita sendiri.
"Halo, Nindy?"
"Iya, ini siapa?"
"Aku Langit, kelas dua belas."
"Oww, Kak Langit. Ya, kak ada yang bisa dibantu?"
"Gita ada di tempatmu?, katanya ada kerja kelompok ya?"
"Gita ga ada di rumahku, kerja kelompok apaan ya?, kayaknya ga ada deh Kak."
"Oke, terima kasih kalo gitu ya, Nin." Langit mengakhiri percakapannya, sebelum Nindy bertanya lebih lanjut karena rasa penasaran.
"Sepertinya Tante yang harus telepon Gita, karena tadi saya yang hubungi ditolak sama dia."
"Dia di mana, Lang?" Tante Silvi mulai khawatir.
"Saya juga ga tahu, kata Nindy tidak ada kerja kelompok di rumahnya malam ini."
"Duuhh, anak itu ke mana toh!, sudah jam sepuluh loh." Sambil terus menggerutu dan mengomel, Tante Silvi menekan angka di ponselnya menghubungi Gita.
Begitu dering keempat Gita menjawab panggilan Tante Silvi, "Halo, Ma?"
"Kamu di mana?!"
"Di rumah Nin-Nindy, Ma." Suara Gita terdengar sangat ketakutan di seberang sana
"Jangan bohong kamu!, Nindy bilang tidak ada kerja kelompok di rumahnya, dan tidak ada tugas kelompok yang harus diselesaikan. Pulang sekarang!!" Tanpa menunggu jawaban dari putrinya, Tante Silvi langsung menutup ponselnya.
"Gita di mana ya kira-kira?, tadi suaranya ribut, lagunya juga keras sekali, tante sampe ga denger suara Gita. Apa ada konser?, tapi kok lagunya disko jedag jedug gitu."
Langit hanya terdiam, ia tidak berniat menjawab pertanyaan Tante Silvi. Yang memenuhi pikirannya sekarang adalah Gita bersama Teddy dan itu jauh sangat berbahaya.
...❤❤...
__ADS_1
Kalau bisa lebih diperlambat jalannya taxi online ini, mungkin Gita lebih sedikit tenang karena banyak waktu untuk memikirkan alasan yang akan di sampaikan ke Mamanya.
Dalam waktu kurang dari empat puluh lima menit, taxi online itu sudah sampai mengantarnya ke depan rumah.
Tante Silvi dan Langit tampak berdiri di depan pintu rumah, dengan wajah cemas.
Tangan Gita bergetar saat membuka pagar.
PLAAKKK! ....
"Jangan, Tan!" pekik Langit, tapi tangan Tante Silvi sudah terlanjur menyentuh pipi Gita dengan keras.
"Kamu sudah mulai berani berbohong!, MASUK!" Tante Silvi menarik tangan Gita, lalu mendudukannya di sofa ruang tamu.
"Tan, sabar dulu." Langit mencoba menenangkan Tante Silvi.
"Dari mana kamu!" Tante Silvi tidak menghiraukan perkataan Langit.
"Jawab Gita!" Tante Silvi lebih mengeraskan lagi suaranya.
Gita tidak mampu menjawab, tubuhnya sudah mengkerut ketakutan. Ia tidak pernah melihat Mamanya semarah itu sebelumnya.
"Kemana teman kamu si Teddy itu? dia tidak mengantarkan kamu pulang?!" Gita menggeleng, masih dengan kepala tertunduk dan air mata berderai tanpa suara.
"Kamu di bawa ke mana sama dia?!"
"Dia yang suruh kamu berbohong hah?!, JAWAB GITA!"
"Bu-bukan, Maa huhuuhuu ...." Isakan tangis Gita sudah mulai terdengar.
Ia bingung apa yang akan disampaikannya, apakah ia harus berbohong lagi ataukah harus jujur, jika ia di bawa Teddy pergi ke tempat hiburan malam.
"Tan, sudah cukup, yang penting Gita sudah pulang, selamat dan baik-baik aja." Langit mencoba menenangkan Tante Silvi lagi, ia merasa kasihan dengan Gita yang sudah bersimbah air mata.
"Kalau bukan karena Langit, Mama ga tau kalo kamu sudah bohongin Mama, berani sekali kamu!" Gita mengangkat kepalanya sedikit, dan melirik pria yang berdiri di belakang Mamanya.
"Ponsel kamu sekarang Mama sita, kasih ke Mama sekarang!" Tante Silvi mengulurkan tangannya ke depan wajah Gita.
"Jangan, Ma pleasee," rengek Gita memohon. Bagaimana tidak seorang gadis seusia Gita tidak memegang ponsel di jaman sekarang.
"Ini sebagai hukuman buat kamu yang sudah berani membohongi Mama, bawa ke sini ponselmu."
"Maaa ... huhuuhuuu ...." Gita dengan berat hati menyerahkan ponselnya ke tangan Mama.
"Ponselmu ini Mama simpan selama seminggu, dan Mama tidak mau melihat kamu dekat sama pria yang tidak bertanggungjawab itu, siapa namanya?" tanya Tante Silvi pada Langit.
"Teddy, Tan," jawab Langit. Gita mengangkat kepalanya, ia berikan tatapan sengit pada Langit.
"Oh, ya si Edi itu----"
"Teddy, Tante," ralat Langit.
"Iya, Eddy. Dengar ya Gita, Mama ga mau kamu dekat-dekat lagi sama dia. Mau ganteng seperti artis Korea, India atau Afrika sekalipun Mama ga peduli!" Mama berjalan masuk membawa ponsel yang sudah diambil dari tangan Gita.
"Mpi," panggil Langit pelan, seraya berjongkok di depan Gita.
Gita hanya mendongak sekilas dengan wajah yang penuh air mata. Pipinya merah bekas tangan Tante Silvi masih membekas di sana.
__ADS_1
Tangan Langit terulur ingin menyentuh pipi Gita, tapi belum sempat menyentuh, tangannya sudah ditepis kasar oleh Gita.
Tanpa berkata apapun, Gita berdiri dan berjalan ke arah kamarnya.
"Mpi ... Empi ...." Langit mengikuti langkah Gita.
Ia merasa menyesal tidak bisa melindungi gadis yang ia sayangi, dari kemarahan Mamanya. Ia juga tidak menyangka reaksi Tante Silvi bisa semarah itu.
Langit sungguh menyesal, seharusnya ia bisa melacak dan mencari Gita sendiri tanpa harus melibatkan Tante Silvi.
Sekarang ia tahu dari tatapannya Gita pasti sangat marah padanya.
BRAAKK! ...
Pintu kamar ditutup dengan keras tepat di depan wajah Langit.
Langit menarik nafas panjang dan menempelkan kepalanya di pintu kamar Gita.
"Empi, aku tahu kamu marah, aku minta maaf. Kamu jangan nangis terus, besok matanya bengkak jadi tambah jelek."
DUUGH! ....
Terdengar suara benda di lempar ke arah pintu.
"Aku pulang dulu ya," bisik Langit.
Di dalam kamar, Gita duduk di lantai bersandar pada ranjangnya memeluk boneka beruang coklat. Ia menangis, rasa marah dan sedihnya bercampur menjadi satu.
Ia sedih karena baru sekali itu Mama memukulnya. Ia tahu itu akibat dari kebohongannya, tapi ia tidak menyangka Mama sampai hati menamparnya.
Ia marah karena ponselnya harus disita, benda yang selama ini menjadi teman setianya saat ia merasa kesepian.
Ia juga merasa benci pada Langit, yang serasa membayang-bayangi kehidupannya, karena Langit juga Mama sampai tega menamparnya.
Gemuruh kemarahan bergejolak dalam hati Gita, ada sesuatu yang muncul dalam dirinya. Gejolak jiwa mudanya ingin berontak dari kukungan itu.
...❤❤...
follow ig : ave_aveeii
Ingatkan lagi aahh ..
Love/favorite ❤
Komen bebas asal santun 💭
Like / jempol 👍
Bunga 🌹
Kopi ☕
Rating / bintang lima 🌟
Votenya doong 🥰
Kenalkan ya karya teman aku, ramaikan di sana yuk
__ADS_1