Ternyata Itu Cinta

Ternyata Itu Cinta
Pemanasan


__ADS_3

Hampir tujuh belas jam lamanya, mereka berdua tertahan di dalam pesawat.


Rasa capek, jenuh dan jetlag karena perbedaan waktu, menyebabkan Gita kelelahan luar biasa.


Sepanjang perjalanan dari bandara ke apartment Langit, Gita tertidur di pangkuan suaminya.


"Empi, bangun. Sudah sampai, aku ga kuat gendong kamu sampe lantai 40." Langit memencet hidung Gita, agar gadis itu segera terbangun.


Setengah terpejam dan malas, Gita mengikuti langkah Langit. Saat di dalam lift yang membawa mereka ke lantai 40, Gita kembali menyandarkan tubuhnya ke Langit.


Tanpa ia sadari sikapnya sejak di dalam mobil, memancing sesuatu dari tubuh Langit.


Mata Gita terbuka lebar saat memasuki apartment Langit, "Waah, wanginyaaa. Sudah lama ga ditempati kok masih keliatan bersih dan wangi, Phiu?" Langit meringis mendengar panggilan Gita untuknya. Ia merasa seperti ditembak senapan angin saat istri cerewetnya itu memanggil.


"Ada petugas yang membersihkan secara rutin. Sebelum kesini juga aku sudah kasih kabar untuk dibersihkan," jelas Langit.


"Laper?" tanya Langit. Pandangannya mengikuti gerak Gita yang lincah, dari ruangan satu ke ruangan yang lain.


"Ga, masih kenyang. Ini kamar siapa, Phiu?" tanya Gita di depan kamar yang lebih kecil dari kamar utama.


"Itu kamarku. Kalo yang depan kamar Mama dan Papa, tapi sekarang jadi kamar kita." Langit berjalan mendekati Gita.


Gita mendengar Langit mengatakan kamar kita, membuatnya salah tingkah dan tersipu.


Langit duduk di sofa dan menarik Gita ke atas pangkuannya, "Bau acem." Langit mengendus tengkuk Gita, "Mandi yuk," ajaknya dengan suara sengau.


"Phiu duluan, aku terakhir." Gita berusaha berdiri dari pangkuan Langit, namun tertahan karena suaminya itu semakin melingkarkan lengannya ke pinggang Gita.


"Mandi bareng," bisik Langit.


"Iih apaan, ga mau! maluu tauu." Gita berdiri dan menjauh, tapi Langit menyusulnya dan terus menghimpit dan mengharahkan Gita ke arah kamar mandi.

__ADS_1


"Phiuuu, ahh. Aku ga mauu," rengek Gita saat sudah berada di pintu kamar mandi. Ia berusaha mendorong tubuh Langit, agar bisa ada celah untuknya melarikan diri.


Langit seakan tidak mendengarkan protes dari mulut Gita, ia terus mendorong Gita dengan tubuhnya masuk ke dalam kamar mandi.


Begitu keduanya sudah berada di dalam kamar mandi, Langit langsung menendang pintu dengan kaki dan menguncinya.


"Phiu, aku marah loh," ancam Gita.


"Marah kenapa?" tanya Langit lembut seraya mendesak Gita ke arah wastafel.


"Aku teriak nih," ancam Gita lagi.


Langit tertawa geli, "Teriak panggil siapa? Mama? Bima? Mereka mau kesini kejauhan, sayang."


"Panggil tetangga? paling kalo mereka dateng kamu ga bisa jelasin, bahasa Inggrismu kan masih belepotan." Langit semakin tertawa.


"Ngeseliin!!" Gita mulai mencubit perut Langit, tapi belum sempat tangannya menyentuh perut Langit, suaminya itu sudah mengenggam tangannya.


Perlahan Langit menarik wajahnya, ia tersenyum melihat Gita masih memejamkan mata dengan raut wajah seakan masih menikmati sisa-sisa sentuhan bibir Langit.


Langit kembali mendekatkan wajahnya dan menci*um bibir Gita, kali ini lebih dalam dan menuntut.


Tanpa Gita sadari, kancing kemeja atasnya sudah terbuka. Tangan Langit sudah berada di kancing celana jeansnya, siap untuk membuka.


"Iihhh, aku maluu." Gita kembali menutup kemejanya yang sudah terbuka, dan menepis tangan Langit.


"Mandiii," ucap Langit singkat seraya memaksa membuka pakaian Gita. Nafasnya sudah mulai tidak beraturan.


Saat kemeja dan ce*lana pendek jeans Gita terlepas entah kemana dan yang tertinggal hanyalah pakaian dalam, Langit mulai membuka kausnya dan celana panjangnya hanya menyisakan celana boxer yang menempel.


Gita memalingkan wajahnya saat melihat dada Langit yang polos. Dengan perlahan Langit menggiring istrinya ke bawah shower yang sudah ia atur kehangatannya.

__ADS_1


"Aku mandiin ya," bisik Langit di tengah suara derunya air dari shower.


"Aku bisa mandi sendiri." Gita masih membelakangi suaminya dan menutup dada yang masih terbungkus dengan kedua tangannya.


"Aku sabunin." Langit kembali berbisik di telinga Gita.


Langit mulai mengambil sabun, dan langsung mengusapkannya ke tubuh Gita dengan sangat perlahan.


Saat Langit menyelipkan tangannya di belahan da*da istrinya yang masih terbungkus, Gita terkesiap.


"Kak!" seru Gita. Ia sudah lupa dengan sebutan spesial untuk suaminya.


"Hhmmm?" Langit semakin gencar menyabuni tubuh Gita, lalu mulai membuka kancing pengait penutup da*da Gita.


...❤❤...


follow IG : Ave_aveeii


Ingatkan lagi aahh ..


Love/favorite ❤


Komen bebas asal santun 💭


Like / jempol di setiap bab👍


Bunga 🌹


Kopi ☕


Rating / bintang lima 🌟

__ADS_1


Votenya doong 🥰


__ADS_2