
Langit dan Gita saling berpandangan melihat Mama mereka berdua, tersenyum penuh arti seperti menyembunyikan sesuatu dari mereka.
"Duduk sini," sambut Mama Langit bersemangat. Sedangkan Mama Gita hanya tertawa kecil, seraya menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan temannya.
"Ada apa, tan?" tanya Gita khawatir.
"Kamu ato aku, Sil yang sampaikan ke mereka?" tanya Mama Langit.
"Yang punya ide kan kamu, ya kamulah yang sampaikan," ucap Mama Gita.
"Iiih, ini kemauan kita bersama loh," protes Mama Langit.
"Iyaaa, tapi kamu kan yang punya ide, buruan kasihan mereka capek baru pulang."
"Oke, Langit, Gita dengerin ya," Mama Langit menarik nafas panjang dan memperbaiki posisi duduknya, menghadap dua remaja penasaran yang duduk di hadapannya.
"Kalian mau kami jodohkan, mau ya?!" tembak Mama Gita langsung, karena kesal menunggu sahabatnya lama merangkai kata-kata.
Langit dan Gita kembali berpandangan bingung.
"Dijodohkan gimana maksudnya?" tanya Langit. Meskipun ia mengerti arti kata dijodohkan, namun ia ingin memastikan pendengarannya.
"Iya, dijodohkan, tunangan lalu menikah," sahut Mama Langit sumringah.
"Menikah??" tanya Gita panik. Kedua Mama di hadapannya mengangguk dengan semangat.
"Bukan sekarang juga, Git. Langit kan masih sekolah, begitu Langit lulus nanti langsung nikah aja ya?" cetus Mama Langit.
"Ga mau!"
"Setuju!"
Gita dan Langit menjawab bersamaan tapi dengan jawaban yang berbeda.
__ADS_1
Langit tersentak mendengar jawaban spontan Gita. Kejadian manis dan menyenangkan di dalam mobil tadi, ia pikir dapat mewakili perasaan gadis itu.
Apa ia salah mengartikan dan ternyata perasaanya bertepuk sebelah tangan?
Ia menoleh ke arah samping, melihat raut wajah Gita yang terlihat kesal.
"Aduh, maaf ya sayang, bukan maksud tante tadi maksa kalian berdua, hanya tante dan Mama kamu ada keinginan kalian untuk bersama terus," ucap Mama Langit.
"Gita masih mau sekolah, tante," protes Gita.
"Loh iya, Gita tetep sekolah kok."
"Maksud Tante Laras itu, kalian menikah setelah Langit lulus SMU," jelas Mama.
Senyum Langit terbit mendengar kalimat Mama Gita, seakan harapan baru kembali timbul.
"Kak Langit lulus SMU itu kan bentar lagi, Ma. Ga sampe empat bulan lagi, aku ga mau nikah muda!" Gita merengut kesal.
Ia benar suka dengan Langit, tapi untuk menikah belum terpikirkan sama sekali. Ia masih ingin bebas menikmati masa remajanya dan berkarir setelah itu.
"Gita, Mama paham kamu masih pingin menikmati masa muda, tapi ... kejadian kamu hampir terjerumus masalah kemarin membuat hati Mama ga tenang setiap hari."
"Lalu apa hubungannya dengan nikah, Ma??"
"Setidaknya Langit bisa jaga dan bertanggung jawab semuanya tentang kamu. Mama Langit yang menjelaskan dengan sabar.
"Apa bedanya sama sekarang? Kak Langit masih bisa kok jagain aku. Ya kan, Kak?" Pandangan Gita beralih pada pria yang duduk di sampingnya.
Langit hanya mengangkat kedua bahunya tak acuh. Ada terbersit rasa kecewa dalam hati Langit, saat ada penolakan dari gadis yang dicintainya.
"Iih kok gitu, bantuin kek," sergah Gita kesal karena Langit seakan tidak peduli.
"Beda. Kalo terjadi apa-apa sama kamu, Langit tidak punya hak penuh untuk melindungi kamu," ucap Mama Gita bersikukuh.
__ADS_1
"Tapi kan ga harus nikah cepat juga, Maaa."
"Nikahnya setelah Langit lulus SMU, bukan sekarang."
"Iiih, itu sama ajaaa. Aku ga mau nikah muda, Ma. Aku mau nikah setelah kerja mapan, di atas umur 28tahun gitu." Langit menoleh cepat ke arah Gita, saat gadis itu mengatakan ingin menikah di usia matang. Jika Gita matang, lalu dia apa?
"Kalo Gitanya ga mau nikah sama saya, jangan dipaksa, tante," ucap Langit. Nada kecewa dalam suaranya tidak bisa ia tutupi. Mamanya memandang ke arahnya dengan tatapan menghibur.
"Ya udah ga apa-apa, terserah Gita aja ya, kan yang jalanin Gita juga. Tante ga mau kalo nanti dipaksa jadi ga bahagia, kan?" ucap Mama Langit pelan.
Gita menggigit bibirnya, ada rasa tidak nyaman dengan kalimat yang diutarakan oleh Langit dan Mamanya.
"Kami pulang dulu ya, Jeng. Keasyikan ngobrol sampe sudah sore aja," pamit Mama Langit.
"Saya pulang dulu, Tan," pamit Langit pada Mama Gita.
"Aku pulang dulu ya," ucap Langit pada Gita datar.
Sampai di rumah, Mama Langit menghampiri putranya yang duduk di teras sembari memetik gitar klasiknya.
"Sedih betul lagunya, kayak orang lagi patah hati," goda Mamanya.
"Apaan sih, Ma." Langit tertawa pelan.
"Kamu tadi kecewa ya?"
"Emang keliatan banget ya?" tanya Langit balik.
"Lumayan."
"Aku ngerti kok, Ma. Empi ga mau menikah di usia remaja, dia mau berkarir dulu."
"Kamu mau nunggu?"
__ADS_1
"Mungkin," ucap Langit kurang yakin, setelah menerawang beberapa saat.
...❤❤...