
Hari ini Langit ingin memberikan batasan untuk Gaby. Jika selama ini ia mejaga sikapnya karena menghormati Om Wahyu, tapi tidak mulai hari ini karena setelah kejadian semalam ia melihat dampaknya pada Gita.
Langit mengirim pesan pada Gaby, jika ia tidak bisa menjemput sekolah pagi ini. Setelah yakin pesan terkirim dan terbaca, tanpa menunggu balasan pesan dari Gaby, ia langsung melesat pergi ke rumah Gita sebelum gadis itu memesan ojek online.
"Lang, jangan lupa kalau sudah sampai di kantor kamu harus sampaikan baik-baik sama Om Wahyu ya." Mama mengingatkan permintaan Om Wahyu, perihal tunangan antara dirinya dan Gaby.
"Begitu-begitu, beliau sudah kayak saudara sama kita."
"Iyaa, Mama tenang aja. Yang penting, Mama dukung keputusanku kan?"
"Iya, kamu sudah dewasa, apapun keputusanmu Mama percaya kamu bertanggungjawab."
"Aku berangkat dulu ya," Langit mencium tangan Mamanya, lalu mengambil kunci mobil yang ada di atas meja hias
"Tumben ga naik motor."
"Mau jemput calon mantu Mama, kalo naik motor kasihan kepanasan. Daaa Mamaa ...." Langit langsung melesat keluar rumah.
Sebenarnya ia sedikit malu bertingkah norak macam itu, tapi entah mengapa hatinya sangat bahagia dan perasaannya semakin yakin pada Gita setelah terbuka dengan Mamanya.
Sekarang tinggal berusaha merebut perhatian Gita dari Teddy, dan meyakinkan pada gadis itu bahwa ia ada perasaan lebih dari sekedar teman.
Satu lagi tantangan bagi Langit, zona kedekatan mereka selama ini lebih dari sekedar sahabat tapi sudah seperti layaknya saudara kandung.
"Git, itu kamu dijemput Langit kayaknya." Mama mengintip dari jendela, saat mendengar suara mobil berhenti di depan rumah mereka.
"Masak sih?" Gita yang sedang sarapan, berlari mendekati Mamanya ikut mengintip dari balik jendela.
"Kamu ngapain ikut ngintip? bukain pintu kek," tegur Mamanya, saat melihat Gita di bersembunyi balik punggungnya.
"Mama ajaaa," Gita berlari ke ruang makan lalu minum segelas air dengan cepat, dan langsung menyambar tas sekolahnya.
"Ga dihabiskan dulu makannya?" tanya Mamanya heran.
"Dah kenyang." Gita buru-buru pergi ke ruang tamu menemui Langit.
"Sudah selesai? kata Mamamu tadi kamu masih makan?" tanya Langit heran. Baru saja ia dipersilahkan duduk sama Mamanya Gita, sekarang bocah itu sudah ada dihadapannya sembari mengusap bibirnya yang masih tersisa bekas makanan.
"Udah," jawab Gita singkat.
"Ya udah, pamit sama Mama dulu."
"Udah," sahut Gita lagi.
"Eh?" Langit mengernyit heran melihat Gita yang penuh dengan semangat, "Ya udah. Tan, kami jalan dulu," pamit Langit, saat Mama Gita muncul dari ruang makan.
"Ya hati-hati." Mama Gita pun sedikit mengerutkan kening, melihat tingkah putrinya pagi ini yang terlihat tidak seperti biasanya.
__ADS_1
"Ga jemput Gaby?" tanya Gita, saat baru menyadari arah tujuan mereka sudah mendekati sekolah.
"Ga," sahut Langit singkat.
"Ow."
"Semalam Mama masih marah?"
"Ga. Makasih Kak Langit sudah bantu jelasin sama Mama. Tadi malem tuh aku takut banget sampe ga bisa ngomong apa-apa, tapi aku sekarang jadi takut ke sekolah. Gaby kok bisa tau ya, dia kan masih baru."
"Kamu kan ga ngapa-ngapain juga, ngapain harus takut? Makanya lain kali, kalo ada apa-apa cerita. Jangan sok bisa aja." Langit menyentil kening Gita.
Sementara itu Gaby yang tadi pagi menerima pesan dari Langit tidak bisa menjemputnya, terlihat kesal sekali saat berada di dalam mobil bersama Papanya.
"Kenapa sih, Gab? Pagi-pagi kok merengut aja mukanya," tegur Om Wahyu.
"Males sekolah! Kak Langit ga bisa jemput."
"Lah, ini Papa kan bisa anter kamu sekolah," sahut Om Wahyu.
Gaby tidak menjawab hatinya masih merasa kesal, karena semalam Langit meninggalkannya untuk menyusul Gita. Sampai menjelang ia dan keluarga pulang, Langit masih belum kembali.
Pesan basa basi menanyakan sudah tidur atau belum yang ia kirim semalam, juga tidak ada balasan. Malah yang ia terima berita pagi ini, Langit tidak bisa menjemputnya seperti biasa.
Saat mobil Papanya merapat di depan gerbang, ia melihat Langit dan Gita baru saja turun dari mobil dan berjalan beriringan.
"Ya memangnya kenapa? apa yang salah?"
"Papa tu ga paham!" Gaby segera turun dari mobil tanpa berpamitan dan membanting pintu mobil.
Langkahnya ia percepat menyusul Langit dan Gita yang sudah terlebih dahulu masuk ke dalam area sekolah.
"Kak Langit!" panggilnya. Langit tahu suara siapa yang memanggilnya, ia berhenti tapi tidak menoleh.
"Gaby," bisik Gita.
"Kok ga jemput aku sih?" tanya Gaby manja. Matanya melirik-lirik sinis ke arah Gita.
"Apa harus? ... Jangan bilang lagi kalo aku pacarmu dan aku berkewajiban antar jemput kamu," potong Langit saat melihat Gaby akan merajuk kembali.
"Aku semata-mata antar jemput kamu dan nemenin kemana kamu pergi hanya karena permintaan Om Wahyu, Papa kamu. Bukan karena hal lain." Langit mengutarakan semua isi hatinya. Ia memanfaatkan moment saat Gita ada di sisinya, agar gadis itu tahu kejadian yang sebenarnya.
"Siang nanti aku ke kantor. Aku bawa mobil, kalo kamu mau bareng kita, jangan lama-lama nanti keluar kelasnya," tambah Langit, setelah selesai bicara ia langsung berjalan pergi dengan menggandeng Gita.
Saat jam pelajaran berakhir, Langit sengaja menunggu Gita di depan kelasnya.
"Ciieee, ciiee ada yang ditungguin tuh," ledek Anggita, seraya memberi kode pada Nindy untuk ikut meledek Gita.
__ADS_1
"Dah jadian, Git?" tanya Nindy.
"Ngawur! awas ya kalo kalian sampe bocor." Gita mencubit kedua temannya, lalu langsung keluar kelas menemui Langit seraya mengulum senyum.
"Kak, ... Gaby," bisik Gita saat melihat Gaby berdiri di sisi mobil Langit.
"Biar aja."
Langit menekan kunci remote mobil, begitu terbuka Gaby langsung membuka pintu depan penumpang, dan langsung duduk di sana.
"Aku duduk di belakang," sahut Gita cepat, saat melihat Langit yang akan kembali marah. Tanpa berbicara apapun, keduanya masuk ke dalam mobil.
Mereka bertiga hanya diam sepanjang perjalanan. Hanya sesekali Gaby melirik ke arah Langit, seperti ingin mengatakan sesuatu lalu mendesah dan kembali terdiam.
Sampai di dalam ruangan kerja Langit, mereka bertiga masih tidak ada yang bersuara satupun.
"Permisi Om, lagi sibuk?" Kepala Langit menyembul di sela pintu ruangan Om Wahyu.
"Biasa aja, Lang. Masuk, ada apa?" Om Wahyu membuka kacamatanya lalu menyenderkan tubuh di kursinya, siap mendengarkan putra dari almarhum bosnya.
"Sebelumnya maaf, kemarin saya tinggal pergi gitu aja. Saya sampai rumah, Om sama Tante sudah pulang."
"Ga apa-apa, memang darurat kan?"
"Soal ... permintaan Om saya bertunangan dengan Gaby ...."
...❤❤...
Ingatkan lagi aahh ..
Love/favorite ❤
Komen bebas asal santun 💭
Like / jempol di setiap bab👍
Bunga 🌹
Kopi ☕
Rating / bintang lima 🌟
Votenya doong 🥰
Mampir ke karya tamat aku ya
__ADS_1