
Gita menutup mulutnya dengan sebelah tangan menahan sesuatu yang bergejolak itu, jangan sampai keluar saat ia masih di dalam kelas.
Kurang dua soal lagi Gita, kamu pasti bisa.
Telapak tangannya yang licin sudah susah memegang alat tulis karena terus mengeluarkan keringat. Begitu semua soal sudah terisi tanpa memeriksa ulang, Gita langsung mengumpulkan lembar jawaban di atas meja guru, lalu langsung berlari ke kamar mandi.
Hooeek ... hooeeek
Gita terduduk lemas di atas kloset sesudah mengeluarkan semua isi dalam perutnya. Mungkin bisa dibilang hanya air yang keluar, karena sejak semalam perutnya lebih banyak mengeluarkan dari pada diisi.
Setelah dirasa kuat berdiri, Gita keluar dari bilik kamar mandi. Ia terkejut saat melihat Melinda dan dua orang temannya, bersandar di dekat wastafel seperti akan menunggu seseorang.
"Permisi," ucapnya lirih. Gita membasuh tangan dan wajahnya di bawah tatapan tiga wanita di belakangnya.
"Hamil atau sakit?" tanya Melinda sinis.
"Kalo dari suara muntahnya sih kayaknya hamil," sahut salah satu teman Melinda.
"Emang beda suara muntahnya?" Teman yang lain menanggapi seraya tertawa.
"Bedalah apagi kalo hamilnya anak haram," celetuk Melinda sinis lalu ditanggapi suara terbahak dari dua kawannya.
"Jangan kurang ajar!" seru Gita. Ia memandang kesal pada Melinda dan dua orang temannya itu dari balik cermin wastafel.
"Loh, kenapa marah? kita kan ga lagi ngomongin kamu. Yaaah, kalo lagi sakit semoga cepat sembuh," ucap Melinda seraya melingkarkan tangannya pada pundak Gita.
"Lepas!" Gita menggerakan kedua bahunya agar lengan Melinda tak lagi bertengger di atas pundaknya.
"Kamu kok jadi sensitif gini sih? Ga lagi hamil kan?" tanya Melinda dengan nada mengejek.
"Bukan urusanmu!" Gita berjalan ke arah pintu keluar kamar mandi, tapi salah satu teman Melinda sudah berdiri menghadangnya di sana.
"Buru-buru amat, Git?" Teman Melinda yang bersandar di ambang pintu tertawa pelan.
"Minggir!" Gita mendorong tubuh gadis itu dan langsung berlari keluar.
__ADS_1
"Jangan lari-lari Git, nanti keguguraaan lohh!" Melinda berteriak lantang. Suara tawa mereka bertiga masih terdengar keras di lorong kelas.
"Kamu kenapa, Git?" tanya Anggita khawatir.
Ujian telah berakhir, hampir separuh teman kelasnya sudah pulang masih ada beberapa yang masih tertinggal termasuk Anggita yang menunggunya kembali ke dalam kelas.
"Aku ga pa-pa. Aku balik dulu ya." Gita menyambar tasnya dan langsung berjalan ke luar sekolah.
Dalam perjalanan pulang, Gita memutuskan berhenti sebentar di apotik untuk membeli alat test kehamilan. Ia berusaha menahan malu, karena tatapan petugas apotik seakan mengulitinya.
Seorang anak remaja masih berpakaian sekolah lengkap membeli alat test kehamilan, entah apa yang ada di pikiran petugas itu.
Begitu sampai di dalam apartment, Gita menimbang-nimbang dua alat test kehamilan dengan merk yang berbeda.
Sebelumnya tidak ada pikiran terlintas jika ia mengandung, tapi gara-gara ejekan Melinda dan kawannya membuatnya semakin resah.
Walaupun di sudut hatinya, Gita merasa yakin jika mereka berdua berhubungan intim dengan sangat aman. Langit selalu memakai pelindung, tapi entah mengapa ia masih merasa khawatir.
Gita mulai membuka salah satu pembungkus alat test kehamilan berwarna biru. Ia membaca petunjuknya dengan seksama, lalu beranjak masuk ke dalam kamar mandi.
Jantung Gita berdegub kencang melihat kertas test semakin diresapi air. Perlahan namun pasti ada yang berubah dari alat test kehamilan itu.
...❤❤...
follow IG : Ave_aveeii
Ingatkan lagi aahh ..
Love/favorite ❤
Komen bebas asal santun 💭
Like / jempol di setiap bab👍
Bunga 🌹
__ADS_1
Kopi ☕
Rating / bintang lima 🌟
Votenya doong 🥰
...❤...
Mampir ke karya teman sesama author yuuk. Ramaikan di sana ya
Masa Lalu Sang Presdir (21+)
Blurb :
Ameera bimbang dengan keadaan dirinya yang dirasa apa pantas seorang Ameera dengan status yang di sandang dirinya menerima cinta yang diungkapkan Richard barusan?
"Ameera sayang, kenapa diam? hatiku bergejolak ingin mendengar jawaban darimu, katakan! apapun itu aku siap menerimanya."
"Rich, a-aku juga sa-sama ... tapi."
"Ameera jangan ada kata tapinya, sudah cukup, aku mengerti, aku melihat tatapan mu ada cinta untukku di sana."
"Richard ...."
"Ssssssssst ... aku telah mengerti, kita satu hati sama saling punya rasa." Richard menghampiri Ameera yang duduk di hadapannya di sofa ruang tamu Vila Melati keluarga Haji Marzuki.
Richard meraih kedua tangan putih lembut Ameera dan menciumnya, Ameera merasa malu menariknya perlahan.
"Maafkan aku Ameera, aku tidak bisa mengungkapkan kata-kata dan kata hati yang lebih bagus lagi seperti orang lain, juga aku tidak romantis ya? ungkapkan cinta sembarang waktu pada saat jam kerja dan juga tempat yang tidak dirancang dengan istimewa, aku tidak membawa kamu ke tempat yang lebih romantis lagi. Tetapi tidak mengurangi rasa yang kuberikan padamu aku mencintaimu Ameera!"
Ameera mengangguk mantap.
Anggukan Ameera melebihi ribuan kata dan rangkaian puisi yang begitu bermakna bagi Richard, mengerti isi hatinya itu yang terpenting, Ameera telah menerimanya hanya dengan satu anggukan kepala dan senyum yang sangat menawan hati Richard, sanggup mengalahkan sejuta kata-kata penerimaan lainnya.
__ADS_1