
Gita menatap Langit yang sedang berganti pakaian dari cermin. Pagi ini ia sedikit kesal, karena Langit untuk kesekian kalinya menunda untuk mengajaknya keluar mencari oleh-oleh. Sekali lagi ia akan terkurung dalam apartment seorang diri.
"Beneran ga bisa pulang lebih cepat?" Gita memandang suaminya penuh harap.
Langit menghentikan gerakan tangannya yang memasang dasi, dipandangnya istrinya yang terlihat kecewa, "Maaf sayang, hari ini ada tamu. Aku ga bisa ninggalin mereka gitu aja. Kita kan masih ada dua hari di sini, masih sempet kok beli oleh-oleh," hibur Langit.
"Kemarin-kemarin juga bilangnya gitu, kalo di sini ada ojol ga nungguin situ." Gita menggerutu pelan tapi masih bisa terdengar oleh Langit.
"Ngomongnya kok gitu. Jangan kebiasaan panggil 'situ' ke suami. Ga enak di denger orang."
Gita mendengus kesal lalu berdiri dan meninggalkan Langit yang masih sibuk dengan dasinya.
"Bantuin dong." Langit menyusul Gita di dapur, lalu menyerahkan dasinya yang gagal di pasang.
"Aku ga bisa," tolak Gita.
"Lihat di yutub."
Gita mengikuti saran Langit, membuka yutub lalu mencari cara memasangkan dasi di halaman pencarian.
Sementara Gita melirik antara ponsel dan dasi suaminya, Langit memandangi wajah istrinya. Ia menyadari selama di negara asing ini, situasinya tidak sesuai dengan bayangannya.
Inginnya kerja sebentar lalu menikmati bulan madu berdua istri, tapi kenyataannya terbalik. Tanggung jawab di kantor, memaksanya untuk totalitas sebagai pimpinan. Sang istrilah yang menjadi korban. Sejak sampai di negara ini, Gita baru keluar apartment hanya satu kali, itupun ke minimarket yang tak jauh dari gedung apartment mereka.
"Empi, aku janji sebelum sore sudah kembali." Langit mengusap kedua pipi Gita.
"Ga usah janji kalo ga bisa tepati."
"Aku usahakan," ralat Langit, "Oke, aku berangkat dulu ya," Langit mengecup kening, kedua pipi Gita dan berakhir di bibirnya.
...❤...
Menjelang sore, Gita sudah rapi dengan baju jalannya. Meskipun Langit meralat ucapannya dari janji menjadi diusahakan, tak ayal Gita tetap berharap suaminya muncul di pintu sebelum gelap.
Saat sinar matahari sudah hampir menghilang, Gita duduk meringkuk di atas sofa, memandangi layar televisi yang menampilkan acara variety show.
Suara tawa dari televisi sama sekali tidak memancing senyumannya. Ia benar-benar dalam tahap merasa kecewa dan jenuh.
Bunyi deringan bel pintu membuatnya terlonjak dan berlari cepat, harapannya kembali muncul.
"Kamu?" Gita kecewa bercampur kesal saat melihat Gaby dan seorang temannya yang datang.
"Haai, Gita, lagi mau jalan?" sapa Gaby ceria.
"Ga jadi," ucap Gita seraya mengawasi teman Gaby yang menjulang tinggi.
__ADS_1
"Oww, Kak Langit masih kerja ya, kasihaaan," ujar Gaby dengan raut wajah seolah simpati, "Kenalkan dulu ini temanku, Bryan." Gaby memberi kode pada pria bule itu untuk memberikan salam pada Gita.
(Selanjutnya semua percakapan warga negara luar, ditulisnya pakai bahasa Indonesia ya. Anggap aja mereka cas cis cus Inggris)
"Hai, Gita," sapa Bryan dengan senyuman ramah.
"Hai juga Bryan," sahut Gita canggung.
"Kamu ikut kita aja yuk, dari pada bengong di apartement sendirian aja," ajak Gaby.
"Kemana?"
"Ngumpul aja sama temen yang lain. Tadinya aku kesini mau ajakin kamu sama Kak Langit, couple gitu tapi Kak Langitnya ga ada ya udah kamu aja yuk."
"Tapi ntar Kak Langit pulang aku ga ada di apartment gimana."
"Kabarin dong, kalo perlu aku anterin ke kantor Kak Langit. Deket kok."
"Kamu tau kantor Kak Langit di sini?"
"Tau lah, Bapakku kan dulu pegang kantor itu, gimana sih kamu," Gaby tertawa pelan.
Sejenak Gita ragu, tapi melihat senyum tulus Gaby dan Bryan serta mengingat kebosanan selama hampir seminggu ditinggal sendirian, akhirnya Gita menerima ajakan Gaby.
"Aku telpon Kak Langit dulu ya." Gita mengambil ponselnya lalu mencoba menghubungi suaminya. Namun semua panggilannya tidak dijawab Langit.
Gita mengikuti saran Gaby, ia mengirim pesan ke ponsel Langit, 'Phiu aku jalan ya sama Gaby, bosen nunggu sendirian di apartment. Kamu bawa kunci apartment kan? kalo sempet katanya aku mau dianter ke kantornya Phiu.'
"Siap?" tanya Gaby. Gita mengangguk semangat setelah pesan yang dikirimkannya terkirim walaupun belum terbaca.
...❤...
Selesai rapat yang panjang Langit masuk ke dalam ruangannya, lalu mengambil ponselnya yang tertinggal di atas meja.
Keningnya berkerut saat melihat pesan masuk dari istrinya. Ia mendesah kesal saat melihat ada sepuluh lebih panggilan masuk dari Gita yang tidak bisa ia jawab saat rapat tadi.
Langit berkali-kali menghubungi ponsel Gita, namun istri kecilnya itu tidak menjawabnya. Langit membuka aplikasi pelacak yang ia pasang di ponsel Gita sebelumnya. Begitu menemukan titiknya, secepat kilat ia langsung menuju kesana.
Gaby membawa Gita ke apartment mewah milik temannya. Teman Gaby terdiri dari berbagai warga negara dari yang berkulit hitam hingga putih.
"Gab, aku ga fasih bahasa Inggris," bisik Gita panik.
"Ga apa, mereka juga ga pinter-pinter amat kok. Kalo susah buka aja gugel translate atau bahasa isyarat, repot amat," ujar Gaby seraya duduk di antara teman-teman prianya.
"Sini, Git," panggil Gaby, "Ini pengantin baru nih, namanya Gita." Gaby memperkenalkan Gita pada teman-temannya.
__ADS_1
"Pengantin baru? masih baru 'belajar' atau sudah ahli?" tanya salah seorang pria bertato pada Gaby dengan disertai bahasa isyarat tangan.
"Sepertinya sih sudah ahli, lagaknya aja sok polos." Gaby tertawa keras. Gita yang kurang memahami percakapan mereka hanya ikut tertawa namun canggung.
"Minum?" Pria bertato menyodorkan gelas berukuran kecil dengan cairan kuning terang di dalamnya.
Gita menggeleng dan berulang kali mengucapkan kata penolakan dalam bahasa Inggris sebisanya.
"Ga apa itu minuman biasa kok, hormati yang punya acara." Gaby meyakinkan.
Gita menerima gelas itu lalu meneguknya sedikit. Rasa terbakar langsung terasa di pangkal lidah dan tenggorokannya. Namun anehnya terasa candu untuk diteguk sedikit lagi.
"Suka?" tanya pria bertato itu sambil duduk di samping Gita, "Dave," tangan pria itu terulur. Gita menyambutnya dan memberikan senyuman kecil.
...❤❤...
follow IG : Ave_aveeii
Ingatkan lagi aahh ..
Love/favorite ❤
Komen bebas asal santun 💭
Like / jempol di setiap bab👍
Bunga 🌹
Kopi ☕
Rating / bintang lima 🌟
Votenya doong 🥰
...❤...
Rekomendasi karya teman, silahkan mampir
Wil, bocah SMP kelas 9, harus berpetualang menemukan siapa bapak kandungnya, agar nama yang tertulis di ijasah betul-betul tidak salah. Selama ini nama bapak kandung di ijasah SD dan beberapa surat penting lainnya tidak sama.
Perjuangannya begitu berat, petunjuk yang ia punya hanya tiga lembar KK. Tak ada tempat bertanya, karena satu-satunya orang terdekat yang ia punya, yaitu ibunya, sudah meninggal.
Petualangan Wil dimulai berdasarkan alamat pada lembar KK, dan tanpa diduga, Wil mengalami hal-hal dahsyat yang begitu luar biasa.
Akankah Wil berhasil menemukan bapak kandungnya?
__ADS_1