Ternyata Itu Cinta

Ternyata Itu Cinta
Jerat semakin ditebar


__ADS_3

"Terserah kamu aja, Git. Aku cuman kasih jalan yang terbaik untukmu," ucap Teddy, sambil tersenyum lembut.


"Aku ga ngerti maksudnya, Kak," bisik Gita seraya melirik Om Bagas, yang sedang menatapnya lurus seakan menilai tampilannya.


"Hehehe ... maklum Om, Gita ini masih 'bersih' jadi pelan-pelan aja ya," ucap Teddy seraya memberi kode dengan tangannya saat mengatakan kata bersih.


"Oww, bagus itu, Ted. Saya suka hahahahaa ...." Om Bagas tertawa lebar dengan puas.


"Gita lagi kepingin beli apa, sayang?" tanya Om Bagas pelan, tubuhnya bergerak maju lebih mendekat pada Gita.


"Ehmm, apa ya. Belum ada kepingin apa-apa sih," ucap Gita menyengir salah tingkah.


"Katanya kamu suka baju-baju seperti punya Anggita?" tanya Teddy, ia mengarahkan kepalanya pada Anggita yang bergelayut manja pada 'pasangannya.'


"Eh, iya sih tapi ...." Gita mengernyit melihat Anggita yang terlihat sangat berbeda, jika saat berada di sekolah.


"Bilang aja sama Daddy, mau baju yang seperti apa. Mungkin Gita juga mau sepatu?, tas?, atau handphone baru?" tawar Om Bagas dengan mata berbinar, serta mengangkat-angkat kedua alisnya.


Gita kembali mengkerutkan kening mendengar tawaran yang diberikan pria paruh baya dihadapannya itu.


Semudah itukah?, sedangkan mereka baru saja bertemu, belum ada lima belas menit yang lalu.


"Iya, Git. Om Bagas ini kaya loh, kamu bisa bebas minta apa saja sama Daddy kamu ini." Teddy berusaha meyakinkannya terus.


"Gita mau belanja sekarang?, ayuk kita jalan ke mall." Om Bagas dengan tidak sabar sudah hendak berdiri dari duduknya.


Gita menggeleng dan melirik Teddy untuk meminta dukungan.


"Jangan sekarang, Om. Gita ada jam malamnya."


"Kalau begitu besok Om jemput pulang sekolah, kita belanja mau?"


Gita kembali melirik Teddy meminta bantuan untuk menjawab.


"Besok saya aja yang anter, Om." Teddy menengahi.


"Okelah, besok ya jangan lupa. Daddy sudah ga sabar mau belikan kamu banyak hadiah."


"Tuh, denger Git, kamu mau apa aja tinggal bilang." Teddy menyenggol lengan Gita yang masih melongo heran, dengan janji temu besok yang begitu cepat disepakati.


"Saya ke sana dulu ya, banyak yang lagi nungguin saya. Sampai jumpa besok gadis cantiknya daddy." Om Bagas melambaikan tangannya pada Gita, yang sebelumnya ia gunakan untuk mencubit pipi Gita.


Gita teringat dengan aplikasi online shop yang sudah dihapus oleh Langit, padahal aplikasi-aplikasi itu seperti layaknya Mall baginya.

__ADS_1


Semua serba ada di sana, ia tinggal klik apa yang diinginkannya lalu duduk manis, barang akan di antar sampai ke rumah.


Sekarang ia tidak lagi bebas belanja ataupun cuci mata secara online, karena untuk jalan ke Mall sendiri ia harus melewati barikade wawancara dengan Mama.


Ia jadi tergiur dengan penawaran Om Bagas dan ingin membuktikan, apakah Ayah pengganti bisa seloyal seperti yang diceritakan oleh Teddy.


"Eh, Kak serius Om itu mau belikan banyak barang yang aku mau?"


"Kan sudah aku bilang tadi, Ayah pengganti itu kalo sudah sayang, apapun yang kamu minta pasti dikasih."


"Tapi kan baru kenal. Eh, tapi nyeremin, ih Om tadi kalo ngeliatin." Gita bergidik saat mengingat tatapan Om Bagas.


"Perasaanmu aja itu. Oh, ya Git ingat pesanku tadi. Hal ini jangan sekali-kali kamu ceritakan sama Mama kamu, Langit atau temanmu yang lainnya." Teddy memutar duduknya menghadap Gita, dan memberikan tatapan serius pada gadis itu.


"Kenapa ga boleh cerita, Kak? bukannya bagus ya kalo ada orang lain yang baik sama kita, otomatis keluarga juga pasti senang."


"Untuk hal ini lain, coba kamu pikir kalo Mamamu tahu, kamu punya Ayah pengganti, bisa jadi Mama kamu sedih karena kamu dikira sudah melupakan Papa kamu sendiri."


"Belum lagi kamu nanti dapat barang-barang bagus, yang ada Mama kamu tersinggung dikira ga bisa belikan kamu."


"Kalo Langit, kamu taulah dia ga suka sama aku. Dia tuh cemburu kamu yang cantik ini, sekarang dekat sama aku." Teddy kembali melingkarkan tangannya ke bahu Gita, kali ini ia lebih mengeratkan rengkuhannya.


"Untuk teman-temanmu yang lain, jangan sampai tahu juga. Coba bayangkan jika cewek-cewek di sekolah pada tau, waahhh mereka bisa kerubutin aku minta dikenalkan daddy juga seperti kamu. Mau cari di mana coba? Justru karena aku peduli dan sayang sama kamu, aku kasih kamu kesempatan lebih dulu," bisik Teddy, ia bergerak semakin dekat pada wajah Gita.


Nit ... Not ... Nit ... Not. Ponsel Gita bergetar, nampak nama Langit di layar ponselnya.


"Good girl," ucap Teddy seraya menyelipkan anak rambut Gita ke balik telinganya.


Nit ... Not ... Nit ... Not. Saat Teddy kembali mendekatkan wajahnya pada Gita, ponselnya kembali berdering. Kali ini nama Mama yang muncul di ponsel Gita.


"Aku harus jawab ini, Kak. Gak berani aku nolak panggilan Mama," ucap Gita pelan, ia takut Teddy akan marah padanya.


"Ya udah cepat angkat." Teddy melengos kesal, lalu mengusap wajahnya dengan kasar.


"Halo, Ma?"


"Kamu di mana?!"


"Di rumah Nin-Nindy, Ma."


"Jangan bohong kamu!, Nindy bilang tidak ada kerja kelompok di rumahnya, dan tidak ada tugas kelompok yang harus diselesaikan. Sekarang pulang!!" Suara Mama terdengar menggelegar di seberang sana.


"Ma-Mama aku marah, Kak. Aku pulang sekarang ya." Tangan Gita bergetar saat mematikan ponsel dan mengambil tasnya. Ia tidak pernah mendengar Mamanya marah seperti itu.

__ADS_1


"Ya udah, kamu bisa pulang sendiri?"


"Ha?!, aku pu-pulang sendiri?"


"Iya, bisa kan naik taxi online. Maaf sayang, aku masih ada beberapa urusan di sini." Teddy memandangnya seolah menyesal.


"Ta-tapi ...."


"Jangan khawatir, nanti aku temani sampai kamu naik taxi online, yuk!" Teddy menggamit tangan Gita, dan menariknya ke arah pintu keluar.


"Sudah pesan?" tanya Teddy setelah mereka berada di luar gedung.


Gita hanya mengangguk, terpekur menatap layar ponselnya yang menampilkan jalur aplikasi taxi online pesanannya. Ada rasa kecewa di hatinya, karena Teddy membiarkannya pulang sendiri.


"Maaf ya sayang, aku sebenarnya pingin banget anter kamu pulang, berduaan di motor tapi aku ada urusan yang ga bisa ditinggal." Teddy menangkup pipi Gita, mencoba merayu gadis itu.


"Ya, ga apa-apa. Aku pulang dulu ya, Kak." Gita mengangguk pelan, dan berjalan ke arah taxi online yang menjemputnya tanpa menatap ke arah Teddy.


Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, Gita berpikir keras apa alasan yang akan disampaikan ke Mama karena sudah ketahuan berbohong.


Belum lagi kepulangannya malam ini, Teddy tidak ikut mengantarkannya sampai rumah.


Tapi kenapa aku tidak bisa membencinya, Gita membatin sedih dalam hati.


...❤❤...


follow ig : ave_aveeii


Ingatkan lagi aahh ..


Love/favorite ❤


Komen bebas asal santun 💭


Like / jempol 👍


Bunga 🌹


Kopi ☕


Rating / bintang lima 🌟


Votenya doong 🥰

__ADS_1


Kenalkan ya karya teman aku, ramaikan di sana yuk



__ADS_2