Ternyata Itu Cinta

Ternyata Itu Cinta
jangan sebut dia pela*cur


__ADS_3

"Mpi, ikut aku dulu yuk ke apartment Gaby."


Saat pulang sekolah seperti biasa Langit tidak pernah membiarkan Gita pulang sendiri. Sesibuk apapun, ia sempatkan untuk selalu mengantar Gita pulang ke rumah. Kalau perlu ia menyelesaikan pekerjaan atau urusannya dengan membawa Gita kemanapun dia pergi.


"Ngapain?"


"Lagi sakit dia," sahut Langit seraya menyalakan mesin mobilnya. Ia baru sadar gadis pengganggu itu sudah dua hari ini tidak ikut pulang bersama mereka.


"Terus?"


"Ya, kita jenguk."


"Harus??" nada suara Gita mulai terdengar kesal.


"Aku pergi sendiri nih?" tanya Langit menggodanya. Gita tidak menjawab ia mendekapkan kedua lengannya di dada dan membuang pandangannya ke arah luar jendela.


Sebelum sampai ke apartment keluarga Gaby, Langit memberhentikan mobilnya di sebuah depot yang menjual bubur ayam.


Langit turun untuk memesan, sedangkan Gita menunggu di dalam mobil dengan wajah terlipat.


"Perhatian bener," sungut Gita saat Langit masuk ke dalam mobil dengan sebungkus bubur ayam. Langit berusaha tetap diam dan cukup tersenyum menanggapi celetukan sinis kekasihnya.


"Terima kasih sudah datang, Lang. Gaby lagi tidur di kamar, panasnya masih belum turun," papar Mama Gaby.


"Saya cuman mau antar ini, Tan. Gaby pesan bubur ayam katanya." Langit menyodorkan bubur ayam yang tadi ia beli.


"Tolong kamu antar sendiri ke atas ya. Gaby dari tadi belum mau makan, dia nungguin kamu datang katanya."


"Baiklah, kami naik dulu ya, Tan." Langit mengajak Gita ke kamar Gaby yang terletak di lantai dua.


"Kak Langit." Wajah Gaby yang semula pucat sedikit merona saat melihat pria yang ditunggunya muncul dari balik pintu.


"Masih sakit?" tanya Langit.


"Udah enakan," sahut Gaby seraya bangkit dari tidurnya, lalu menyenderkan tubuhnya di sandaran ranjang.


"Hai, Gab," sapa Gita. Wajah Gaby mendadak suram, melihat saingannya muncul dari balik tubuh Langit.


"Ini pesananmu, makan ya." Langit meletakan kantung yang berisi bubur ayam di atas nakas.

__ADS_1


"Boleh minta ... bantu makan ga?" tanya Gaby pelan.


"Maksudnya?"


"Suap," ucap Gaby malu-malu.


"Sori, kamu makan sen---"


"Pleaseeee." Mata Gaby berkaca menatap Langit memohon.


Langit menarik nafas panjang lalu melirik Gita seakan meminta ijin. Gita hanya diam tidak memberikan reaksi apapun, ia membalas tatapan Langit dengan wajah datar.


"Sebentar aja ya," putus Langit. Ia berharap Gita mengerti kondisi dan situasinya. Gadis itu ada di sisinya sekarang, dan melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa apa yang ia lakukan tidak berlebihan.


Gaby tersenyum puas saat Langit duduk di sisi pembaringan, dan mulai membuka pembungkus bubur ayam. Ia sengaja hanya membuka mulutnya sedikit agar bubur ayam lama habis, dan Langit bisa berlama-lama menyuapnya.


"Kak Langit jadi ke Inggris setelah lulus nanti?" tanya Gaby.


Gita memandang penuh tanya pada Langit, mengapa ia bisa tidak tahu soal rencana pacarnya sendiri setelah lulus?


"Eemm ... masih rencana." Langit menjawab setengah tersendat.


"Aku ikut ya, kangen sama teman-teman di sana," ucap Gaby manja.


Langit tidak menjawab, ia hanya mengangguk sekilas. Rasa bersalah mulai merayap di hatinya saat dari ujung matanya ia melihat Gita melengos sedih.


"Kak, aku tunggu di bawah ya," Gita beranjak berdiri dari kursinya. Semakin lama menonton adegan Gaby makan dari suapan tangan Langit yang seakan dibuat slow motion membuatnya gerah.


"Di sini aja, Mpi," pinta Langit, ia tidak mau ditinggalkan hanya berdua dengan Gaby di dalam kamar.


"Biarin aja," ujar Gaby. Tangannya memegang tangan Langit yang melayang memegang sendok lalu memasukannya sendiri ke dalam mulutnya.


Tadi saat Langit akan menyuap Gaby, gerakannya terhenti di udara karena melihat Gita akan keluar dari kamar.


Gita semakin kesal dengan sikap Langit yang seolah membiarkan Gaby menguasainya. Tanpa menghiraukan permintaan Langit untuk tetap dalam kamar, Gita membuka pintu lalu langsung turun ke lantai satu.


"Kamu makan sendiri, ya. Aku balik dulu." Langit menaruh mangkuk bubur ke tangan Gaby.


"Jangan pergi." Gaby menahan tangan Langit saat pria itu akan berdiri.

__ADS_1


"Maaf, Gab, aku ga bisa biarin Gita sendirian di bawah." Langit tetap memaksa berdiri.


"Kaak, jangan pergiii. Di sini aja, aku ga mau makan kalo Kak Langit pulang!" Gaby mulai merengek dan mengancam.


"Terserah, aku pulang dulu." Langit berjalan ke arah pintu, tanpa ia duga Gaby mengikutinya dan memeluknya dari arah belakang.


"Aku mau sama Kak Langit, jangan tinggalkan aku."


"GAB! lepas!" Langit menyentak tangan Gaby hingga tubuhnya sedikit terdorong ke belakang.


"Kak Langit jahaaatt!" Gaby mulai meraung, mengundang perhatian Mamanya yang berada di kamar sebelah.


"Ada apaa??"


"Maaf, Tan. Saya harus pulang," pamit Langit.


"Kak Langit kenapa selalu lebih milih cewek pelac*ur itu!" pekik Gaby masih dengan tangisan kerasnya.


"Yang kamu sebut pela*cur itu, calon istriku, Gab," sahut Langit geram.


...❤❤...


Ingatkan lagi aahh ..


Love/favorite ❤


Komen bebas asal santun 💭


Like / jempol di setiap bab👍


Bunga 🌹


Kopi ☕


Rating / bintang lima 🌟


Votenya doong 🥰


Mampir sini juga yaa, dah ganti cover niihh

__ADS_1



__ADS_2