Ternyata Itu Cinta

Ternyata Itu Cinta
Mengumpulkan bukti


__ADS_3

Pagi harinya Gita sudah dipersiapkan untuk menjalani kuretasi. Perawat membawa Gita ke ruang operasi dan membantunya untuk mengganti pakaian operasi.


Langit terus menemani Gita kemanapun istrinya itu dibawa. Saat jarum besar infus akan menembus kulit putihnya, Gita meringis ngeri. Dari jarak yang tidak seberapa jauh, Langit memberi senyuman semangat pada istrinya.


"Saya boleh menemani di dalam sus?" tanya Langit penuh harap.


"Maaf, Bapak tunggu di luar saja ya. Pasien dibius total, jadi ga sadar selama proses kuret. Waktu operasi kecil juga ga lama, hanya sekitar dua jam, jadi ga perlu khawatir."


"Baiklah, boleh ijin temui istri saya sebentar ya, sus?" Perawat itu mengangguk kepala membolehkan.


Saat Langit menghampiri, Gita baru saja diberikan obat bius melalui jarum infusnya.


"Aku tunggu di luar, ya. Kamu pasti bisa," bisik Langit. Gita hanya mengangguk kecil dengan mata yang perlahan menutup. Begitu istrinya tertidur karena pengaruh obat bius, Langit mengecup keningnya dan segera berlalu keluar dari ruang operasi.


Belum genap dua jam Langit dalam keresahan menunggu Gita, pintu ruang operasi terbuka lebar. Istrinya masih dalam keadaan tertidur di atas ranjang pasien yang di dorong oleh perawat wanita.


"Gimana, sus?" tanya Langit tak sabar seraya mengiringi langkah perawat yang mendorong ranjang istrinya.


"Baik-baik saja, Pak. Tinggal menunggu istri Bapak sadar dari obat biusnya aja," ucap perawat sambil tersenyum maklum menghadapi pasangan yang sangat muda itu.


Dengan sabar Langit menunggui istrinya sadar, sambil menghubungi pihak-pihak terkait guna mengumpulkan bukti untuk bahan laporannya.


"Gimana Gita, Lang?" Mamanya dan Mama mertuanya masuk ke dalam ruang perawatan Gita.


"Baik, Ma. Operasinya lancar juga cepat," sahut Langit.


"Syukurlah," timpal Mama Gita seraya mengusap kepala putrinya.


"Ma, aku titip Gita sebentar ya. Ada hal yang aku harus selesaikan." Langit berdiri dari duduknya.


"Mo kemana sih kamu? kenapa ga nunggu Gita sadar dulu? nanti dia nyariin kamu gimana?" protes Mama Langit.


"Aku ditunggu orang, nanti aku ceritakan kalau sudah selesai." Langit bersikukuh untuk pergi karena dari tadi, Raditya Kapolres muda kawan lamanya mengirimi pesan meminta segera bertemu.


"Ya udah jangan lama-lama ya, Lang."


Langit memacu kendaraannya menuju ke sebuah rumah makan yang padat pengunjung di jam makan siang seperti ini.


Begitu memasuki pintu rumah makan, mata Langit mengedar mencari sosok kawan yang sudah lama tidak bertemu secara tatap muka.


"Siang, Komandan," sapa Langit pada seorang pemuda berkemeja putih lengan panjang yang digulung sesiku.

__ADS_1


"Weei, sudah datang esmud kita." Raditya bangkit dari duduknya dan memeluk hangat mantan tetangga rumahnya saat masih kecil.


"Gimana kabarnya? kayaknya lagi sibuk banget setelah Om Hendrik meninggal?" tanya Raditya setelah mereka duduk berhadapan dan memesan makan siang.


"Taulah kamu, Bang aku ini cuman lulusan SMU sudah harus dihadapkan dengan urusan orang dewasa. Jadi ibarat buah, aku ini matang karbitan," ujar Langit dengan senyum miris.


Tawa Raditya meledak, "Kamu yang hanya lulusan SMU aja sudah bisa buka pabrik baru di Jogja dan tembus pasar Eropa, apalagi kalo sudah nyelesaikan S2?"


Langit tersenyum bangga mendengar pujian yang dilontarkan sahabatnya. Namun sedetik kemudian ia teringat dengan istrinya yang belum sadar saat ia tinggalkan tadi.


"Eh, Bang gimana, sudah ada yang aku minta kemarin?" tanyanya penuh harap.


Raditya membuka tas besarnya, lalu mengeluarkan beberapa lembar foto hasil tangkapan dari kamera CCTV dua klub malam yang paling dicurigai.


"Orang ini kan yang kamu cari?" Raditya menunjuk satu wajah yang terlihat cukup jelas di lembaran foto.


Langit mengamati satu persatu lembaran foto yang terhampar di atas meja. Foto-foto itu sangat jelas memperlihatkan wajah Teddy dan beberapa teman gadisnya.


Langit mengangguk dengan wajah muram. Sebenarnya ia tidak sampai hati mengangkat kembali kasus lama, karena Teddy selain teman satu almamater dan juga masih sangat muda.


Namun karena tindakan Teddy kali ini sudah mengusik kehidupan keluarganya, Langit tidak akan tinggal diam. Lagi pula perbuatan Teddy di luar sana sudah sangat meresahkan. Ia berani menawarkan gadis di bawah umur kepada pria hidung belang, tanpa gadis itu tahu jika sedang berada dalam jebakan Teddy.


Selain itu yang membuat Langit geram, pihak sekolah seolah pura-pura tuli dan buta akan kasus yang sudah lama merebak. Hanya karena pelaku utama dekat dengan anak ketua yayasan, maka semua kejahatan dan perundungan seolah tidak terjadi dalam lingkungan sekolah.


"Lalu apa yang mendorongmu ingin mengangkat kasus ini lagi?" tanya Raditya.


Langit menarik nafas panjang sebelum menjelaskan pada sahabat lamanya itu.


"Istriku hampir menjadi korbannya," ucap Langit.


"Aku ga salah denger kan, Lang? Istri kamu bilang?" cecar Raditya. Langit menganggukan kepala.


"Kamu sudah nikah??" Mata Raditya membesar. Langit hanya menanggapi dengan senyuman.


"Ah, bohong! kamu kan masih bocah, aku aja yang udah 28tahun ga dapet-dapet," sangkal Raditya.


Langit membuka galery ponselnya lalu menunjukan pada Raditya deretan fotonya saat berbulan madu dengan Gita.


"Aah, itu kan pacaran. Anak jaman sekarang pacaran aja panggil mami pa ...." Raditya tidak melanjutkan kalimatnya saat Langit menunjukan foto pernikahannya.


"Gila kamu ya. Kamu hamilin anak orang?" tuduh Raditya.

__ADS_1


"Sia*alan! aku nikahnya normal tanpa embel-embel. Istriku ini memang masih kelas 11, tapi sudah 17tahun sudah sah kan kalo aku nikahi."


"Gila! kamu pedo*fil??"


"Hei! jangan lupa aku juga masih muda. Jadi kami pasangan muda yang menggemaskan."


"Kalo resmi kenapa aku ga diundang?" Raditya melayangkan protes.


"Permintaan istri, Bang. Kemarin cuman dihadiri keluarga aja sebagai saksi. Nanti setelah istri lulus SMU, kami akan adakan resepsi besar."


"Istra istri, sebut aja terooss." Wajah Raditya menekuk kesal.


"Sori, maklum masih anget-angetnya. Ayo kembali ke bahasan awal. Aku minta anak ini diproses lebih cepat karena dia sudah berusaha menjerumuskan teman-teman wanitanya yang masih usia sekolah."


"Memang sudah dalam penyelidikan. Kamu tenang aja." Raditya kembali membereskan semua foto yang ada di atas meja.


"Bisa ga sebelum ditindak, aku diberitahu dulu?"


"Bisa aja, buat apa?" tanya Raditya curiga.


"Aku juga lagi memproses kasus perundungan di sekolah. Buronanmu itu salah satu pelakunya. Aku juga harus menghadapi ketua yayasan, karena putrinya pelaku utama perundungan dan juga terduga menjadi simpanan pria hidung belang," papar Langit


...❤❤...


Follow IG : Ave_aveeii


Halaman FB : Novel online_Aveeii


Jangan lupa yaa 🙏


Love/favorite ❤


Komen bebas asal santun 💭


Like / jempol di setiap bab👍


Bunga 🌹


Kopi ☕


Rating / bintang lima 🌟

__ADS_1


Votenya doong 🥰


__ADS_2