Ternyata Itu Cinta

Ternyata Itu Cinta
Suka kaan?


__ADS_3

"Kalian mau ngobrol sampe jam berapa? dah siang, telat loh nanti." Suara Mama mengalihkan perhatian Anggita dan Langit pada sikap janggal Gita.


"Aku tunggu di depan," ucap Gita, lalu berdiri dan langsung menuju ke teras.


"Gita kenapa lagi, Nggi? katanya kemarin dia sudah ngerti tentang kamu dan Teddy," tanya Langit bingung.


"Aku juga ga tau, tapi ... bentar deh, aku pastikan dulu." Anggita mengerutkan kening. Ada sesuatu yang mencurigakan, tapi ia harus mencari tahu dulu secara pasti sebelum salah paham lagi.


"Kok kamu duduk di belakang lagi, Git? gantian dong," protes Anggita saat melihat Gita sudah duduk manis di bangku belakang mobil.


"Ga pa-pa, aku di sini aja. Mau pejemin mata bentar, ngantuk," sahut Gita santai. Ia memasang headset lalu memejamkan kedua matanya.


"Oo, ya udah." Perlahan senyuman samar terbit di sudut bibir Anggita.


"Terima kasih ya, Kak Langit baik deh. Kita sudah dijemput plus dianterin sekolah," ucap Anggita sedikit genit, saat turun dari mobil tangannya dilambaikan pada Langit yang hanya mengangguk dan tersenyum kaku.


"Apaan sih, geje banget," gerutu Gita, dengan sedikit tidak sabar ia mendorong Anggita agar segera berjalan ke arah kelas.


"Kenapa sih, Git kan cuman bilang makasih doang," goda Anggita. Kalau perkiraannya benar sahabatnya ini ada rasa cemburu padanya.


Bola mata Gita berputar malas mendengar nada manja dan genit dari Anggita.


Anggita menghentikan langkahnya, lalu menarik tangan Gita untuk duduk di bangku taman sekolah.


"Jujur sama aku, kamu suka kan sama Kak Langit," desak Anggita dengan mata berbinar.


"Ngomong apaan sih!" elak Gita. Ia ingin berdiri tapi kembali terduduk karena ditarik oleh Anggita.


"Aku dah jujur dan terbuka semuanya sama kamu, tapi kamu kenapa ga mau jujur sama aku?" Anggita terus mendesak dengan nada kecewa.


"Kamu tuh ngomong apaan?, siapa yang suka sama Kak Langit??" sergah Gita tak sabar.


"Git, keliatan banget loh kamu cemburu sama aku." Anggita tersenyum simpul.


"Iddiiih, sapa juga yang cemburu sama situ."


"Jadi boleh dong aku deketin Kak Langit," goda Anggita lagi.


"Bukannya kamu dah jadian sama Kak Langit?" Anggita terbahak melihat wajah penasaran Gita.


"Kalo beneran aku jadian emang ga pa pa?"


"Ya ga pa pa, terserah kalian lah, apa hubungannya juga sama aku," sahut Gita dengan nada sewot.


Anggita mendekatkan wajahnya pada wajah Gita, ia berusaha membuat kontak mata dengan sahabatnya itu, "Eleeehhh, mata kamu itu ga bisa berbohong, Git. Kamu cem ... bu ... ru," Anggita menangkupkan telapak tangannya di pipi Gita.


"Aku tu ga suka sama Kak Langit, aku sukanya sama Teddy, kan kamu tau. Kalo kamu mo jadian sama Kak Langit, terserah." Gita menepis tangan Anggita. Bola matanya terus menghindar dari tatapan sahabatnya.


"Aku juga ga suka sama Kak Langit," jelas Anggita. Kedua tangannya terlipat di depan dada. Ia sengaja menggantung kalimatnya, ingin melihat bagaimana reaksi temannya itu.

__ADS_1


Kepala Gita tidak menghadapnya, tapi sangat jelas dari lirikan matanya, ia menunggu penjelasan dari Anggita.


"Kamu sepertinya salah sangka, aku ga ada apa-apa kok sama Kak Langit. Kamu kok bisa-bisanya ambil kesimpulan kayak gitu sih hehehee ...." Anggita terkekeh.


"Ow," sahut Gita singkat. Ketegangan wajahnya terlihat mengendur.


"Legaaa, doong." Anggita menoel dagu Gita.


"Biasa aja," sahut Gita salah tingkah.


"Git, kalo kamu beneran suka sama Kak Langit pepet gih. Aura Kak Langit itu lebih bahaya loh dari pada si Teddy."


"Teddy emang dari wajahnya cakep, tapi cuman sebatas enak untuk dikagumi. Kalo Kak Langit tuh beeuuhh!, tipe cowok cool. Cowok macam seperti itu yang bisa bikin cewek mati penasaran."


"Termasuk kamu?" sindir Gita. Matanya melirik sinis.


"Ceeilee, masih cemburu aja."


"Sapa juga yang cemburu." Gita masih mengelak.


Ia sebetulnya belum sadar sepenuhnya, perasaan apa yang dimilikinya untuk Langit. Terlalu lama bersama sejak masih bocah, membuat keduanya berada dalam batas abu-abu.


Mengetahui Anggita dekat dengan Langit sejujurnya ada rasa kecewa, sedih dan tersaingi di hatinya, tapi apa itu benar perasaan cinta? Ia juga tidak tahu dan belum bisa membedakan, antara rasa kagum dengan kenyamanan cinta.


"Apa mau aku bantu?" Anggita kembali menggoda Gita.


"Apaan!" Gita sontak berdiri dan memandang kawannya dengan tatapan mengancam.


Gita sempat beberapa saat terdiam tidak menyambut perjanjian kelingking Anggita. Jika ia menyambut, berarti ia mengakui bahwa benar ia ada rasa sama Langit, tapi jika tidak ....


"Oke, deal." Akhirnya Gita menautkan kelingkingnya dengan malu-malu. Anggita tertawa pelan melihat wajah Gita yang memerah.


"Yuk ah, ke kelas. Jam pertama Pak Agung, kalo telat masuk kelas bisa disuruh bersihkan WC kita." Gita dan Anggita mempercepat langkah menuju kelas mereka, yang berada di ujung koridor.


"Ahaaa!!, coba lihat siapa ini girls." Rombongan ciwi-ciwi sok keren yang di pandu Melinda, menghadang langkah Gita dan Anggi.


"Kayak kenal deh, Mel," sahut dayang-dayang satu mulai memancing.


"Siapaa siiih, Mel." Dayang-dayang dua bertugas mengompori.


"Wajah-wajahnya sih seperti ngundang hasrat pria hidung belang naiiikk." Dayang-dayang tiga mulai mengipas api.


"Oww, barang bekas. Tempatnya di pasar loak bukan siiiih." Dayang-dayang empat sudah mulai menabuh genderang perang.


"Bener seperti itu pe ... rek?," ucap Melinda seraya tersenyum mengejek. Ia sengaja menekankan kata pe*rek untuk menjatuhkan mental Gita dan Anggita.


"Jangan kurang ajar mulut kalian!" seru Gita. Anggita sejak awal terus menarik tangan Gita agar tidak usah meladeni Melinda dan dayang-dayangnya.


"Kita kan cuman nanya ya kan, girls? kok jadi ngamuk?" Tawa Melinda dan rombongannya mulai menarik perhatian siswa di sekitar mereka.

__ADS_1


"Git, udaahhh." Anggita sudah mulai gelisah. Ia takut jika Melinda mempermalukan dirinya di sekolah.


Sementara itu di lantai dua, Teddy tertawa kecil melihat dua wanita yang sudah membuatnya celaka di bully oleh Melinda.


"Senang?" Teddy menoleh cepat saat suara dingin Langit terasa menusuk telinganya.


"Suruh dia berhenti sekarang." Langit berdiri sangat dekat dengan Teddy. Ia menebarkan aura mengancam dengan kedua tangan mengepal di dalam saku celana.


"Kenapa ga kamu sendiri yang bilang?" kilah Teddy seraya mundur selangkah.


Ia masih berusaha terlihat tangguh meskipun nyalinya ciut di hadapan Langit. Masih teringat bagaimana Langit menghajarnya tanpa jeda.


"Dia ja*langmu kan?" Kepala Langit mengarah ke Melinda di lantai dasar, tapi tatapannya tidak beralih dari Teddy.


Teddy masih berusaha berdiri tegak, mencoba mengadu kekuatan mata dan aura permusuhan.


"Kamu sepertinya sudah ingin cepat merasakan bagaimana dinginnya tidur di balik jeruji?" tanya Langit masih dengan nada yang datar.


Sebenarnya kedua tangannya yang mengepal di dalam saku celananya, sudah ingin ia layangkan ke wajah pria pucat di hadapannya itu.


"MEEL!!" Teddy berteriak memanggil Melinda, tapi seluruh tubuh dan matanya masih mengarah pada Langit dengan waspada.


Melinda menengadahkan kepala melihat Teddy yang sudah gemetar di hadapan Langit.


"Huuhh!!" Melinda menghentakkan kakinya kesal.


"Tunggu saja pe ... rek, aku akan bongkar betapa kotor kalian sebenarnya," ucap Melinda angkuh.


...❤❤...


Pe*rek \= pe*lacur. Kata yang biasanya digunakan oleh anak muda dalam pergaulan sehari-hari


follow ig : ave_aveeii


Ingatkan lagi aahh ..


Love/favorite ❤


Komen bebas asal santun 💭


Like / jempol 👍


Bunga 🌹


Kopi ☕


Rating / bintang lima 🌟


Votenya doong 🥰

__ADS_1


Mampir ke karya teman aku yuk



__ADS_2