Ternyata Itu Cinta

Ternyata Itu Cinta
Pembuktian


__ADS_3

Mama Langit tersenyum memperhatikan putranya yang masih asyik memetik gitar kesayangannya. Entah sejak kapan putranya ini menjadi sosok yang dewasa dan lebih terbuka dengannya.


Ia sangat paham usia Langit masih sangat muda untuk menikah, tapi putranya ini terlihat begitu sangat siap meminang putri dari sahabatnya. Sebagai seorang ibu, ia hanya ingin anaknya bahagia. Lagipula daripada selalu bersama tanpa ada ikatan sah, jauh lebih baik jika mereka di resmikan untuk menghindari fitnah dan dosa.


"Lang, kamu benar sudah siap menikah?" tanya Mama lembut. Langit menghentikan petikan gitarnya, lalu memandang ke arah wanita cantik paruh baya di sisinya.


"Menurut Mama?"


"Loh kok menurut Mama, yang mau nikah kan kamu, kok Mama yang kasih pendapat." Langit terkekeh mendengar sungutan Mamanya.


"Aku sudah punya penghasilan tetap tiap bulan, dari hasil kerja sendiri bukan minta orang tua. Aku mampu menghidupi kebutuhan Empi, bahkan kalo perlu bisa membelikan ia rumah mewah," ucapnya sombong di sambut gelak tawa Mamanya.


"Dan aku sayang sama dia," tambahnya pelan.


"Menurut Mama itu sudah cukup?" tanyanya lagi.


"Belum. Pernikahan itu tidak cukup hanya sekedar kata cinta dan materi, tapi ada komitmen, kepercayaan, setia dalam untung dan malang, menerima baik dan buruknya pasangan kita, daan banyak lagi. Gimana kamu sudah siap?"


Langit termenung memandang Mamanya, lalu ia menjawab dengan yakin, "Insya Allah, aku siap."


Mama Langit tersenyum, "Kalau begitu jangan galau lagi kalo ada penolakan dari Empi. Kamu sebagai laki-laki, harus bisa membimbing dan meyakinkan dia kalo kamu mampu dan serius dengan hubungan kalian. Semangat dong, anak Mama ga boleh cemen galau-galauan gitu."


Sepeninggal mamanya masuk ke dalam rumah, Langit terdiam merenung. Diakuinya sempat ia kecewa pada Gita, dan ingin melupakan niatnya untuk memiliki Gita.


Namun setelah berbicara dengan pakar cinta yang lebih berpengalaman, Langit tahu apa yang harus ia lakukan. Ia punya waktu kurang dari lima bulan untuk meraih hati dan kepercayaan Gita.


...❤...

__ADS_1


"Haai," sapa Langit ceria. Gita yang sedang menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutnya, tercengang melihat perubahan sikap Langit yang kemarin sempat mengacuhkannya.


"Sudah sarapan, Lang?" tawar Mama Gita.


"Sudah, Tan." Pandangannya masih terarah pada gadis yang duduk di hadapannya.


"Apaan sih, ngeliatin sambil senyum-senyum gitu," ucap Gita salah tingkah.


"Ga ada apa-apa, cuman pingin liatin kamu aja," ujar Langit seraya tersenyum lebar.


"Isssh ga jelas banget." Gita memilih cepat menyelesaikan makannya. Ia merasa tidak nyaman makan dalam pengawasan mata Langit.


"Udahan?" tanya Langit heran.


"Udah," jawab Gita singkat.


"Kenapa sih kok senyum-senyum terus." Gita melirik Langit yang sejak masuk mobil hingga setengah perjalanan ke sekolah, tidak pernah lepas senyuman dari bibirnya.


"Aneh."


Sampai di sekolah sebelum turun dari mobil, Langit menyodorkan tangannya ke depan wajah Gita.


"Apaan??" tanya Gita keheranan dengan tingkah laku Langit.


"Salim dulu ... latihan."


"Iiih, apaan sih." Gita menepis tangan Langit.

__ADS_1


Walau sedikit kecewa dengan sikap penolakan dari Gita, ia tidak memaksa gadis itu. Memang di akuinya, ia agak terlalu berlebihan kali ini.


"Kak Langiiit." Begitu mereka berdua turun dari mobil, Gaby berlari mendekati mereka lalu memeluk lengan Langit.


"Kok ga pernah jemput aku lagi sih?" tanyanya manja.


"Sudah ada Papamu kan yang antar?" ujar Langit seraya berusaha melepaskan rengkuhan tangan Gaby di lengannya.


"Pinginnya berangkat sama kak Langit," kekeh Gaby. Ujung matanya tak lepas dari gadis di samping Langit yang juga sedang meliriknya dengan tajam.


"Maaf ya, aku kalo pagi harus jemput Gita," ucap Langit sambil melingkarkan tangannya di pinggang Gita.


"Kak!" protes Gita, bukannya ia tidak suka dengan perlakuan Langit, tapi ini sekolah dan mereka sedang jadi pusat perhatian beberapa siswa di area parkir.


Langit tampak tak peduli dengan nada protes Gita. Ia tetap berjalan lurus menggiringnya ke arah gedung sekolah.


"Nanti pulang sekolah, aku ikut ke kantor," ucap Gaby seraya mengikuti langkah Langit dan Gita.


"Boleh," sahut Langit.


...❤...


Hampir setiap hari Gaby ikut pulang sekolah bertiga dengan Langit dan Gita. Terpaksa Langit tidak memulangkan Gita ke rumah, melainkan membawanya juga ke kantor meski gadis itu seringkali protes karena kelelahan. Semua itu salahbsatu bentuk usaha untuk menghindari rasa curiga dan prasangka buruk Gita, jika ia hanya berduaan dengan Gaby.


Sudah hampir satu bulan berlalu sejak tawaran menikah dari Mama Langit. Tidak ada yang mengungkit lagi tentang pernikahan maupun perjodohan mereka, baik itu dari kedua orangtua mereka ataupun dari Langit.


Langit sendiri masih berusaha menunjukan keseriusannya, dengan cara bersikap lebih lembut dan perhatian dari sebelumnya. Namun memang agak sulit membedakan dulu dan sekarang, karena saat mereka hanya sekedar teman, Langit memang selalu perhatian dengan Gita.

__ADS_1


Gita pun tidak merasakan sesuatu yang 'wah' dari hubungan mereka. Sama saja seperti sebelum-sebelumnya, Langit tetap perhatian dan juga menuruti apa yang ia inginkan. Namun ada satu hal yang menganggu dan berusaha menyelinap di antara mereka berdua ... Gaby.


...❤❤...


__ADS_2