Ternyata Itu Cinta

Ternyata Itu Cinta
Gadis import


__ADS_3

“Sudah mau pulang, Lang?” Kepala Om Wahyu menyembul dari balik pintu.


“Sebentar lagi, Om. Ada yang perlu saya proses lagi?” tanyanya lelah. Sudah tiga jam ia tertahan di dalam ruangan ini.


Akhir bulan memang waktu yang padat untuk sisi hidupnya sebagai pemimpin perusahaan. Persetujuan pengajuan proyek, review hasil proyek bulan lalu apakah masih bisa dilanjutkan kerjasama dengan partner, atau harus dihentikan. Menandatangani segala berkas termasuk pencairan gaji karyawan dan segala macam keruwetan yang harus ia pelajari secara otodidak.


Memang dihadapan para karyawan, tetap Om Wahyu yang memegang peranan. Sosoknya yang masih berstatus siswa SMU, belum dapat menjadi figur sempurna di mata para staff.


Ia juga bisa dipandang sebelah mata oleh para pemegang saham, tapi sebagai satu-satunya ahli waris dari pemilik perusahaan, apapun keputusan tentang perusahaan ini ada ditangannya.


“Om mau minta waktumu sebentar saja bisa?” Om Wahyu masih berdiri di ambang pintu.


“Bisalah, Om. Ayo masuk, kenapa berdiri di sana?” tanyanya heran.


Om Wahyu memberi kode pada seseorang di luar ruangan untuk ikut masuk ke dalam bersamanya. Seorang gadis sepantaran Gita masuk dengan kepala tertunduk. Ia mengenalinya, gadis itu putri tunggal Om Wahyu yang bersekolah di Inggris.


“Masih ingat, Lang?’ Om Wahyu menunjuk putrinya.


“Ingat dong, Om. Namanya Gi ….” Ia sedikit lupa nama putri Om Wahyu, yang ia ingat berawalan huruf G. Sial! kenapa nama Empi yang muncul di otakku. Sepertinya gadis cerewet itu sudah meracuni seluruh darahku.


“Namanya Gabriella, Lang, panggilannya Gaby.”


“Ah, iya. Gaby. Apa kabar, Gab?” Langit mengulurkan tangan untuk bersalaman. Gaby menyambut tagan Langit masih dengan sikap malu-malu. Rambutnya yang panjang dan lurus, terurai begitu saja hampir menutupi wajahnya saat ia menunduk.


“Maklum ya, Lang. Lama ga pulang ke Indonesia ya seperti ini, jadi merasa asing di negara sendiri.”


“Lagi liburan, Om?’ tanyanya sembari menyusun berkas yang sudah ia tanda tangani. Badannya terasa penat ingin segera pulang, mandi lalu segera pergi ke rumah Gita. Mau mencoba sekali lagi membujuk gadis itu untuk menemaninya nonton bioskop. Selain itu ia masih penasaran dengan sikap dan wajah murung Gita yang tidak seperti biasanya.


“Gaby dan Mamanya sudah pindah ke Indonesia, Lang. Mereka ga betah katanya cuman tinggal berduaan aja.”


“Oh, ya? Senang dong, Om ada yang nemenin sekarang.”


“Hehehe, ya sudah hampir satu tahun jadi jomblo ga ada yang masakin.”


“Ini juga yang Om mau minta tolong sama kamu. Gaby, Om masukan ke sekolah yang sama dengan kamu ga pa-pa kan, Lang? biar dia ada temennya.”


Langit menghentikan kesibukannya, ia kembali menaruh perhatian pada penjelasan Om Wahyu.


“Kelas berapa?”


“Kelas satu, di sini sebutannya kelas sepuluh ya,” sahut Om Wahyu, sedangkan yang ditanya masih terus menunduk.


“Mmm, tapi bisa bahasa Indonesia kan, Om?” tanya Langit setengah berbisik. Sejak masuk ruangannya, Gaby sama sekali belum mengeluarkan suaranya.

__ADS_1


Selama tinggal di Inggris dulu, Langit juga tidak terlalu perhatian dengan keberadaan gadis itu. Jadi ia sama sekali belum pernah berinteraksi dengan Gaby.


“Hahahaha, bisa lah, Lang. Kami di rumah tetap pakai bahasa Ibu, biar tidak lupa dari mana kita berasal.”


“Ow, hehehee aku pikir cuman bisa ngomong Bahasa Inggris soalnya diem aja dari tadi.”


“Gab, ditanya Langit itu loh, kamu bisa ga ngomong bahasa Indonesia?”


“Bisa, Kak,” jawabnya singkat sambil menyunggingkan sebuah senyuman. Saat ia mengangkat wajahnya, tampak lebih jelas bagaimana raut wajah gadis itu. Mata yang sipit dengan kulit putih, mengikuti garis keturunan dari sang Ibu.


“Gaby besok sudah mulai masuk sekolah, tolong ditemani dulu ya, Lang.”


“Pulang sekolah, tolong dibawa sekalian ke kantor, sampai Om dapat sopir untuk antar jemput sekolah Gaby.” Langit hanya termangu dan mengangguk-angguk mendengar permintaan sahabat Papanya itu.


“Satu lagi, Lang. Aduh, Om ga enak ini ngerepotin kamu terus.”


“Ga pa pa, Om. Kayak sama siapa aja.”


“Kamu bisa temani Gaby sore ini cari perlengkapan sekolah sama beberapa buku paket? Om masih ada rapat sore ini, Mamanya Gaby agak ga enak badan, kecapekan habis pindahan.” Om Wahyu memandangnya dengan rasa tidak enak.


“Bisa, Om.” Apa yang harus dikatakannya, menolak? Inginnya, tapi ia tidak mungkin mengecewakan orang yang sudah dianggap Papanya sendiri, walaupun rasa dongkol di hati karena rencananya untuk membujuk Empi sore ini gagal total.


“Terima kasih, Lang. Kamu kasih tau aja lokasinya di mana, selesai rapat nanti Om jemput Gaby.”


...❤...


Sudah hampir dua jam sejak mereka berangkat dari kantor, hingga sampai di toko buku Grimedua ini, Gaby belum banyak mengeluarkan banyak kata selain kata terima kasih, iya, bukan, boleh dan kata standart lainnya.


“Gab, kamu tu anaknya emang pendiam ya?” tanya Langit penasaran.


“Ha? enggak juga kok,” sahut Gaby memandang Langit sekilas, lalu tersenyum tersipu dengan semburat merah di pipinya.


“Baguslah, ga baik kalo terlalu pendiam nanti susah punya teman di sekolah.”


“Kan ada Kak Langit yang nemenin,” sahutnya dengan sorot mata memuja.


Memuja? Kening Langit sedikit berkerut melihat perubahan sikap Gaby yang tiba-tiba berubah. Sebenarnya sejak di dalam mobil lalu saa mereka jalan bersisian, Langit tahu arah pandangan gadis itu kemana.


Gaby selalu mencoba mencuri-curi pandang kearahnya. Jika Langit tidak sengaja menoleh, gadis itu langsung salah tingkah lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain.


“Ini tahun terakhir aku di SMU, tinggal enam bulan lagi setelah itu aku lulus.”


“Pindah kota?” tanya Gaby dengan wajah sedih.

__ADS_1


“Belum tau,” ucap Langit mengangkat bahu tak acuh.


“Aku harap Kak Langit tetap ada di sini, kerja sama Papa,” ucapnya mengharap.


“Langit?!” suara wanita dari arah belakang membuatnya menoleh.


“Wah, lagi jalan sama pacarnya yaaa,” celetuk salah satu wanita dari rombongan itu.


“Bukan, ini anak teman Papa aku. Kenalkan ini namanya Gaby, baru pindah dari Inggris. Besok sudah mulai sekolah di tempat kita,” jelas Langit.


“Waah, barang import nih,” seloroh seorang cowok.


Gaby mulai memberikan tangannya untuk menyalami mereka satu persatu.


Ia baru menyadari di antara rombongan itu ada Nindy, sahabat Gita.


Semoga Nindy tidak berbicara yang tidak-tidak tentang pertemuan ini, tapi kenapa ia harus khawatir? Ia sama sekali tidak ada hubungan apa-apa dengan Gaby. Benarkan?


...❤...


Baru saja Gita meletakan pant*at di bangku kelas, suara sorakan para cowok terdengar dari arah ujung koridor.


“Ada apa?” tanyanya pada Nindy yang baru saja masuk ke dalam kelas.


“Kak Langit bawa cewek import.”


...❤❤...


Ingatkan lagi aahh ..


Love/favorite ❤


Komen bebas asal santun 💭


Like / jempol 👍


Bunga 🌹


Kopi ☕


Rating / bintang lima 🌟


Votenya doong 🥰

__ADS_1


Mampir yuukk 😍



__ADS_2