
Mama Gita mengikuti langkah dokter wanita itu dengan perasaan cemas.
"Sebelumnya saya minta maaf ya, Bu," ucap Dokter wanita itu saat mereka berdua sudah berada di luar ruang perawatan Gita.
"Kenapa minta maaf, Dok?" tanya Mama Gita semakin cemas.
"Putri ibu, janin dalam kandungannya tidak berkembang." Mama Gita terdiam, mencoba memahami arti dari perkataan Dokter tersebut.
"Ma-maksudnya?"
"Usia kandungan putri ibu seharusnya menginjak berusia 12minggu, tapi janin yang di dalamnya tidak berkembang. Biasa dalam istilah kedokteran kami menyebutnya Blighted Ovum."
"Lalu ... putri saya bagaimana? dia baik-baik saja?"
"Putri Ibu baik-baik saja. Kondisinya sehat, tapi janin yang ada di rahimnya harus segera kami keluarkan."
"Operasi??"
"Operasi kecil bu, kuretasi." Mama Gita menutup mulutnya. Sungguh ia tidak tega pada putri kecilnya yang sedari kecil tidak pernah dirawat di rumah sakit, sekarang harus menjalani operasi pengambilan janin.
"Penyebabnya apa ya, Dok?"
"Banyak. Salah satunya kondisi sel telur atau ****** yang kurang bagus, sehingga embrio tidak berkembang secara sempurna."
"Putri saya masih bisa mengandung?" tanya Mama Gita khawatir.
"Tentu bisa, Ibu. Putri Ibu masih sangat muda tentu masih banyak kesempatan."
"Syukurlah,"
"Proses kuretasi harus segera dilakukan ya, Bu karena berhubungan dengan kesehatan putri Ibu."
"Tapi tunggu suaminya datang sore ini bisa?"
"Bisa. Nanti biar suaminya langsung keruangan saya dulu untuk tanda tangan persetujuan kuretasi."
__ADS_1
"Baik, Dok. Terima kasih banyak."
Setelah Dokter wanita itu menjauh, Mama Gita kembali masuk ke dalam ruangan Gita.
"Gimana?" bisik Mama Langit. Gita sudah melepas baju seragamnya berganti dengan baju rumah.
"Harus di kuret," bisik Mama Gita sedih. Mama Langit juga tidak kalah shocknya sama dengan sahabatnya ia langsung menutup mulut dan memandang menantunya prihatin.
"Tapi Gita baik-baik saja kan?"
"Baik, tapi operasi kuretnya harus segera. Langit dateng nanti harus segera tanda tangan."
"Maaa, pulaaang." Gita merengek.
"Nanti dulu, Git. Tunggu Langit dateng nanti kita pulang sama-sama ya," bujuk Mama Gita.
"Kak Langit kan bisa langsung ke rumah aja, ngapain harus ke sini dulu?" tanya Gita seraya mengusap-usap perutnya.
"Sudah terlanjur jalan ke sini. Udah, kamu tunggu aja sabar sebentar," ucap Mama Gita seraya memandang sedih pada putrinya yang secara naluri mengusap-usap perutnya seperti ibu hamil pada umumnya.
"Ma, ruangan Gita di sebelah mana?" tanya Langit saat bertemu Mamanya di lobby rumah sakit. Wajahnya yang kusut dan lesu tidak dapat menyembunyikan rasa lelahnya.
"Kamu tenang dulu, sudah makan belum?"
"Mama kok malah nanyain sudah makan belum," sahut Langit tak sabar.
"Lah iya, kalo kamu sakit sapa yang jagain istrimu?"
"Sudah Ma, aku sudah makan sebelum terbang tadi," ujar Langit meyakinkan. Saat ini yang ia inginkan hanyalah bertemu istrinya lalu mengusap dan mencium calon bayinya.
"Ikut Mama dulu." Mama Langit memberi kode agar mengikuti langkahnya.
"Ini?" tanya Langit ragu saat Mamanya mengetuk pintu ruangan yang bertuliskan nama dokter kandungan diatasnya.
"Masuk dulu, biar dokter yang jelaskan."
__ADS_1
"Permisi, Dok. Ini suaminya Gita Gempita," ucap Mama Langit setelah dipersilahkan masuk.
Dokter wanita itu lalu menjelaskan seperti yang sudah dijelaskan kepada Mama Gita sebelumnya. Langit diam terpaku tanpa berani menyela sedikitpun. Belum sempat bertemu dengan istrinya dan calon bayinya, malah sudah harus menerima kabar yang tidak menyenangkan.
Dokter wanita itu menyodorkan selembar kertas persetujuan menjalani kuretasi.
"Apa harus saya yang tanda tangan?" tanya Langit ragu.
"Iya dong, Lang kan kamu sudah jadi kepala rumah tangga, apapun terkait istri dan anak ada dalam tanggung jawabmu," ujar Mama Langit.
Dengan tangan bergetar, Langit menggoreskan pena di kolom persetujuan sebagai seorang suami.
"Semua akan baik-baik saja. Ini demi kesehatan Gita," ucap Mama Langit.
"Iya benar, kalian pasangan muda. Masih sehat, kesempatan masih banyak. Tugasmu sebagai seorang suami sekarang adalah mendampingi dan menguatkan istrinya," jelas dokter wanita itu seraya tersenyum.
"Ma, aku merasa bersalah sama Gita," ucap Langit saat mereka berdua sudah sampai di depan kamar rawat Gita. Langit memilih duduk dulu di kursi depan ruangan Gita untuk menyiapkan diri sebelum bertemu istrinya.
"Bersalah kenapa?"
"A-aku ga sengaja buat dia hamil. Dia sempet marah sama aku di telepon kemarin." Langit mengusap wajahnya sedih.
Mama Langit tertawa kecil, "Ga ada namanya ga sengaja buat perempuan hamil, yang ada keluapaan." Wajah Langit seketika memerah.
"Yang sudah terjadi ya sudah. Namanya sudah menikah, kalau hamil ya wajar."
"Tapi, Ma ...."
"Udah, kamu temui Gita sekarang. Dia butuh kamu, dari tadi siang nanyain mulu."
Perlahan Langit membuka pintu ruang rawat istrinya. Gita yamg sedang disuapi makan oleh Mamanya langsung menoleh dan tersenyum saat tahu siapa yang datang.
Sedetik kemudian, senyum di wajahnya surut berganti dengan mendung dan kedua ujung bibirnya melengkung kebawah, "Phiuuu ...."
...❤❤...
__ADS_1