
"LANGIT!" Pintu ruangan kantor Langit terbuka dengan kasar. Daun pintu yang terbuat dari kayu jati itu sampai terhempas keras ke dinding.
Langit memberi kode dengan kepalanya pada dua orang karyawan yang sedang melapor hasil kerja team mereka, untuk segera keluar dari ruangan.
Pria bertubuh tambun itu menatap Langit dengan pandangan yang nyalang penuh emosi. Bapak Yudha, ayah dari Melinda itu melemparkan lima ikat uang kertas berwarna merah ke hadapan Langit.
"Masih kurang, hah?!" serunya penuh emosi, "Sebutkan berapa yang kamu mau, aku berikan semua!!" teriaknya lebih kencang.
Langit masih menatapnya dengan senyuman. Walaupun merasa jengkel karena seolah di lecehkan dengan penawaran uang, Langit masih berusaha menghormati Pak Yudha, karena usia yang jauh lebih tua.
"Duduk dulu, Pak Yudha. Kita ngobrol baik-baik." Langit menarik kursi yang menghadap ke mejanya.
"Tidak perlu! ga ada gunanya berdiskusi dengan bocah ingusan macam kamu! Ga usah sombong kau, Lang. Kamu seperti ini hanya karena meneruskan usaha almarhum Bapak kau itu!" Pak Yudha terus mengecam Langit dengan jari telunjuk mengacung ke wajah Langit.
Langit menarik nafas panjang mencoba menahan segala emosinya. Mungkin jika Pak Yudha seusia dengannya, kepalan tangan Langit sudah menghiasi wajah pria tambun itu.
"Baiklah jika Bapak tidak mau duduk, kita bisa bicara sambil berdiri saja. Ga ada masalah," ujar Langit seraya mendekapkan kedua lengannya di dada, "Apa yang Bapak mau?" tantang Langit.
"Bebaskan putri saya," ujarnya geram.
"Putri Bapak juga di tahan? Bukannya hanya sebagai saksi?" tanya Langit. Sesungguhnya ia juga sedikit terkejut jika Melinda ikut ditahan.
"Ga usah berbasa-basi, Lang. Cepat kau hubungi temanmu di kepolisian dan minta putri saya dibebaskan sekarang juga," perintah Pak Yudha.
Langit membesarkan matanya, ia merasa geli dengan sikap otoriter Ayah Melinda yang merasa semua orang bisa diperintah semaunya.
__ADS_1
"Sebentar saya coba menanyakan tentang putri Bapak." Langit mengirim pesan pada Raditya perihal Melinda. Sesaat kemudian pesan balasan diterima oleh Langit, lalu ia pun menggelengkan kepala karena dugaannya benar selama ini.
Langit menyodorkan ponselnya pada Ayah Melinda dengan pesan terbuka dari Raditya.
Mulut ayah Melinda terbuka tak percaya membaca pesan di ponsel Langit, "Na-narkoba??"
"Tidak! saya tidak percaya dan saya tidak mau tahu. Kamu harus membebaskan putri saya!" Pak Yudha melempar ponsel Langit ke meja begitu saja.
"Saya tidak punya kepentingan apapun untuk membebaskan Melinda. Ga ada untungnya buat saya. Bahkan jika bisa hukuman untuk putri Bapak saya minta ditambah, karena sudah membahayakan nyawa istri saya," ujar Langit.
"Kalau kamu tidak mengeluarkan Melinda dari tahanan, saya pastikan Gita akan di drop out dari sekolah dengan rekomendasi sangat buruk," ancam Pak Yudha.
Langit spontan terbahak mendengar ancaman dari ketua yayasan. Baginya ancaman Pak Yudha seperti anak SD yang sedang berkelahi.
"Maaf kalau saya merasa geli," ujarnya di sela-sela tawanya.
"Apa maksudmu? sudah gila kamu?!"
"Sayangnya kemarin Bapak tidak ikut rapat yayasan jadi tidak tahu hasilnya," ucap Langit setengah mengejek.
"Rapat??" Pak Yudha semakin panik.
"Coba aja Bapak hubungi Pak Leo, wakil ketua yayasan. Mungkin informasi ke Bapak sedikit terlambat."
Pak Yudha berdiri dan berjalan ke sudut ruangan, ia mengambil ponsel dan menghubungi kawannya di yayasan SMU Persada.
__ADS_1
...❤❤...
Yuk lanjut siangan yaa
Bagi yang merayakan
...Selamat Idul Fitri mohon maaf lahir dan batin 🙏😊...
Follow IG : Ave_aveeii
Halaman FB : Cerita Aveeii
Jangan lupa yaa 🙏
Love/favorite ❤
Komen bebas asal santun 💭
Like / jempol di setiap bab👍
Bunga 🌹
Kopi ☕
__ADS_1
Rating / bintang lima 🌟
Votenya doong 🥰