
Saat Langit keluar dari dalam kamar mandi, ia melihat Gita duduk bersila di atas ranjang. Pakaian piyama bergambar karakter hello kitty serta cemilan bertebaran di sekitarnya, membuat Gita seperti anak sekolah yang sedang liburan bukan wanita yang sedang menikmati bulan madu. Namun bukannya istri kecilnya itu memang masih anak sekolah?
Langit menertawakan pikirannya sendiri, "Ihh kenapa keluar dari kamar mandi kok ketawa-ketawa sendiri?" tanya Gita heran.
"Inget yang tadi." Langit merebahkan tubuhnya yang hanya berbalut handuk di sisi Gita. Wajah Gita seketika memerah.
"Lagi yuk," Langit mengendus pinggang Gita.
"Geli, ah," Gita berkelit menjauh. Perlahan Langit membersihkan ranjang mereka dari bungkus-bungkus cemilan. Gita yang masih fokus dengan tayangan di televisi sama sekali tidak menyadari.
"Loh kok tivinya dimatikan, aku belum selesai nonton," protes Gita.
"Emang kamu ngerti mereka ngomong apa?"
"Ngerti lah dikit-dikit." Gita merajuk.
Langit mengambil sebuah remote, dengan sekali tekan lampu di dalam kamar padam, hanya menyisakan sinar dari dalam kamar mandi.
"Kenapa dimatikan semua?" tanya Gita pelan. Perasaannya sudah mulai tidak enak, Langit menatapnya dengan penuh hasrat.
"Biar lebih syahdu," ujar Langit seraya menarik kedua kaki Gita hingga istrinya itu telentang di atas ranjang.
Sebelum Gita bangkit berdiri, Langit sudah berada di atas tubuhnya dengan bertumpu pada kedua lengannya.
"Phiu mau apa?" tanya Gita lirih.
"Mau kamu," bisik Langit pelan seraya mendekatkan wajahnya dan menc*ium lembut bibir istrinya.
Perlahan Langit melepas pagutannya lalu mengusap lembut rambut Gita, "Kalau aku mau sekarang, kamu siap?" bisiknya.
Gita terdiam dan menggigit bibirnya. Sejak di dalam kamar mandi, ia juga sudah merasakan ada sensasi yang menyenangkan saat disentuh suaminya, dan ia menginginkan lagi.
__ADS_1
"Kata Anggita sakit," cicit Gita.
"Iya, aku ga bilang kalo ga sakit. Aku juga ga tau bagaimana rasanya, ini pertama juga buat aku. Kita sama-sama belajar," ucap Langit pelan.
"Aku ga akan sengaja buat kamu sakit" tambahnya.
Langit mengecup kening, kedua mata, pipi dan berakhir di bibir Gita. Pagutannya semakin dalam, Gita pun sudah semakin mahir membalas.
Bibir Langit semakin turun ke ceruk leher istrinya, wangi sabun mandi membuatnya semakin candu. E*rangan pertama lolos dari bibir Gita.
Keduanya semakin terbuai Tanpa perlawanan sama sekali, Langit berhasil melepaskan semua kain yang melekat di tubuh Gita.
Saat Langit membuka lembaran terakhir di tubuhnya, Gita menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Langit terkekeh, ia pun sebenarnya malu tampak polos di hadapan Gita.
"Empi," panggil Langit pelan, seraya menarik tangan yang menutupi mata istrinya.
"Aku takut," ucap Gita lirih.
"Jangan nangis," Langit mengusap dan mengecup ujung mata istrinya.
Gita mencengkram lengan Langit kuat, saat rasa nyeri itu kembali menyengat.
"Shuudahhh, berhenti please," Gita merintih.
"Maaf aku ga bisa berhenti sekarang, sayang nanti kamu tambah kesakitan. Sabar dikit lagi ya." Di tengah deru nafasnya, Langit mencoba menenangkan istri kecilnya.
Beberapa saat kemudian, Gita sudah terlihat menikmati semua perlakuan Langit pada tubuhnya.
Setelah pelepasan yang panjang Langit merebahkan kepalanya di dada Gita. Keduanya masih terdiam, menetralkan deru jantungnya dan mengatur nagasnya agar kembali normal.
__ADS_1
"Phiu, aku takut," bisik Gita pelan.
"Takut apa? Ada aku, kamu ga perlu takut," hibur Langit.
"Kalo aku hamil gimana?"
"Kamu ga akan hamil dalam waktu dekat, karena ...." Tiba-tiba Langit terlonjak dari atas tubuh Gita. Matanya langsung tertuju pada kopernya yang masih tertutup rapat.
Jantung Langit berdetak kencang, melebihi saat mereka memadu kasih tadi.
"Kenapa?" tanya Gita heran.
"Gaa, ga ada apa-apa. Kita tidur yuk. Kamu pasti capek kan?" Langit bergeser di sisi Gita dan memeluk erat tubuh istrinya.
Dua jam sudah berlalu, tapi Langit masih belum dapat memejamkan mata. Ia mengusap-usap wajahnya dan mengacak-acak rambutnya dengan kasar.
Kenapa bisa sampe lupa sih??!
...❤❤...
Promo karya teman lewat lagi judulnya "Unperfect Wife"
"Perjuangan yang sungguh-sungguh akan membuatmu berhasil mencapai apa yang kau inginkan. Berjuanglah dan tanamkan satu target dihadapanmu!"
~Lara Alessandra
Sebagai wanita dengan berat badan 107 kilogram, Lara kerap kali merasa berkecil hati. Kedatangan keluarga Alex untuk melamar dirinya sudah seperti anugerah terindah yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.
Sayangnya, pernikahan sempurna yang dibayangkan Lara tidak sama dengan kenyataan. Alex ternyata mau menikah dengannya karena sebuah paksaan. Bukan karena cinta apa lagi mau menerima Lara apa adanya.
Namun, Lara tidak pernah menyerah. Dia terus berjuang agar Alex mau mencintainya dan menerima dia apa adanya. Ketika perjuangan Lara masih setengah jalan. Dia justru memergoki sang suami sedang bersenang-senang dengan wanita lain.
__ADS_1
Apakah Lara akan berhasil membuat Alex jatuh cinta padanya atau justru dia akan menyerah dan memilih untuk meninggalkan Alex?