
"Kita naik angkot ya, Git?" tanya Anggita. Gadis itu terus bergerak gelisah, karena merasa Gita masih mengacuhkannya.
Gita tidak menjawab. Ia hanya melirik sekilas, lalu kembali menoleh ke arah di mana angkot akan lewat.
Din ... din ... din.
"Pulang?" Langit melongok dari jendela mobil yang terbuka.
Dari jauh Gita sebenarnya sudah melihat mobil Langit yang mendekat ke arah mereka, tapi ia berpura-pura tidak melihat.
"Kamu diajakin pulang bareng tuh," celetuk Gita sambil melirik pada Anggita.
"Mau pulang bareng Kak Langit?" tanya Anggita masih belum paham kesewotan Gita.
"Kak Langit nanyain siapa?" seru Gita.
"Ya kalian berdua lah."
"Aku mau nginep di rumah Gita, Kak." Anggita membungkukan badan, lebih melihat ke dalam mobil.
"Ya sudah, ayok bareng sekalian." Langit membuka kunci mobilnya. Gita langsung membuka pintu belakang mobil, sebelum Anggita sempat meraihnya.
"Loh, Git?"
"Sudah, kamu di depan ga pa-pa, atau mau di belakang sama Gita?" tanya Langit yang sudah membuka pintu depan.
"Aku di depan aja. Ga enak masak Kak Langit jadi kayak sopir taxi online, kalo semua duduk di belakang," sahut Anggita seraya masuk ke dalam mobil.
Gita melengos melihat Langit dan Anggita tersenyum di bangku depan.
Sekilas ia mendengar perbincangan ringan antara Langit dan Anggita. Topik yang tidak jauh dari sekolah dan pelajaran, tapi di selingi oleh senyuman dan tawa ringan mereka.
Gita mengambil headset dan ponsel dari dalam tas, lalu memutar musik favoritenya. Ia memejamkan mata sambil menikmati musik, tidak mau melihat ke arah bangku depan yang membuat hatinya panas.
Kenapa aku harus marah? Kak Langit bukan Teddy, yang harus aku cemburui. Biar aja mereka mau jadian ato pacaran, terserah!, peduli amat!
Gita semakin mengeraskan volume musiknya, saat suara tawa Anggita masuk di pendengarannya.
"Nggi, Gita sama kamu marahan?" bisik Langit.
"Ga tau juga, Kak. Beberapa hari ini dia ketus sama aku."
"Mungkin dia cemburu, dikira aku deketin Teddy, padahal ...." Anggita tertunduk tidak melanjutkan kalimatnya.
"Aku tau. Aku juga ga berhak menghakimi kamu, hanya bisa kasih saran sebelum terlanjur jauh, segera keluar dari dunia semacam itu. Kamu masih sangat muda, masa depan kamu masih panjang banget."
"Terima kasih kamu masih mau lindungin Gita."
"Gita temen baikku, Kak. Mana ada temen yang senang lihat temennya susah."
"Banyak," sahut Langit cepat, lalu tertawa diikuti oleh Anggita.
__ADS_1
Gita membuka matanya sedikit, ia melihat keduanya semakin akrab. Ia mematikan musiknya lalu menghubungi Teddy.
Dering keempat Teddy mengangkat panggilannya, "Halo, ada apa Git?"
"Kak Teddy lagi ngapain?" Gita sengaja bersuara agak keras dan sedikit manja.
Tindakannya itu berhasil menarik perhatian Langit dan Anggita.
"Ow, tumben ga lagi jalan. Ga pa-pa cuman pengen nelpon doang. Ngecek aja, Kak Teddy tadi bener ga masukin nomernya."
"Iyaaa, sampe ketemu besok. Da daa." Gita mengakhiri panggilannya dengan rasa puas.
Ia tahu sedang diperhatikan kedua orang yang sedang duduk di bangku depan.
"Kamu masih berhubungan dengan manusia itu?" tanya Langit dengan nada jelas tersirat tidak suka.
"Sebut nama dong, ga sopan banget," gerutu Gita.
"Aku ga perlu terlalu sopan untuk orang macam dia," sahut Langit ketus.
"Harus orang seperti apa yang pantas di hormati?, seperti Kak Langit?" balas Gita ketus.
"Kamu kenapa sih?!" Langit meliriknya dari kaca spion. Anggita menggeleng pelan memberi kode pada Langit agar tidak terpancing emosi. Hal itu tidak luput dari pandangan Gita dan semakin menambah kadar emosinya.
"Terima kasih sudah diantar!" ucap Gita, seraya membuka pintu mobil tanpa mau memandang Langit.
Ia berjalan masuk ke dalam rumah. Sekilas ia menoleh ke luar, Anggita masih berbisik dengan Langit di dalam mobil.
Gita terus membatin kesal, sambil duduk di kursi tamu membuka sepatu dan kaos kakinya. Ia masih menunggu Anggita masuk ke dalam rumahnya.
"Selamat siang, Tante." Anggita memberi salam pada Mama Gita yang sedang menyiapkan makan siang.
"Siaangg, tumben main ke rumah," sambut Mama Gita ceria.
"Saya mau nginap di rumah Gita, boleh Tante?"
"Boleeeh banget. Gini dong, Tante malah seneng rumah jadi rame. Si Gita biar ga kelayapan terus," sahut Mama seraya melirik putrinya yang masih berwajah masam.
"Yuk, kalian ganti baju dulu, lalu makan ya." Dengan lincah Mama Gita berjalan keluar masuk, antara dapur dan ruang makan.
Gita masuk ke dalam kamar diikuti Anggita di belakangnya.
"Aku sudah bawa baju kok, Git," ucap Anggita, saat melihat Gita membuka lemari bajunya.
"Oww, dah niat dong berarti mau nginep." Gita melirik sinis, "Ga asyik kalo cuman berdua, garing," lanjutnya lalu mengetik pesan pada ponselnya.
"Kamu hubungin siapa?" tanya Anggita.
"Nindy," jawab Gita singkat.
"Jangan!" Anggita menutup layar ponsel Gita, membuat gadis itu menghentikan ketikannya.
__ADS_1
"A-aku mau ngobrol berdua kamu aja."
Gita sudah membuka mulutnya ingin bertanya, tapi panggilan Mamanya untuk segera makan membuatnya urung untuk menyahut.
Setelah makan siang mereka masih banyak berdiam di dalam kamar. Sesekali Anggita melirik Gita yang asyik menonton drama korea dari ponselnya. Sementara itu tanpa Anggita sadari, Gita juga memperhatikan dirinya dari ujung matanya.
Hatinya agak sedikit bergemuruh, melihat Anggita sibuk mengetik sesuatu di ponselnya. Ia membayangkan, Langit dan Anggita saling berkirim pesan mesra.
"Huuhhh!, bosen!" seru Gita tiba-tiba. Ia berjalan keluar kamar dan membuka lemari pendingin. Matanya menangkap beberapa batang coklat yang tersimpan, termasuk pemberian Langit yang belum sempat disentuhnya.
Ia mengambil tiga batang coklat pemberian Langit, lalu berjalan masuk ke dalam kamar. Baru sampai di depan kamar, ia berbalik kembali ke lemari pendingin lalu menaruh dua batang coklat pemberian Langit, dan menggantinya dengan coklat lain yang pernah ia beli sendiri.
"Nih." Gita memberi sebatang coklat pada Anggita.
"Makasiiih." Anggita menerima coklat dari tangan Gita.
Sedangkan ia sendiri memegang coklat pemberian Langit. Ada rasa tidak rela jika Anggita ikut menikmati coklat yang dibeli oleh Langit, padahal merk dan jenisnya sama saja.
"Git, kamu marah sama aku?" tanya Anggita pelan. Mereka duduk di atas karpet bulu, masing-masing menikmati sebatang coklat.
"Ga, ngapain aku marah?" sahut Gita tak acuh.
"Sikapmu beda. Kamu salah paham tentang Teddy. Aku sama sekali tidak tertarik sama dia."
'Aku ga peduli kamu suka sama Teddy, aku ga suka kamu deket sama Kak Langit.' Suara hati Gita spontan menyahut penjelasan temannya. Ia sendiri agak terkejut dengan apa yang ada dalam pikirannya.
"Tapi, aku juga ga mau kamu dekat sama Teddy, Git."
"Kamu bilang kamu ga tertarik sama dia, tapi kenapa kamu larang aku deket sama Kak Teddy? apa hakmu?!" seru Gita kesal.
...❤❤...
follow ig : ave_aveeii
Ingatkan lagi aahh ..
Love/favorite ❤
Komen bebas asal santun 💭
Like / jempol 👍
Bunga 🌹
Kopi ☕
Rating / bintang lima 🌟
Votenya doong 🥰
Mampir ke karya teman aku yuk
__ADS_1