Ternyata Itu Cinta

Ternyata Itu Cinta
Rasanya enak


__ADS_3

Langit : Aku cemburu? IYA


Lama-lama aku muak mendengar nama pria itu disebut berulang kali. Apalagi dia menyebutnya di dalam kendaraanku, muak rasanya.


Aku cemburu? mungkin ... peduli amat.


Aku sudah menahan emosi sejak ia berganti pakaian yang ... damn! ingin kurobek saja gaun jahanam itu.


Pakaian itu yang biasa digunakan wanita dewasa untuk menggoda pria hidung belang, dan dia masih anak SMU yang belum genap tujuh belas tahun!


Aku jadi penasaran kapan dan di mana dia beli pakaian jahanam itu.


Apa kata Tante Silvi dan Bima jika tahu Gita yang sehari-hari polos, sudah berani berdekatan dengan seorang pria dan berharap dicium pula ... oh ini gila!


Saat pria itu berani memegang pinggang lalu leher serta rambutnya, rasanya ingin kupatahkan semua tulang cowok metroseksual itu.


Puncaknya saat dia berusaha menggapai bibir Empi, tidak ada toleransi lagi bagiku. Andaikan Empi saat itu bersikeras menolak untuk pulang, aku ga segan menggotongnya seperti karung beras di pundakku.


Saat sudah di dalam mobil, dia kembali berulah menggerutu dan selalu menyebut nama Teddy berharap mendapatkan ciuman dari pria brengsek itu.


Tidak cukup sampai di situ, ia menyalahkan aku karena impiannya dicium idola sekolah gagal, beraninya dia!


Tidak cukupkah saat pentas drama? jika tidak ingat ada kepala sekolah dan beberapa guru yang ikut menonton, mungkin sepatuku sudah mendarat di kepala pria tulang lunak itu.


Sekarang dia tidak bisa berbicara lagi karena bibirnya ada di dalam kekuasaanku ... aku menciumnya cukup lama.


Aku tahu resiko yang akan aku terima, dia berteriak dan menjerit atau aku ditampar mungkin juga diludahi ... terserah asal jangan sebut nama Teddy di dekatku!


Salah semua ... dia menangis. Aku salah?


"Empi," Dia tidak menyahut. Hanya diam dan matanya masih meneteskan air mata.


"Marah? ... ga pa-pa marah aja." Dia tidak mau melihat ke arahku, matanya menatap ke luar jendela mobil.


"Mau pukul?, sini pukul aku." Aku meraih tangannya dan menempelkan ke pipiku ... tidak ada reaksi.


"Atau mau dicium lagi?"


"JAHAT!" Dia bereaksi saat aku mengucapkan kalimat itu, matanya menyiratkan kekesalan.


Tidak apa, lebih baik seperti itu, dari pada hanya diam dan menangis. Aku paling tidak bisa melihat dia sedih.


...❤...


Gita : Ciuman itu ternyata enak


Mau pingsan rasanya saat Kak Langit menciumku.


Apa coba tujuannya?, kalau aku cerewet biasanya dia hanya menutup mulutku atau menarik bibirku.


Apa mungkin karena aku tadi bilang ingin dicium Teddy?, tapi kan aku pinginnya Teddyyyyyy yang menciumku .... aarrggghhhh!


Saat Teddy menciumku di panggung, yang aku rasakan kaget dan bangga. Sudah itu aja. Tapi kenapa saat Kak Langit menciumku rasanya ... berbeda.

__ADS_1


Sebetulnya bisa aja tadi aku mendorongnya, bahkan menamparnya tapi tadi aku hanya diam dan menikmati.


Parahnya aku suka.


Air mataku turun begitu saja, aku sendiri ga tau arti tangisanku, bahagia, sedih atau marah ... aku benar-benar ga tau.


Yang aku tahu, aku ga rela bibir Kak Langit menjauh dari bibirku ... aaakkkkhhhhh. Stop Gita!, hentikan pikiran kotormu!


Sepanjang perjalanan aku cuman diam aja, takut kalo kelihatan mupeng kan maluuu.


Hangatnya bibir Kak Langit masih terasa sekali, tanganku gatel mau nyentuh bibirku tapi aku malu.


Beginikah rasanya ciuman ... enak ternyata.


Oh ya ampun tolonglah otakku!, kenapa juga harus dengan Kak Langit, kan jadi canggung gini.


"Empi, nanti jangan bilang Bima sama Mamamu ya aku cium."


"Kenapa?, aku bilanglah kalo Kak Langit nakal!"


"Ow ya ga apa-apa juga kalo kamu mau bilang, aku cuman khawatir kalo kita langsung dinikahkan. Aku sih ga masalah."


What??! mana ada pikiranku sampai sana. Auto lebih baik diam aja dari pada masa mudaku terenggut paksa, aku ga mau ada cerita pernikahan dini di hidupku.


"Mau kemana lagi sih ini?"


"Makan, laper nungguin kamu pacaran berdua sama cecunguk itu."


"Teddy, namanya Teddy bukan cecunguk."


"Lebay."


Kak Langit membawaku ke rumah makan seafood, makanan favorite aku.


"Kamu beli baju itu di mana?"


"Online shop."


"Toko apa namanya?"


"Lajanda."


"Coba lihat aplikasinya." Tangannya terulur meminta ponselku.


"Mau ngapain?, donlot sendiri napa?"


"Mau lihat dulu punyamu." Dia bersikeras meminta ponselku.


"Laah kok di hapus sih?" Kesal betul aplikasi online shop ku hilang semua ga hanya lajanda, warungpedia, shopan sudah tidak ter-instal lagi di ponselku.


"Biar kamu ga boros belanja terus."


"Suka-suka akulah, pake duit aku sendiri juga." Aku kembali membuka ponsel, untuk mendonlot semua aplikasi yang tadi sudah dihapus.

__ADS_1


"Kamu instal sekali lagi, aku bilang sama Bima dan Mamamu, kalau kamu beli baju model dewasa seperti itu." Kak Langit menatapku tajam, aku tahu arti tatapan itu dia sedang serius dengan ucapannya.


"Kenapa sih, Kak Langit ngatur aku terus. Kak Bima juga ga segini banget!" Aku lempar ponselku begitu aja di atas meja.


Aku benar-benar kesal sekarang.


Kak Langit ga menjawab pertanyaanku, ia hanya menarik nafas panjang dan mulai membuka kulit udang goreng dan menaruhnya di piringku.


Masih dengan diamnya, Kak Langit merobek-robek daging ikan kakap bakar, hingga terlepas dari tulangnya dan menaruhnya lagi di piringku.


Aku hanya diam saja mengamati, ini sudah menjadi hal yang biasa sejak dari aku masih kecil. Kak Langit dari dulu benar-benar merawatku, dengan arti yang sebenarnya.


Malah aku dulu sempat berpikir jika aku anak yang tertukar, atau aku ini sebenarnya anak Tante Laras lalu di adopsi oleh Mama.


"Ngomel itu butuh energi, makan dulu." Sambil makan aku mengamati Kak Langit, dia tampak biasa aja. Tidak ada tanda-tanda terganggu dengan pertanyaanku tadi.


...❤...


Langit : Aku tidak bisa berhenti


Aku sedikit lega tadi saat reaksi Empi tidak terlalu berlebihan saat aku menciumnya.


Sepertinya dia juga menikmati, apa hanya perasaanku saja?


Aku tentu saja menikmati dan menyukai saat aku mencium bibirnya.


Ini ciuman pertamaku. Rencananya aku hanya mengecup, untuk sekedar memberinya peringatan tapi karena tidak ada penolakan darinya ciumanku semakin berani.


Mungkin ini yang dinamakan naluri, tidak perlu belajar caranya berciuman aku mendadak bisa dan cukup mahir saat sedikit menyesap bibir mungilnya.


Rasanya ... aku benar-benar tidak ingin berhenti dan ingin mengulanginya lagi.


Aku tidak bisa menjawab pertanyaannya, karena aku sendiri tidak tahu kenapa aku harus repot untuk hal-hal kecil tentangnya.


Apa aku sudah benar-benar jatuh cinta sama gadis di hadapanku ini?


Sial! sepertinya setelah ini aku akan dihajar oleh Bima dan di kejar Tante Silvi dengan sapunya.


...❤❤...


Love (favorite)


Komen


Like


Vote


Rating


Jangan lupa ya 🙏🥰


Mampir di karya temanku ya

__ADS_1



__ADS_2