
Sampai di lorong kelas, Gita melihat kedua sahabatnya Anggita dan Nindy sedang merobek-robek sesuatu.
"Itu apa?" tanya Gita seraya mengintip lembaran kertas yang dipegang Nindy.
"Gita! bikin kaget aja," seru Nindy terkejut. Sahabatnya itu segera menyenbunyikan semua kertas di balik badannya.
"Ada apa sih?, itu apa aku kok ga boleh liat," protes Gita.
"Bukan apa-apa. Ga penting, ini tugasku dikembalikan Pak Sentot salah semua." Nindy meremas semua lembaran kertas yang dipegangnya lalu membuangnya ke tempat sampah.
"Yuk, masuk." Nindy dan Anggita menggiringnya ke arah kelas mereka. Gita masih merasa tidak puas, ia melirik wajah kedua sahabatnya itu yang seperti menyembunyikan sesuatu.
"Wuuuu, pela*cuurr!" suara teriakan dari jendela kelas yang dilewati mereka bertiga terdengar.
"Apa itu?!" seru Gita terkejut.
"Bukan apa-apa, biasa kelas itu kan selalu ribut." Kedua sahabatnya itu memaksanya untuk terus berjalan.
"Siapa yang mereka teriakin tadi?" tanya Gita. Ia merasa yakin jika teriakan itu ditujukan untuknya.
"Ga tau," sahut Anggita cuek.
Saat ketiganya masuk di dalam kelas, mereka di sambut tulisan besar di papan tulis.
...Sekolah ini bukan untuk pelacur! Kami tidak sudi satu kelas dengan piaraan om-om!...
"Apa maksudnya ini?" bisik Gita pada Anggita.
Suasana kelas langsung hening saat mereka bertiga masuk dan membaca tulisan yang ada di papan. Beberapa anak saling berbisik dan memandang kasihan pada mereka, sekelompok anak yang lain memandang mereka layaknya sesuatu yang hina.
"Ga usah dianggap, yang dimaksud aku. Mereka sudah tau tentang aku," ujar Anggita dengan tubuh menegang. Sedangkan Nindy sudah bergerak cepat menghapus tulisan besar yang ada di papan tulis.
__ADS_1
Gita tidak menghiraukan penjelasan Anggita, ia lebih tertarik dengan selebaran yang menempel pada papan tulis.
Nindy yang tahu jika Gita akan mengambil kertas yang ditempel di papan tulis hendak menyambar, tapi tangannya kalah cepat dengan Gita yang sudah sangat penasaran.
Mata Gita membesar saat fotonya berada di sana yang sudah di edit sedemikian rupa sehingga menyerupai wanita hamil besar. Di bawah gambar editan itu ada beberapa gambar lain. Fotonya saat berjalan masuk ke apartment milik Langit yang masih memakai seragam sekolah. Tertulis di bawah foto itu, 'Gita peliharaan om-om senang'
"Tulisan itu bukan buatmu, tapi buat aku," ucap Gita lirih pada Anggita yang berjalan mendekat.
"Kamu ga usah lihat ini." Anggita merampas kertas yang dipegang Gita.
"Wooii, siapa yang nulis beginian di kelas ini??!" Nindy berkacak pinggang di depan kelas, "Kalo di luar sana, aku ga peduli, tapi kalo di dalam kelas ini. Kalian akan berurusan dengan aku," tantang Nindy.
"Hei, Nin. Kami ga ada urusan sama kamu, kami cuman keberatan kalo dia ada di kelas ini!" seru siswa berambut keriting.
"Memangnya kenapa? nyusahin kamu dia?" tantang Nindy lagi.
"Malu-maluin tau. Kelas kita di cap jelek ada siswi hamil sama om-om. Gila banget!" seru salah satu siswi yang berada satu kubu dengan si keriting.
"Kamu hamil, Git?" tanya Anggita dengan suara berbisik.
"Laaah, kamu sendiri temen deketnya ga tau kalo dia hamil. Fix per*ek lu, Git!" Si keriting kembali memprovokasi teman-temannya
"Huuuu ... huuuu ...." Suasana kelas semakin ribut.
"Bego kalian tuh, kalopun si Gita hamil ya ga masalah karena dia punya suami! Gita udah nikah!" bela Nindy. Gita menarik tangan Nindy lalu menggelengkan kepala saat sahabatnya itu menoleh.
"Paling juga nikah siri sama om-om," celetuk seorang siswi."
"Kenapa sih, Git? tunjukin foto nikah kamu, mereka sudah itu keterlaluan," seru Nindy gemas.
Gita hanya menggeleng lalu berjalan keluar dari kelas menuju kamar mandi.
__ADS_1
"Naaah, ini dia bintang sekolah kita hari ini." Melinda dan beberapa temannya berjalan menghadang Gita.
"Kalian mau apa sih?" Gita mencoba menyeruak barisan Melinda dan teman-temannya yang menghadang dirinya.
"Hei, hei jangan gitu dong. Gini-gini mantan kesayanganku." Tiba-tiba Teddy muncul dari belakangnya dan langsung merangkul pundak Gita, "Kamu dicoba sama siapa, sayang? dapet duit ga? coba sama sama Daddy Bagas sudah tajir kamu." Teddy memberikan senyuman sinis.
"Jangan kurang ajar kamu!" Gita mendorong tubuh Teddy keras. Setelah terbebas dari kukungan Melinda dan teman-temannya, Gita langsung berlari ke arah kamar mandi. Dari jauh masih terdengar suara teriakan Teddy dan gerombolannya.
"Pe*rek!*
"Usirr pela*cur!*
"Piaraan om-om!"
...❤❤...
Promosi karya teman lewat dulu ya, ramaikan di sana 🥰
Seorang gadis bernama Cinta yang berasal dari keluarga yang kaya, mandiri, pintar dan baik hati.
Suatu ketika kedua orang tuanya harus menangani beberapa kantor cabang yang ada di luar negeri
Sehingga mengharuskan dirinya selama orang tuanya berada di luar negeri dikawal oleh seorang bodyguard.
Cinta menolak dan terus menolak merasa mampu dan tidak membutuhkan seorang bodyguard.
Tetapi takdir berkata lain akhirnya ia jatuh cinta dan bertekuk lutut pada pesona bodyguardnya
Ikuti kisahnya bagaimana pesona seorang bodyguard bisa mengalahkan beberapa cowok cowok tajir dan ganteng lainnya. bahkan menundukan kedua orang tua Cinta
__ADS_1