Ternyata Itu Cinta

Ternyata Itu Cinta
Tolong jaga anak Om


__ADS_3

Om Wahyu menarik nafas panjang mendengar topik yang akan dibicarakan oleh Langit.


"Maaf sebelumnya, saya ga bisa memenuhi permintaan Om," tegas Langit.


"Kenapa? apa karena gadis yang semalam? sepertinya kamu perhatian sekali dengan dia."


Spontan senyum Langit terkembang, perkataan Om Wahyu mengingatkannya pada Gita yang ia tinggalkan bersama Gaby di ruangannya.


"Sepertinya benar ya? senyummu sudah mewakili perasaanmu,." Om Wahyu tersenyum kecut.


"Lang, tapi dia kan gadis kurang baik, masak kamu serius mau sama dia?"


"Itu semua ga bener, Om. Saya sudah mengenal Gita sejak kami masih kecil. Selama ini juga Gita selalu ada di samping saya, jadi saya tau betul bagaimana dia," jelas Langit. Ia sedikit tidak suka dengan tanggapan Om Wahyu, tentang gadis yang disukainya.


"Hhmmm, okelah tentang gadis itu. Tapi Lang, tidakkah kamu ada perhatian walaupun sedikit untuk anak, Om? Selama ini yang Om tau kamu perhatian dengan Gaby."


"Om, saya memang perhatian dengan Gaby. Itu semua karena saya menghargai Om Wahyu yang sudah saya anggap sebagai Papa saya, begitu juga dengan Gaby sudah saya anggap seperti adik saya sendiri."


"Waktu kami pulang dari rumahmu semalam, di mobil Gaby cerita kalau kalian berdua sudah jadian. Benar seperti itu?"


"Gaby salah paham, Om. Saya tidak pernah punya hubungan spesial dengan Gaby."


"Baiklah, Om mengerti." Om Wahyu mengangguk, tapi dari wajahnya Langit tahu ada sesuatu yang ia pikirkan.


"Kalau begitu, saya permisi kembali ke ruangan saya." Langit beranjak berdiri dari hadapan Om Wahyu.


"Lang," panggil Om Wahyu, saat ia sudah sampai di depan pintu.


"Bisakah kamu tetap menemani Gaby? ... maksud Om, jangan langsung kamu jauhi. Gaby ingin tinggal di Indonesia sebenarnya, hanya karena ingin dekat sama kamu. Cuman kamu temannya di Indonesia ini. Gaby putri Om satu-satunya, Lang, Om hanya bisa berharap dan minta tolong sama kamu aja. Bisa, Lang?" Om Wahyu menatap Langit dengan tatapan mengiba.


Langit termenung sebentar lalu mengangguk samar, dan langsung keluar dari ruangan sahabat Papanya itu.


Sementara itu saat Langit berbicara dengan Om Wahyu, Langit meninggalkan Gita dan Gaby hanya berdua di dalam ruangan kerjanya.


Gaby menatap tajam gadis yang sedang duduk santai di hadapannya. Matanya selalu mengikuti pergerakan Gita kemana saja, seolah sedang mengintai pergerakan lawan.


"Sedekat apa kamu sama Kak Langit?" tanya Gaby akhirnya.


"Deket banget," jawab Gita tak acuh. Sekilas ia melihat ke arah Gaby, lalu kembali lagi menekuni layar ponselnya.


"Aku ga percaya, Kak Langit mau deket sama cewek panggilan model kamu," ucap Gaby sinis.


Gita menaruh ponselnya, harga dirinya terusik oleh ucapan Gaby.

__ADS_1


"Siapa yang kamu sebut wanita panggilan?"


"Kita cuman berdua di sini, jangan pura-pura blo'on." Gaby tersenyum mengejek.


"Kalau yang kamu maksud itu aku, sayangnya kamu mendengar kabar yang salah."


"Bagiku benar ato salah, kamu tetap wanita murahan, gampangan, cewek bispak, pe*rek, aaacchhh ...." Gaby menjerit saat tangan Gita menampar pipinya dan rambutnya ditarik hingga ia terjatuh dari kursi.


"Empi!!" seru Langit terkejut. Tepat saat Gita menampar wajah Gaby, Langit masuk ke dalam ruangannya.


"Kak Langiiit." Gaby terisak berlari ke arah Langit sembari memegang pipinya yang memerah.


"Kamu kenapa tampar Gaby?!" hardik Langit. Suaranya sedikit meninggi, karena terkejut tidak menyangka Gita bisa berbuat kasar seperti itu.


Gita hanya terdiam. Ia berusaha mengunci mulutnya rapat-rapat karena menahan tangis yang akan meledak, jika ia mengeluarkan satu kata saja. Belum reda sakit hati atas hinaan Gaby, ia tadi dikejutkan lagi oleh hardikan Langit.


"Sakit, Kak." Gaby masih terisak dan mengusap pipinya. Rambutnya sudah kusut tidak beraturan.


"Lihat." Langit menyingkirkan tangan Gaby yang memegang pipinya. Saat jari Langit mengusap bagian pipi Gaby yang memerah, Gita memalingkan wajahnya.


"Aku mau ke tempat Papa," ucap Gaby.


"Jangan! eh, kamu di sini aja dulu ya," tahan Langit. Ia semata-mata menahan Gaby di ruangannya karena tidak enak pada Om Wahyu, jika putrinya muncul dengan keadaan pipi merah dan mata yang sembab.


"Kamu juga di sini! Jangan kemana-mana!" seru Langit. Tangannya mencekal lengan Gita, saat gadis itu berjalan melewatinya.


"Aku capek, mau pulang," ucap Gita dengan kepala menunduk. Ia berusaha melepaskan cengkraman tangan Langit dari lengannya.


"Kamu datang sama aku, jadi aku yang harus anter kamu pulang," tegas Langit.


"Duduk!" perintah Langit seraya menunjuk sofa di ruangannya.


Gita menuruti perintah Langit, air matanya pelan-pelan menetes. Ia berulang kali menyusut air mata yang belum sempat jatuh di pipinya.


Langit duduk di kursinya, sesekali ia melirik kedua gadis yang duduk saling berhadapan di sofa tamunya.


Gadis yang satu menatap tajam dan marah pada gadis yang duduk dihadapannya sambil mengusap pipi dan merapikan rambutnya, sedangkan yang satunya menunduk dengan jari tangan tak henti menyusut air matanya.


"Ayo pulang," ajak Langit. Ia memutuskan membawa pekerjaan pulang ke rumah, karena tidak tega dengan Gita yang masih saja terus menangis.


"Kamu ke ruangan Papamu ya," ucap Langit pada Gaby.


"Aku pulang sama Kak Langit aja, tunggu Papa lama." Gaby merajuk.

__ADS_1


"Ga bisa, kamu sama Papamu aja," tolak Langit tegas. Ia tidak mau menyatukan dua gadis ini lagi dalam satu ruangan.


Sementara itu saat tadi pagi Langit dan Gita berangkat ke sekolah, Mama Langit berkunjung ke rumah Gita.


"Tumbeenn main ke sini, biasanya juga nge-WA doang," sindir Mama Gita.


"Bawain ini." Mama Langit menyodorkan sekotak kue bolen pisang yang dibawa oleh Om Wahyu semalam.


"Ga selera, kamu aja yang makan," Mama Gita mencebik melihat apa yang dibawa oleh sahabatnya itu.


"Hahahaha, yang gondok. Aku ke sini sekalian mau minta maaf soal kemarin."


"Ga pa-pa, bukan salahmu juga." Mama Gita menyodorkan secangkir teh hangat dan memindahkan kue yang dibawa Mama Langit ke atas piring.


"Tapi aku tetap harus minta maaf. Langit sudah cerita semuanya semalam. Untung aku ga lihat kamu mau pukul Gita, coba aku di sana sudah kuplintir tanganmu." Mama Langit mencubit gemas tangan Mama Gita.


"Sapa yang ga syok coba, kalau kamu ada di posisiku mungkin kamu melakukan hal yang sama," ucap Mama Gita tak terima disalahkan.


"Iyaaa, tapi setidaknya dengarkan penjelasan anakmu dulu." Mama Gita hanya mendesah keras mendengarkan nasihat temannya.


"Kamu tau kan kenapa aku takut Gita jatuh dalam dunia seperti itu? Di sini belum bisa lupa, Ras!" Mama Gita menunjuk dadanya dengan wajah menahan rasa sakit.


"Aku ngerti." Mama Langit mengusap-usap punggung Mama Gita, "Aku ke sini juga mau bicarakan tentang Langit dan Gita."


...❤❤...


Ingatkan lagi aahh ..


Love/favorite ❤


Komen bebas asal santun 💭


Like / jempol di setiap bab👍


Bunga 🌹


Kopi ☕


Rating / bintang lima 🌟


Votenya doong 🥰


Sudah mampir ke sini belum

__ADS_1



__ADS_2