Ternyata Itu Cinta

Ternyata Itu Cinta
Kamu Milik Ku


__ADS_3

Mama Langit menarik nafas lalu memperbaiki posisi duduknya lalu menghadap sahabatnya.


"Kita besanan yuk," ucapnya lugas. Matanya berbinar, dengan wajah yang berusaha menahan senyumannya yang lebar.


"Hah?" Mama Gita terkejut dan heran.


"Iyaaa, kita besanan. Anakku dan anakmu kita nikahkan," tambah Mama Langit bersemangat.


"Issshh, anakku kan masih kecil, Laras."


"Ga sekarang juga, Sil. Tunangan dulu kan bisa. Mereka diikat dulu gitu," usul Mama Laras kekeh.


"Kok kamu yang semangat sih? iyaaa, aku ngerti kalo Gita itu cantik seperti aku, jadi kamu mau ambil buat anakmu gitu kan?, tapi ga perlu buru-buru gitu lah," seloroh Mama Gita.


"Ke-GR-an! aku bilang gini juga karena anakku yang minta."


"Langit suka sama Gita? yakin kamu?"


"Yakin sekali. Anakku sudah bilang dengan jelas sama aku, kalo dia suka sama Gita. Malah minta nikah cepat." Mama Langit terbahak.


"Beneran?? bukannya mereka deket sudah seperti kakak adek gitu, Ras?" Mama Gita masih belum percaya.


"Justru mereka sudah deket jadi gampang kan, lagian aku gerah sama permintaannya Mas Wahyu. Anaknya kayak terobsesi banget sama Langit. Waktu kemarin Langit pergi nyusulin kamu sama Gita tuh, Sil, si Gaby ngamuk-ngamuk di rumahku. Lah, Langit juga bukan siapa-siapanya kenapa dia juga yang ngatur. Aku ga mau ah, punya mantu seperti Gaby," omel Mama Langit panjang lebar.


Mama Gita tertawa lebar melihat temannya mengomel tanpa henti.


"Aku juga sebenarnya merasa tenang dan aman kalo Langit ada di dekat Gita, tapi ga sampe sana pikiranku, Ras. Kalo untuk urusan jodoh aku serahkan semua ke anak-anak, selama calonnya baik dan mereka bahagia, aku setuju aja."


"Anakku baik kan, Sil?" Mata Mama Langit mengerling.


"Baiiik. Mamanya yang kurang baik, bawa kue cuman sedikit."


...❤...


"Kamu kenapa tadi nangis? Kamu pukul Gaby malah kamu yang nangis. Heran aku tuh," goda Langit saat mereka ada di dalam mobil dalam perjalanan pulang.


Ia ingin memancing Gita untuk berbicara, karena sejak mereka masuk ke dalam mobil, tidak ada yang mengeluarkan satu kata pun.


Sudah lama Langit tidak mendengar rengekan manja, nada sewot atau permintaan yang merepotkan dari Gita. Sungguh ia sangat merindukan semuanya itu dari gadis cerewet yang ada di sebelahnya ini.


"Ga pa-pa cuman kesel aja," ucap Gita masih menatap ke jendela luar.


"Dia ngomong apa sampe kamu kesel?" tanya Langit. Gita hanya menggeleng, enggan untuk menjelaskan.


"Kalo kamu ga cerita, mana aku tau. Tadi pagi kan aku sudah bilang, kalo ada apa-apa cerita biar aku bisa bantu."


"Sudah berlalu," ucap Gita pelan.


Langit menghentikan mobilnya di sisi taman arah masuk ke perumahan mereka.

__ADS_1


"Kok berhenti?"


"Aku ga akan jalan, kalo kamu ga cerita ada apa tadi dengan Gaby."


"Kok maksa banget sih? ga ada urusan juga sama Kak langit," ucap Gita ketus.


"Bukannya maksa, tapi menghindari jika terjadi sesuatu. Aku ga mau kejadian kamu sama Teddy terulang lagi."


"Tanya aja lah sama si Gaby, aku lagi males cerita," ucap Gita kesal.


"Kan aku lagi sama kamu sekarang, ya tanyanya sama kamu dong."


"Percuma! cerita versi dia pasti Kak Langit lebih percaya dari pada kalo aku yang cerita," sungut Gita.


Langit tersenyum, ia sudah hafal dengan sikap adik sahabatnya itu. Jika ada yang tidak sesuai dengan keinginannya, biasanya Gita akan berbalik marah untuk menutupi rasa kesalnya.


"Ya udah nanti aku tanya sama Gaby," pancing Langit.


"Ya udah sana, mumpung masih di kantor anaknya," ucap Gita ketus, "Mo jalan ga nih?" lanjutnya. Gita melirik Langit yang masih memandangnya, dengan tersenyum simpul penuh arti.


"Ya udah kalo ga mau nganterin sampe rumah, aku jalan kaki aja," putus Gita seraya membuka pintu mobil.


Tanpa ia duga saat pintu baru terbuka sedikit, Langit langsung menahan lengannya dan menarik pintu agar tertutup kembali.


"Sekarang cepet banget kalo ngambek," ucap Langit seraya mengunci pintu mobilnya.


Mata Langit menatap lurus tepat di kedua bola matanya. Tak tahan di pandangi seperti itu, Gita memalingkan wajahnya ke luar jendela.


"Empi," panggil Langit pelan. Tangannya memegang pipi Gita, lalu memalingkan wajahnya kembali saling berhadapan.


"Kenapa marah?" tanyanya lembut.


"A-aku ga marah," ucap Gita terbata karena sibuk menetralkan degup jantungnya.


"Kamu marah," Langit bersikukuh masih dengan nada pelan dan dalam.


"Enggak," Elak Gita. Bibirnya maju mengkerucut, membuat Langit semakin gemas.


Perlahan namun pasti Langit mendekatkan wajahnya, lalu menempelkan bibirnya ke bibir Gita yang mengkerucut maju. Terdiam sesaat, merasa tidak ada penolakan dari Gita, ia semakin berani menyesap bibir gadis itu seperti waktu Gita mengomel karena tidak berhasil dicium oleh Teddy.


"Masih marah?" tanya Langit pelan, setelah beberapa saat ia mencium Gita.


Wajahnya masih tetap berada di depan wajah Gita yang memerah.


Bibir Gita setengah terbuka, seakan tidak rela Langit menghentikan ciumannya.


Ia hanya terdiam saat Langit menanyakan apakah ia masih marah. Bagaimana bisa ia marah, jika sudah mendapat vitamin yang menaikan imun tubuh dalam waktu yang singkat.


Melihat Gita yang diam dan tidak menolak malah cenderung pasrah, Langit memberanikan diri mencium gadis itu lebih berani lagi.

__ADS_1


Kali ini Gita tidak hanya diam menerima, ia mulai membalas ciuman pria itu.


Tidak perlu mempelajari dulu bagaimana cara untuk berciuman, mereka berdua tiba-tiba sudah pintar dan ahli dalam bidangnya.


"Kok sudah pinter, belajar dari mana?" tanya Langit menggoda.


"Kak Teddy," ucap Gita asal. Mata Langit membesar kesal.


"Aakkkhh, sakit!" Gita menjerit saat hidungnya ditarik oleh Langit.


"Jangan ngomong sembarangan!"


"Suka-suka aku."


"Kamu sekarang punyaku, jadi jangan nakal," ucap Langit pelan dan tegas. Sekilas ia mengecup bibir Gita lagi.


Gita diam tertegun mencoba mencerna arti kalimat Langit.


"Maksud Kak Langit ... kita pacaran?" tanya Gita, setelah Langit menjalankan mobilnya kembali. Langit tidak mengatakan apapun, ia hanya tersenyum penuh arti.


Mobil berhenti di depan rumah Gita. Berat rasanya ia untuk turun dari mobil Langit, tapi melihat pria itu bersiap akan turun bersamanya, membuat ia merasa sedikit senang dan bertanya, "Mau mampir?"


"Iya, Mamaku tadi bilang lagi main di rumahmu."


Saat Langit dan Gita masuk ke dalam rumah, kedua orang tuanya tampak tertawa lepas bersama di meja makan.


"Naaah, ini yang ditunggu-tunggu sudah datang," ucap Mama Langit sumringah.


...❤❤...


Ingatkan lagi aahh ..


Love/favorite ❤


Komen bebas asal santun 💭


Like / jempol di setiap bab👍


Bunga 🌹


Kopi ☕


Rating / bintang lima 🌟


Votenya doong 🥰


Sudah mampir ke sini belum


__ADS_1


__ADS_2