
Gita berjalan kembali ke tempat duduknya, dengan senyum tersipu malu. Tatapan Anggita mengiringi langkahnya dari depan kelas, sampai ia duduk di kursinya.
Selama pelajaran berlangsung Anggita kerap sekali menoleh ke arah belakang, di mana Gita duduk. Ada rasa tidak tenang di hatinya.
Saat bel pulang sekolah, Gita dengan cepat merapikan peralatan sekolahnya dan melesat keluar kelas dengan cepat.
"Git ... Gita!" Anggi menarik lengan Gita, saat gadis itu berjalan setengah berlari ke arah parkiran sepeda motor.
"Apaan?"
"Kamu mau ke mana?"
"Tumben peduli?" Gita balik bertanya dengan nada sengit.
"Aku tanya, kamu mau ke mana??" tegas Anggita.
"Apa pedulimu?" tanya Gita tak suka.
"Karena aku peduli sama kamu, makanya aku tanya!"
"Aku mau jalan sama Teddy, kenapa?" tantang Gita.
"Ke mana?"
"Kepo banget sih!" Gita menyentak tangan Anggi hingga terlepas.
"Gita!, dengerin aku dulu!" Anggi kembali menarik keras tangan Gita, hingga tubuhnya berbalik menghadap Anggi.
"Apa??, kamu kira cuman kamu yang punya rahasia cara dapetin barang yang kamu suka?"
"Kamu ...." Anggi mengerutkan keningnya, kalimatnya tertahan di ujung lidahnya.
"Iya, aku tau. Kamu egois, Nggi ga pernah mau berbagi sama aku dan Nindy. Kita ini sahabat kan, Nggi?!" Gita menatap sahabatnya dengan tajam.
"A-aku ...." Anggita tergagap, bingung harus bagaimana menjelaskan pada temannya itu.
"Aku pergi dulu, Teddy sudah tunggu."
"Jangan pergi Git!" Anggita kembali menahan langkah Gita dengan wajah khawatir.
"Kamu kenapa sih?, kita sudah punya bagian masing-masing. Permisi." Gita melepaskan tangan Anggi, dan berjalan cepat ke arah Teddy yang sudah menunggunya di atas sepeda motor.
"Maaf lama, Kak." Nafas Gita terengah-engah saat berdiri di samping sepeda motor Teddy.
"Kenapa temen kamu tadi?" Teddy menyerahkan helm ke tangan Gita, tidak seperti Langit yang selalu spontan memakaikan helm langsung ke kepala Gita.
"Kakak lihat tadi?"
"Iya, kamu ga bilang kan kalo kita mau ketemu sama Om Bagas?"
"Enggak kok, aku tadi bilang mau jalan sama Kak Teddy."
"Bagus, pinter." Teddy mencubit hidung Gita.
__ADS_1
"Ayo naik."
Teddy membawa Gita ke sebuah Mall besar di pusat kota.
"Om Bagas sudah nunggu kita di restoran jepang lantai empat, yuk."
Mereka berdua masuk ke dalam restoran yang siang itu terlihat tidak terlalu padat oleh pengunjung, mungkin karena sudah melewati waktu jam makan siang.
"Siang, Om. Maaf kami agak terlambat," sapa Teddy.
"Oh, hai kalian sudah sampai. Ga apa-apa, Om juga baru aja sampai. Duduk dulu, kita makan ya tadi Om sudah pesan."
Gita duduk berhadapan dengan Om Bagas, sementara Teddy duduk di sebelahnya.
"Bagaimana kabarmu, Sayang?" Om Bagas menatapnya lekat.
"Ba-baik, Om." Gita mengangkat kepalanya sebentar, lalu menunduk lagi. Ia agak merasa kurang nyaman dengan tatapan Om Bagas.
"Kok panggil Om, kalo Teddy sih ga apa-apa panggil Om. Kamu kan sudah jadi putri cantiknya Daddy, panggil Daddy dong." Om Bagas tersenyum dengan mata mengerling. Gita sedikit bergidik melihat tatapan Om Bagas.
"Daddy, hubungi kamu kemarin kok ga bisa?, apa nomer yang di kasih Teddy jangan-jangan salah?"
Gita menatap Teddy bingung, pria itu tidak pernah meminta ijinnya untuk memberikan nomer ponselnya pada orang asing.
"Ponsel Gita rusak, Om," jawab Teddy singkat. Ia tidak menghiraukan tatapan tidak setuju dari Gita.
"Oww, kasihan sekali. Nanti kita beli yang baru ya sayang?"
"Ga apa-apa, manis. Ayok kita makan dulu, setelah ini kita ke counter handphone," sahut Om Bagas bersemangat. Teddy mengedipkan sebelah matanya dengan penuh arti.
Hanya Teddy dan Om Bagas yang terlihat bersemangat dan lahap saat makan, sedangkan Gita untuk menelan satu buah sushi ia harus berjuang.
Tatapan Om Bagas yang seperti menghitung jumlah bulu halus yang tumbuh di badannya membuatnya sungguh tidak nyaman.
Setelah selesai makan dan melakukan pembayaran, mereka bertiga berjalan ke arah lantai tujuh di mana counter handphone berjajar.
"Kamu lagi ingin punya ponsel yang bagaimana, cantik." Om Bagas menyentuh pinggangnya, dan menariknya agar lebih mendekat.
"Ee ... ga tau." Tubuh Gita menegang. Ia melirik Teddy yang berjalan di sisinya ingin meminta tolong, tapi cowok itu seakan tidak tahu atau pura-pura tak melihat.
"Gita boleh pilih ponsel mana yang aja kamu suka." Om Bagas mengarahkan Gita ke arah sebuah counter yang agak sepi.
"Mba, anak saya mau cari ponsel, tolong di bantu ya." Om Bagas berkata pada wanita penjaga counter, yang memakai pakaian dengan belahan dada rendah dan rok yang panjangnya hanya setengah dari pah*anya.
Selama Gita memilih ponsel, Om Bagas tidak henti-hentinya memandangi tubuh penjaga counter dari ujung kaki hingga wajah.
"Yang ini aja," ucap Gita memecah imajinasi Om Bagas.
"Kamu yakin yang ini, Sayang. Ga mau yang itu?" Om Bagas menunjuk sebuah ponsel terbaru keluaran merk berlogo buah tergigit.
"Ini aja," jawab Gita yakin.
"Aduh!, Git maaf aku harus cepat pulang ada orang yang tunggu aku di rumah, kita sudah janjian. Ga ada orang di rumah, jadi ga ada yang bukain pintu," Teddy bergerak gelisah.
__ADS_1
"Ya udah, kita balik sekarang. Ini sudah selesai kok." Gita menunjuk Om Bagas yang sedang melakukan pembayaran.
"Duh sori, kita ga bisa barengan. Rumah kita kan ga searah, aku harus cepat sampe rumah. Om, aku titip Gita ya, aku harus pulang sekarang. Git, sori aku duluan ya, daaa ...." Teddy berkata dengan cepat, tidak memberikan kesempatan pada Gita untuk menyela sedikitpun.
Gita hanya melongo melihat Teddy yang sudah hilang di balik pintu lift.
"Nanti Daddy antar pulang." Om Bagas kembali menggamit pinggangnya, mengarahkan ke dalam lift yang pintunya terbuka.
"Rumahnya di mana?" tanya Om Bagas, saat mereka sudah di dalam mobil sedan mewah berwarna hitam.
"Jalan adem sari, Om eh, Daddy."
"Hehehe, belum biasa ya." Om Bagas mencubit pipinya.
"Besok kita beli baju mau?"
"Kapan-kapan aja, Dad."
"Kamu ini memang beda." Om Bagas meraih tangannya lalu menggenggamnya. Gita merasa risih, dengan sangat perlahan ia melepaskan tangan besar Om Bagas.
"Sudah pernah pacaran?" tanya Om Bagas, ia sedikit tersenyum senang saat Gita melepaskan tangannya. Membuktikan bahwa gadis itu masih polos, seperti yang disampaikan Teddy.
Senyum Om Bagas semakin lebar, saat Gita menjawabnya dengan gelengan kepala.
"Belum pernah ciuman dong?" Om Bagas memandangnya dengan tatapan menggoda.
Ingatan Gita langsung tertuju pada malam di mana Langit menciumnya. Rasa rindu tiba-tiba menyergap hatinya. Hampir satu hari penuh ia tidak melihat dan mendengar suara pria itu, sejak kemarin ia mengusir Langit dari kamarnya.
"Kok berhenti, Om?" tanya Gita heran, saat Om Bagas menghentikan mobilnya di sudut taman yang sepi dan teduh.
...❤❤...
follow ig : ave_aveeii
Ingatkan lagi aahh ..
Love/favorite ❤
Komen bebas asal santun 💭
Like / jempol 👍
Bunga 🌹
Kopi ☕
Rating / bintang lima 🌟
Votenya doong 🥰
Yang belum mampir ke karya pertama aku, yuk ramaikan di sana
__ADS_1