
'Halo manis, sudah sampai di rumah?' Gita terpekik kegirangan saat menerima pesan singkat dari Teddy.
Ia baru saja membersihkan diri dan masuk ke dalam kamar dalam kondisi lelah, setelah hampir satu jam terhimpit dalam angkutan kota bersama dengan aneka jenis aroma-aroma tubuh penumpang di siang hari.
Pulang sekolah tadi sengaja ia memilih naik angkutan kota, karena menghindari Langit.
Rasa tidak bebas dan ketidaksukaan Langit pada Teddy sangat mengganggunya.
Belum lagi bayangan Langit yang menciumnya masih menyisakan rasa malu jika bertemu.
Bukan berarti ia tidak menikmati, tapi ini Langit yang sudah dianggap saudara dan dimatanya tidak ada beda dengan Bima kakaknya.
'Ya Kak 🥰.' Gita membalas pesan secepatnya dengan hati yang berkebat-kebit.
'Boleh ga nih aku telepon?'
'Boleh banget.' Gita bergulung-gulung senang di atas tempat tidur, jemarinya lincah membalas pesan dari Teddy.
Nit not nit not ... (anggap seperti itulah ya nada dering ponsel Gita)
"Halooo ...." Suara merdu Gita menyapa. Tadi sebelum menjawab panggilan Teddy, ia sudah berdehem-dehem untuk melancarkan suaranya.
"Lagi ngapain?"
"Kan lagi ngobrol sama Kak Teddy." Gita tak henti-hentinya menahan tawa gembiranya, saat berbicara dengan Teddy melalui ponsel.
Sering ditinggal begitu saja dan sudah dikecewakan berkali-kali oleh Teddy, tidak diingat lagi oleh Gita. Dia sudah benar-benar dibutakan oleh rasa sukanya.
"Kamu bisa aja." Teddy terkekeh di seberang sana.
"Ada apa nih, tumben Kak Teddy telepon aku?" tanya Gita sembari menggigit ujung gulingnya.
"Kangen sama kamu."
"Iiiihhh, Kak Teddy gombaaaall." Gita tidak bisa lagi menyembunyikan rasa bahagianya, hanya karena sepatah kata kangen yang terucap dari mulut sang buaya.
Ia tidak peduli sudah berapa kali dan kepada siapa saja kata kangen itu diucapkan.
"Iya bener kok, aku kangen pingin ajak kamu hangout lagi. Mau ga?"
"Mauu dong."
"Nanti malam yuk, besok sekolah kan libur."
"Booleehh." Tanpa berpikir panjang, Gita mengiyakan ajakan Teddy.
"Tapi jangan ajak satpam kamu ah, ga asyik nanti kita."
"Satpam siapa, Kak?"
"Langit."
"Ow, i-iyaa." Gita tergagap memikirkan seribu cara agar bisa keluar dari rumah tanpa bantuan Langit.
"Aku jemput ya nanti malam?"
"Boleh. Eh, tapi nanti ke mama aku jangan bilang mau pergi jalan ya, Kak. Bilang mau belajar bersama aja." Teddy terbahak mendengarkan alasan Gita di seberang sana.
"Iya, iya. Kamu lucu deh, polos banget jadi pingin cubit."
"Iihhh, apaan sih." Gita serasa melayang digoda seperti itu.
__ADS_1
"Jadi ga sabar nanti malam, dandan yang cantik ya. By the way malam itu kamu sexy banget." Teddy sedikit mendesah saat merayu, membuat Gita semakin meremang.
"Jam delapan aku jemput ya." Teddy mengakhiri percakapannya.
Tinggalah Gita termenung tidur telentang di atas ranjangnya, ia memikirkan berbagai alasan agar nanti malam bisa keluar rumah tanpa ada drama dari mamanya.
...❤...
"Aduuuhhh, kenapa harus malam ini sih?!" Gita memandang ponselnya, sesekali matanya melirik respon mamanya yang sedang menikmati makan malam.
"Ada apa?"
"Ini loh, tugas kelompok aku yang harus dikumpulkan besok lusa, teman-teman satu kelompok minta diselesaikan malam ini juga karena besok kan libur banyak yang ga bisa." Gita berlagak kesal memandang ponselnya.
Lihatlah begitu lancarnya untaian cerita bohong keluar dari mulutnya.
"Ya udah kerjakan aja, ajak teman-temanmu kumpul di rumah. Nanti mama belikan pizza."
"Ga bisa Ma, mereka sebagian sudah kumpul di rumah Nindy. Tinggal aku nih. Uuuuhhhh, kesal banget pinginnya nyantai aja di kamar."
"Minta temenin Langit ke rumah Nindy."
"Kak Langit ga bisa, tadi siang bilangnya banyak kerjaan dari kantor." Dari satu kebohongan muncul kebohongan yang lain.
"Lah terus kamu gimana mau kesana, mama ga ijinin kamu naik angkutan umum atau taxi online sendirian malam-malam gini loh ya."
"Aku coba tanya temen aku yang belum sampe ke rumah Nindy ya Ma, barangkali dia mau mampir ke sini jemput aku dulu." Gita berpura-pura menulis pesan di ponselnya.
"Yeeeaaayyy, dia bisa jemput aku. Aku boleh pergi kerja kelompok ya Ma," tanya Gita dengan tatapan penuh harap.
"Kamu dijemput sama siapa?"
"Yang anter kamu pulang sekolah kapan hari itu?" tanya Mama dengan wajah berkerut. Gita mengangguk, dengan jantung berdebar.
"Yang katanya Bima kamu suka sama dia?" Gita memanyunkan bibirnya kesal, ternyata mamanya sudah tahu dari Kakaknya yang ember banget mulutnya.
"Ganteng sih, Git tapi kata Bima ceweknya banyak."
"Terus kenapa, Ma? Aku kan mau kerja kelompok bukannya mau ijab kabul."
"Hehehe iya sih."
"Boleh ga nih?"
"Ya udah, tapi pulangnya jangan malam-malam."
"Makasih Mama." Gita mencium pipi mamanya dan langsung melesat ke dalam kamar untuk berganti pakaian.
Untuk aman dari pertanyaan mama, ia memakai celana jeans pensil dan kaos ketat v-neck warna hitam yang kontras dengan warna kulitnya.
Untuk menutupi lekuk tubuhnya yang sempurna, ia melapisi dengan jacket jeans yang casual. Setelah memoles wajahnya dengan sedikit make up, Gita mematut dirinya di depan cermin.
"Kamu sexy banget Gita." Ia menirukan gaya Teddy yang mendesah saat memuji dirinya di ponsel.
Seketika Gita memegang pipinya dan menjerit pelan merasakan deburan jantungnya yang bertalu-talu.
"Malam, Tante." Suara Teddy di luar menghentikan khayalannya.
"Selamat malam, kamu yang namanya Teddy?"
"Iya, saya Teddy temannya Gita." Teddy mengambil tangan Tante Silvi dan menciumnya dengan hormat.
__ADS_1
Gita yang berdiri di belakang mamanya, tersenyum senang melihat respon mamanya yang sangat baik dengan Teddy.
"Kalian mau kerja kelompok sampai jam berapa?"
"Ga lama kok, Tan." Teddy memberikan senyum manis pada wanita setengah baya di hadapannya.
"Ow, ya udah buruan berangkat biar pulangnya ga kemalaman."
"Daah Mama." Gita melambaikan tangannya, dan langsung mengikuti langkah Teddy ke arah motornya yang terparkir di halaman depan.
"Kita mau ke mana, Kak?" tanya Gita saat motor yang mereka kendarai meluncur di jalanan.
"Katanya mau kerja kelompok?" goda Teddy.
"Iiihh, malah becanda." Gita menepuk punggung Teddy dengan manja. Ia masih sedikit canggung berdekatan dengan Teddy, karena takut mengecewakan idolanya itu.
"Masih penasaran ga sama temen kamu si Anggita?"
"Iya," sahut Gita bersemangat. Ia memajukan tubuhnya kedepan, berharap Teddy melanjutkan ceritanya.
"Peluk dulu dong." Teddy meraih tangan Gita, dan melingkarkan di pinggangnya.
"Kak Teddy genit." Gita mencubit pinggang Teddy, tapi sebenarnya ia suka diperlakukan seperti itu.
"Aku mau ajak kamu ke tempat temen kamu itu biasa nongkrong."
"Di mana??, Kak Teddy tau?"
"Nanti kamu lihat sendiri. Aku salut loh sama Anggita, dia mampu membiayai hidupnya sendiri karena ayahnya kan sudah ga ada." Teddy melirik reaksi Gita melalui kaca spion.
"Kak Teddy kok tau?"
"Diceritakan teman aja."
"Ternyata Anggi sama kayak aku, sudah ga punya Papa," ucap Gita lirih.
"Oh ya?, mungkin kamu bisa belajar dari temen kamu." Teddy tersenyum penuh arti.
...❤❤...
follow ig : ave_aveeii
Ingatkan lagi aahh ..
Love/favorite ❤
Komen bebas asal santun 💭
Like / jempol 👍
Bunga 🌹
Kopi ☕
Rating / bintang lima 🌟
Votenya doong 🥰
Kenalkan ya karya teman aku, ramaikan di sana yuk
__ADS_1