Ternyata Itu Cinta

Ternyata Itu Cinta
Ma Cherie Empi


__ADS_3

Gaby berjalan memasuki kantin dengan hati yang riang. Semalam Mamanya mengatakan, jika mereka akan berkunjung ke rumah Langit.


Sebenarnya sejak pertama kali bertemu Langit saat masih di Inggris, ia sudah jatuh cinta dengan sosok yang pendiam itu. Namun, karena Langit masih diselimuti duka dan jarangnya mereka mempunyai kesempatan bertemu, membuatnya tidak dapat lebih mengekspresikan perasaannya.


Setelah satu tahun Langit kembali ke Indonesia, ternyata perasaan suka itu tidak kunjung hilang malah semakin mengganggu perasaannya.


Alasan kesepian karena Papa tidak tinggal bersama mereka lagi, ia jadikan senjata untuk meminta agar mereka ikut menetap di Indonesia.


Tidak susah untuk meyakinkan Papanya agar ia dan Mama secepatnya pindah ke Indonesia. Sama juga tidak susah baginya untuk meminta pada Papanya, agar Langit mau mengantar jemput dirinya dengan mengendarai motor termasuk juga memberikan ia les privat.


Itu semua ia lakukan, agar dapat selalu dekat dengan Langit.


Tidak hanya dekat, tujuan utamanya adalah memiliki Langit sepenuhnya.


Ia bukan tidak tahu Langit menyukai seorang gadis yang ternyata satu sekolah dengan mereka.


Ia kerap kali memergoki Langit memandangi foto seorang gadis di ponselnya. Langit juga sering membuka aplikasi pesan singkat berwarna hijau, dan seakan ingin mengirim pesan pada tampilan yang bernama ‘ma cherie empi’, namun selalu tidak jadi.


Saat di Inggris tidak sia-sia ia bersekolah yang isinya siswa dari berbagai negara, jadi ia tahu apa arti nama yang disematkan di depan nama panggilan gadis itu. Ma cherie Empi artinya adalah, sayangku Empi dalam Bahasa Prancis.


Tidak perlu susah-susah untuk tahu siapa itu Empi, karena Langit meskipun ada dirinya tidak segan-segan menelpon Mama dari gadis itu tiap hari, hanya untuk sekedar menanyakan apakah Gita sudah sampai rumah dan juga meminta maaf jika tidak bisa mengantar Gita pulang untuk sementara waktu.


'Tidak hanya untuk sementara waktu, tapi selamanya'. tekad Gaby.


Siang ini Langit ada rapat dengan pengurus OSIS, untuk menentukan ketua yang akan menggantikan Teddy periode selanjutnya.


Mereka yang kelas dua belas dalam dua bulan kedepan, sudah disibukkan dengan ujian akhir dan persiapan kelulusan.


Siang ini untuk pertama kalinya, Gaby berjalan sendirian saat jam istirahat.


“Eh, dia yang dari Inggris itu kan?”


“Pacar Langit yang kelas 12C, bukan ya?”

__ADS_1


“Dari deket cantik juga ya.”


Bisik-bisik dari para siswa yang berada di kantin membuatnya terus mengembangkan senyum. Gaby bukanlah seorang gadis yang susah berteman, kekhawatiran susah berteman yang pernah diutarakan kepada Langit, hanyalah alasan yang dibuatnya agar Gita atau si Empi itu tahu, kalo Langit hanya akan menjadi miliknya.


“Kamu yang namanya Gabriella ya?” seorang gadis jangkung dan modis menyapanya.


“Iya,” jawabnya sambil mengangguk pelan, tidak lupa mengembangkan senyuman manis.


“Kenalkan aku Melinda.” Gadis itu mengulurkan tangannya.


Nampaknya gadis ini cukup mempunyai pamor di sekolah ini, terbukti ada beberapa pengikut setia yang berdiri di belakangnya bagaikan dayang-dayang.


“Gabriella, Kakak bisa panggil aku Gaby aja,” sahutnya ramah. Sepertinya ia membutuhkan Melinda sebagai pagar betisnya.


“Gabung yuk,” ajak Melinda seraya menunjuk bangku panjang yang sudah terisi beberapa siswa.


“Terima kasih sudah diajak bergabung,” ucapnya sopan seraya mengedarkan pandangannya.


“Mana Langit?, biasanya kalian tak terpisahkan,” tanya salah seorang teman Melinda.


“Kak Langit lagi ada rapat OSIS.”


“Ow, iya bareng sama Teddy, dia kan juga rapat,” timpal salah seorang gadis lainnya.


“Kamu pacarnya Langit ya?” selidik Melinda. Ia tidak menjawab hanya tersenyum malu, cukup untuk membuat mereka semua penasaran. Termasuk sepasang kuping yang terus memantau dari meja seberang.


“Kenapa kangen ya, bentar lagi rapatnya selesai kok,” goda salah satu gadis saat melihatnya terus mengamati ponsel.


“Hehehe, cuman ngabari kalo aku ada di kantin. Takut nanti nyariin,” sahutnya berlagak malu-malu. Akting yang sempurna.


Seketika suara sorakan menggoda, bersahutan dari meja panjang itu.


Mereka tidak salah, ia memang mengirimkan pesan untuk Langit tapi bukan menginformasikan kalau ia berada di kantin, melainkan meminta Langit segera menyusulnya ke kantin setelah rapat selesai, karena ia sedikit takut hanya sendirian saja.

__ADS_1


“Nah tuh si Teddy dah dateng, bentar lagi pasti yayangmu nongol,” ucap Melinda seraya melambai ke arah pintu kantin.


“Dah selesai rapatnya?” tanya Melinda langsung bergelayut manja pada lengan Teddy begitu pria itu duduk di sampingnya.


“Udah,” sahutnya singkat, matanya terus menatap Gaby lekat.


“Pacar Langit.” Melinda memeberi kode pada Langit untuk berkenalan dengan Gaby.


“Pacar Langit?” Alis tebal Teddy berkerut menyatu. Ia sedikit agak tidak percaya dengan apa yang disampaikan oleh Melinda, karena feelingnya mengatakan jika Langit sangat menyukai Gita.


...❤❤...


Ingatkan lagi aahh ..


Love/favorite ❤


Komen bebas asal santun 💭


Like / jempol di setiap bab👍


Bunga 🌹


Kopi ☕


Rating / bintang lima 🌟


Votenya doong 🥰


Mampir juga ke karya aku yang lainnya, ramaikan juga di sana 🙏🤗



__ADS_1


__ADS_2