
Gita dan Anggita serempak saling berpandangan, lalu dalam hitungan detik seperti ada yang mengkomando, mereka berdua berdiri dari kursinya, lalu berlari dan mengintip di ambang pintu kelas.
Tampak Langit sedang berjalan beriringan dengan seorang gadis berambut hitam lurus sepunggung.
“Import dari mana?, itu jelas orang Indonesia,” ucap Anggita.
“Maksudnya, asal cewek itu dari Inggris trus pindah kemari. Kak Langit yang bilang sendiri kok, kemarin aku sama rombongannya Denis ketemu Kak Langit sama cewek itu di toko buku,” jelas Nindy yang ikut berdiri di ambang pintu setelah menaruh tas di bangkunya.
“Kemarin jalan berdua sama Kak Langit?” tanya Gita, tanpa sadar suaranya sedikit agak meninggi. Anggita menyenggol sikunya untuk memperingati, agar jangan terlalu nampak kecemburuannya.
“Iya, mereka jalan berdua. Pacaran kali,” sahut Nindy santai.
Wajah Gita langsung berubah mendung, ia menggigit bibirnya dengan mata lurus terarah ke tengah lapangan.
“Mungkin cuman teman.” hibur Anggita sambil merangkul bahu temannya itu.
“Aku kok ga tau ya, Nggi?” bisik Gita. Ia merasa sudah sangat mengenal lingkungan dan keluarga Langit, tapi ternyata ia salah. Ia sama sekali tidak mengenal gadis itu.
“Coba kamu tanya.”
“Ogah.” Gita berjalan kembali ke bangkunya dengan langkah menyeret malas.
“Ya, udeh. Penasaran aja terus.”
Sepanjang jam pelajaran, Gita sama sekali tidak bisa berkonsentrasi. Ia terus memikirkan kalimat apa yang sebaiknya ia pakai, untuk menanyakan perihal cewek itu.
Saat pulang sekolah hal yang paling diharapkannya saat ini adalah tawaran Langit untuk pulang bersama, tapi yang dinanti sama sekali tidak terjadi. Langit pergi begitu saja dengan cewek import itu.
Begitu juga saat berangkat sekolah, sudah tidak ada lagi tawaran menjemput. Langit sekarang selalu naik motor ketimbang mobilnya, dan gadis itu selalu ada dalam boncengan motor Langit.
“Git, kamu ga nanyain sama Kak Langit siapa tuh cewek?” tanya Anggita yang malam ini kembali menginap di rumahnya.
“Ga,” sahutnya singkat.
“Kamu tuh, kalo suka bilang kenapa sih. Paling tidak tunjukin, jangan diem mulu kayak gini.” Ia merasa kasihan dengan sahabatnya yang masih terus meneteskan air mata.
Sejak hampir sebulan yang lalu mereka saling terbuka, hubungan keduanya semakin erat.
“Malu tauk, masak cewek nembak duluan. Trus kalo Kak Langit nolak aku karena dah punya cewek, gimana?”
__ADS_1
“Eh, sekarang sudah bukan jamannya cowok harus tembak duluan. Apa salahnya cewek ungkapin perasaan duluan, dari pada kamu meweeek terus kerjaannya.”
“Kak Langit itu deket sama keluarga aku, pasti bakal ketemu terus. Malu aku tuh kalo ditolak.”
“Sama aja tersiksanya kalo besok-besok ketemu, terus dia sudah punya gandengan, terus mereka nikah, lalu punya anak lewat depan rumahmu sambil dada dada tanteee … sakiittnya sampe ke ubun-ubun tuh.”
“ANGGIIIII!!!” Gita melempar bantal ke arah Anggita yang tertawa terbahak-bahak.
POV LANGIT
Sudah hampir sebulan gadis yang semula aku sangka pendiam ini menjajah kebebasanku.
Bermula dari pulang sekolah di hari pertama, ia mengatakan pada Om Wahyu kalau dia tidak bisa menghirup udara AC mobil, jadi lebih nyaman naik sepeda motor.
Om Wahyu yang awalnya menolak karena khawatir dengan putrinya jika terjadi sesuatu, akhirnya menyerah saat Gaby mulai merajuk dan mengancam tidak mau sekolah lagi.
Lalu menurutmu siapa yang harus menggocengnya naik sepeda motor? Jelas saja aku. Om Wahyu tidak mungkin memberikan ijin putri tunggalnya, berganti-ganti ojek online.
Beginilah aku, berangkat harus lebih pagi menjemput cewek mengesalkan itu, karena apartement mereka letaknya berlawanan arah jika dari rumah ke sekolah.
Lalu alasan tidak masuk akal lainnya, ia memonopoli diriku selama di sekolah. Aku tidak bisa kemana-mana, harus selalu mendampinginya karena katanya ia belum terbiasa bersosialisasi dengan teman- teman lainnya yang mempunyai kultur Indonesia.
Aku jadi tidak bisa mendekati Empi, niatku kami bersama-sama berangkat sekolah bertiga naik mobil juga jelas tidak mungkin sekarang.
Jangan menyarankan malam hari untuk pergi ke rumah Gita, karena setiap hari setelah pulang dari kantor aku harus langsung berangkat lagi ke apartment Om Wahyu untuk memberikan les privat. Materi pelajaran di Inggris beda dengan di Indonesia menurut Gaby.
Entah mengapa Om Wahyu tidak mau memanggil guru privat, padahal aku sudah memberikan beberapa rekomedasi tempat les privat dan juga guru terbaik yang aku kenal. Lagi-lagi alasan yang tidak masuk akal, Gaby hanya nyaman dengan aku katanya.
SIAL!
“Kak Langit kok ngelamun?” Gaby menyentuh lenganku. Satu lagi yang aku tidak suka dari gadis ini. Ia terlalu berani melakukan skinship denganku.
Sama dengan Empi, hanya bedanya aku baru satu bulan mengenal Gaby. Sedangkan Empi, sejak masih ingusan kami sudah sering bergulung di lantai. Sebenarnya aku suka jika Empi berdekatan denganku, hanya yang aku takutkan imanku jebol jika terus-terusan dicobai.
“Ga pa pa. Sudah selesai belum?” tanyaku lelah. Aku benar-benar lelah dalam arti sesungguhnya. Sudah satu bulan istirahatku kurang. Pagi sekolah, siang di kantor dan tiap malam harus jadi guru privat.
“Lagi mikir ceweknya ya?” tanyanya lagi. Ia memandang ponselku yang dalam mode pesan terbuka. Aku memang ingin mengirim pesan pada Empi, tapi bingung harus mau mulai dari mana.
“Ayoo, kalo sudah selesai aku mau pulang.” Aku tidak menghiraukan pertanyaannya.
__ADS_1
Sengaja aku menguap besar, agar ia tahu kalo aku sungguh capek dan bosan ada di sisinya.
“Kak Langit belum punya pacar kan?, aku mau jadi pacarnya Kak Langit. Kita pacaran ya,” pungkasnya ringan.
Aku hampir tersedak ludahku sediri saat ia mengatakan hal itu. Aku memang tidak punya pacar, tapi bukan berarti aku tidak punya orang yang aku sukai kan?
Luar biasa pergaulan gadis di luar sana, dengan lugasnya mengajak seorang pria menjalin hubungan bukan hanya sekedar menyatakan perasaan. Mungkin jika aku menerimanya, tidak lama Gaby juga akan mengajaknya naik ke ranjang.
“Ngomongmu sudah ngelantur. Aku pulang, sisanya kerjakan sendiri.” Sebelum aku diterjang, lebih baik segera keluar dari apartment ini.
“Om, Tante saya pulang dulu,” pamit Langit pada kedua orang tua Gaby.
“Loh kok cepat, ga makan dulu?” ajak Mama Gaby.
“Terima kasih, Tan. Kasihan Mama di rumah nanti makan sendirian.” Aku bergidik saat Gaby berdiri menempel sangat dekat pada tubuhku.
“Oh, ya Lang. Tante belum silahturami sama Mama kamu. Besok minggu kita main ke rumahmu ya,” ucap Mama Gaby.
“Baik Tante, nanti saya bilang sama Mama. Mama pasti senang juga ketemu sama Tante."
“Asyiiik, besok minggu kita ke rumah Kak Langit, ya Ma?” Gaby memelukku erat dari samping. Jika tidak ada kedua orang tuanya, mungkin gadis ini sudah aku dorong hingga tersungkur.
...❤❤...
Ingatkan lagi aahh ..
Love/favorite ❤
Komen bebas asal santun 💭
Like / jempol 👍
Bunga 🌹
Kopi ☕
Rating / bintang lima 🌟
Votenya doong 🥰
__ADS_1
Mampir ke karya aku ke tiga yuk. Masih anget, ramaikan juga disana ya 🙏