Ternyata Itu Cinta

Ternyata Itu Cinta
Happy Ending


__ADS_3

"Loh, Kak kita mau kemana?" tanya Gita heran saat Lea menggiringnya kearah lobby hotel. Ia pikir mereka keluar dari kamar dan turun menunju ke ballroom hotel yang mereka tempati.


"Tunggu di sini," ucap Lea. Tak berapa lama Mama Gita dan Bima muncul dari arah restoran.


"Kok lama banget. Aku sudah hampir habis dua porsi soto tadi," gerutu Bima.


"Kan belum di suruh turun sama Kak Ray." Kak Lea membela diri.


"Kita mau kemana sih?" Gita masih merasa bingung.


"Ke tempat acara. Ayo, mobilnya sudah datang." Mama Gita menuntun putrinya keluar dari lobby hotel.


Gita ditemani Mama, Bima, Kak Lea dan dua orang putri kecilnya Maura dan Kanaya yang membawa keranjang berisi bunga tabur, menaiki mobil mewah yang nyaman menuju lokasi acara yang Gita bahkan tidak tahu di mana letaknya.


"Aku pikir resepsinya di hotel. Pantes sepi," celetuk Gita sembari mengintip keluar jendela dari balik gorden.


Kak Lea dan Kak Bima hanya diam tidak menanggapi, mereka hanya sibuk dengan ponsel masing-masing. Sesekali tersenyum dan tersipu. Sedangkan Mama Gita berulangkali membenahi riasan wajah dan rambutnya yang dirasa kurang sempurna.


Mobil itu membawa mereka sedikit menjauh dari pusat kota.


"Kita mau kemana sih?" Gita kembali bertanya karena tak tahan dengan rasa penasarannya.


"Sebentar lagi sampai, tuh." Bima menunjuk sebuah papan nama.


Tidak lama kemudian, mobil yang membawa mereka berhenti di sebuah restoran besar yang terbuka di pinggir pantai.


"Kok sepi?" Gita mengedarkan pandangannya. Restoran itu tampak sepi tidak ada seorangpun pengunjung, tapi tempat parkir dipenuhi dengan deretan kendaraan mewah.


"Ayuk, sudah siap?" Kak Lea berbisik di telinganya.


"Kemana?" Tanpa menjawab pertanyaan Gita, Mama mengandeng tangan kanan putrinya, sedangkan Bima memegang tangan kirinya.


Dua keponakannya yang masih kecil berdiri di depannya siap menabur bunga di sepanjang jalan yang akan mereka lewati.


Kak Lea dari arah belakang memastikan gaun pengantin Gita tidak menganggu jalan sang pengantin.


Gita terus digiring masuk hingga ke bagian belakang restoran yang terhubung dengan pantai. Suara denting piano semakin terdengar saat mereka hampir sampai di pintu belakang yang terbuka lebar.


Senyum Gita terkembang saat melihat banyaknya orang yang berdiri menghadap pintu belakang restoran seolah menyambutnya.


Lagu berjudul perfect dinyanyikan sangat indah mengiringi langkah Gita. Senyumnya ia tebar lepas pada semua orang yang berdiri di sisi kiri dan kanannya.

__ADS_1


Semua memandang kagum padanya, walaupun lebih banyak tamu undangan yang tidak ia kenal karena merupakan undangan orang tua mereka.


Senyum Gita semakin melebar saat melihat dua sahabatnya ada di antara para tamu undangan. Namun rupanya tak hanya ia yang bahagia melihat kedua sahabatnya, Bima kakaknya juga tersenyum tersipu saat memandang ke arah Anggita dan Nindy.


Mata Gita mencari-cari sosok yang sudah lebih dari 24jam tidak bertemu dan berbincang. Pria yang sangat ia rindukan itu, ia temukan sedang berdiri di samping sepupunya dan Mama Langit, sedang memegang sebuah bouquet bunga mawar merah yang besar.


Rasanya ingin Gita berlari dan naik ke atas pelukan Langit, tapi tangan Mama dan Bima memegang lengannya erat.


"Sabar." Mama berbisik saat merasakan gerakan putrinya yang ingin melepaskan diri.


Lagu berakhir saat Gita sampai di hadapan Langit. Kedua orang tua mereka, Bima dan Kak Ray berjalan menjauh setelah mempertemukan sepasang suami istri itu.


"Hai istri," sapa Langit.


"Hai, suami," balas Gita sambil menahan tawanya.


Langit menyerahkan bouquet bunga yang dibawanya ke tangan Gita sembari mengecup kening istrinya sedikit lama.


Sorakan dan kilatan lampu kamera memenuhi ruangan. Seorang pembawa acara maju mendekati mereka.


"Sudah resmi kan? boleh peluk-peluk, silahkan saya ga iri," kelakar pembawa acara. Langit tanpa sungkan langsung menggamit pinggang Gita lebih mendekat ke arahnya.


"Mau tanya-tanya sedikit, boleh ya. Mungkin di sini ada yang belum tahu. Sejak kapan sih kalian saling suka?"


"Kalau mbanya, kapan nih?" Pembawa acara itu mengalihkan pertanyaan kepada Gita.


"Eemm, saat ada cewek yang deket sama Phiu, jadi takut kehilangan juga."


"Jadi karena dasar cemburu ya, berarti kalian harus berterima kasih pada kedua orang itu."


Langit dan Gita hanya menyengir mendengar pembawa acara itu meminta mereka berterima kasih pada Teddy dan Gaby.


"Terus kenapa kok mau nikah muda?"


"Karena mau ke Inggris, kalau belum nikah ga boleh ikut," ungkap Gita polos.


"Ya bener, saya harus berangkat ke Inggris dan ga mau tinggalkan dia lama-lama." Langit membenarkan.


"Kita doakan semoga pernikahan Langit dan Gita langgeng, bahagia sampai punya anak, cucu dan cicit ya." Doa pembawa acara langsung disambut dengan seruan Amin dari semua tamu undangan.


Acara selanjutnya diisi oleh acara musik, dansa dengan pengantin dan makan bersama.

__ADS_1


"Suka?" Langit berbisik di telinga Gita, berusaha mengalahkan suara debur air laut.


"Bangeeettt. Makasih sayang," Gita mengecup pipi Langit.


"Sama-sama, sayang." Langit membalas kecupan Gita di bibir.


"Bisa ditahan ga sampe malem nanti?" Bima memandang keduanya dengan tatapan malas.


"Cari pasangan biar ga iri aja terus," ledek Langit.


"Sudah dong," ucap Bima sombong.


"Manaaaaa??"


"Sayaaang." Bima melambaikan tangannya pada sekelompok wanita yang sedang berbincang.


Mulut Langit dan Gita ternganga saat melihat Nindy menghampiri mereka.


"Sudah kenal kan? jadi ga perlu aku kenalkan lagi." Bima tersenyum senang lalu menarik tangan Nindy menjauh meninggalkan Gita dan Langit yang masih melongo.


Sedetik kemudian Gita tersenyum, "Bagus juga Nindy sama Kak Bima. Nindy itu pintar bela diri, jadi kalau Kak Bima aneh-aneh tinggal dibanting aja."


"Tega banget sama kakak sendiri." Langit menggelengkan kepala.


"Selamat ya, akhirnya aku diundang juga," ucap Raditya seraya memberi selamat pada Langit dan Gita.


"Bagaimana mereka?" Langit menanyakan hasil pemeriksaan Teddy dan kawan-kawannya.


"Melinda dan beberapa teman wanitanya masuk pusat rehabilitasi narkoba, karena mereka masih sangat muda. Berkat informasi dari Teddy, kami berhasil meringkus jaringannya."


"Otomatis mereka di keluarkan dari sekolah, termasuk juga putri sahabat Papamu, Gaby."


"Gaby? emang salah apa dia?"


"Gaby yang memberikan informasi apartment kalian. Ia juga yang mengambil foto Gita saat masuk ke dalam apartment dan menyebarkan berita bahwa istrimu menjadi simpanan om-om," papar Raditya.


"Pantes Om Wahyu tiba-tiba mengundurkan diri." Langit mendesah kecewa, "Terima kasih informasinya, Bang."


Gita memeluk lengan Langit saat melihat suaminya itu termenung.


"I love you, Phiu," bisik Gita pelan. Langit menoleh dan tersenyum, "I love you more, Empi." Langit memutar tubuh Gita menghadap ke arahnya dan langsung memagut mesra bibir istrinya.

__ADS_1


...❤❤...


__ADS_2