Ternyata Itu Cinta

Ternyata Itu Cinta
Bali


__ADS_3

Gita masih memperhatikan layar ponsel Langit yang menampilkan pemesanan tiket pesawat secara online.


"Bali? kita mau ke Bali?" tanya Gita masih belum mengerti. Langit menganggukan kepala seraya mencium pinggang Gita yang sedang duduk bersandar di ranjang.


"Bulan madu? tapi kok tanggalnya pas acara resepsi sih, Phiu? Kamu salah pesen nih." Gita melirik suaminya yang memejamkan mata namun senyum masih tersungging di bibirnya.


"Ga salah kok."


"Terus??"


Langit bangkit dari tidurnya, lalu ikut duduk bersandar, "Acara resepsi kita di Bali, sayang," ucap Langit seraya mengecup pipi Gita. Mulut Gita terbuka lebar mendengar penjelasan suaminya.


"Di Bali?? terus temen-temen aku ga jadi dateng dong." Gita sudah mulai merengek.


"Tenang aja, semua undangan akan ikut ke Bali." Lagi-lagi mulut Gita terbuka lebar.


"Naik apa?? pesawat? semua undangan? siapa yang bayarin??" Gita memberondong Langit dengan pertanyaan.


"Ya pesawat dong, masak naik getek. Kita yang punya acara, ya kita yang bayar."


"Kamu kali, aku mana ada duit." Gita mencebik sedetik kemudian senyumnya mengembang membayangkan akan berlibur di Pulau dewata bersama dengan sahabatnya.


"Duitku kan duitmu juga." Langit mencubit gemas hidung istrinya.


"Jadi semua kumpul di Bali? terus tidur di mana?"


"Ga usah khawatir kalo itu, Kak Ray sudah atur semuanya."


"I love you, Phiu." Gita memeluk Langit erat dan menghujani wajah suaminya dengan ciuman.


"Sudah gitu aja?" Langit membuka matanya sedikit saat Gita berhenti mengecupnya.


"Iya, kurang?"


"Kuranglah," ujar Langit seraya mejatuhkan badannya ke atas ranjang dengan posisi telentang pasrah, "Lanjuutt." Tangan Langit terbuka meminta istrinya untuk menjatuhkan diri ke pelukannya.


"Mmm, kan belum bisa," ucap Gita pelan. Senyum Langit menyusut seketika.


"Masih ditutup?" tanyanya sedih. Gita menganggukkan kepala. Ia merasa tidak enak hati menolak sekaligus merasa kasihan pada suaminya.

__ADS_1


"Sabar ya, nanti di Bali suka-suka Phiu mau apa aja boleh," bisik Gita.


"Janji?" Senyum Langit kembali merekah membayangkan bulan madu kedua nanti.


"Janjiii. Aku juga mau soalnya." Gita terkikik malu. Spontan tawa Langit meledak tak menyangka jika istri kecilnya itu bisa agresif juga.


...❤...


Gita duduk di tepi ranjang dengan wajah tertekuk sempurna. Ia merasa kesal dengan Langit yang seenaknya mengeluarkan pakaian yang sudah ia susun rapi di dalam koper.


"Kamu bisa pakai ini ... ini ... yang ini juga bagus." Langit yang belum sadar istrinya sedang marah, menyibak gantungan pakaian Gita dan mengeluarkan baju yang menurut ia pantas digunakan oleh istrinya saat berada di Bali.


"Ini baju lengan panjang, ini celana jeans modelnya kedodoran lagi. Mana pantes buat jalan-jalan di pantai." Gita menggerutu kesal.


Sebagai anak yang masih usia belasan, ia sudah membayangkan akan bersenang-senang bersama teman-teman sebayanya di pantai. Berfoto, jalan di pusat wisata Pulau Dewata yang penuh dengan orang asing. Tentunya dengan memakai pakaian yang menarik dan seksi menurutnya.


"Memangnya kenapa dengan baju-baju itu?" tanya Langit.


"Kuno! aku nanti keliatan paling norak kalo foto." Gita kembali mencebik, matanya sudah berkaca menahan emosi.


Langit tersenyum melihat perubahan istrinya yang semakin hari gampang menangis dan merajuk.


"Lihat nih, kalau kamu pakai hmmm, belahan da*danya kemana-mana. Kalau pakai celana pendek ini, pa*ha kamu mau kasih lihat sama siapa? Ini juga, satu punggung terbuka kalau pakai model ginian." Langit membuka satu persatu baju yang tadi ia keluarkan dari dalam koper.


"Sapa juga yang mau pamer body." Gita masih terus berusaha membela diri.


"Lantas untuk apa pakai baju model seperti ini?"


"Biar cantiklah."


Langit terkekeh gemas, "Yang bikin cantik itu bukan bajunya, tapi orangnya. Kamu pakai jas hujan aja tetep cantik." Langit mencubit dagu Gita.


"Gombal."


"Lah emang bener. Lagian aku ga suka badan kamu jadi tontonan laki-laki di luar sana. Apalagi nanti kalian foto-foto, pasang di sosial media ribuan mata lihat paha sama dada kamu. Oh, tidak!" Langit menggeleng keras.


"Bilang aja ga boleh pake baju itu karena Phiu cemburu."


"Ya aku emang cemburu," ucap Langit tegas. Gita tak bisa menahan senyumannya mendengar nada bicara Langit yang seperti anak kecil.

__ADS_1


"Kalau kamu kepingin pakai baju sexy, aku sudah beli. Pakainya juga di tempat yang khusus." Langit tersenyum simpul.


"Dress sexy? pakainya di mana? klub malam? di sana nanti kita mau party??" Mata Gita terbelalak.


"Rahasia," ujar Langit lalu berjalan keluar meninggalkan Gita yang masih penasaran.


...❤...


"Tante cantik banget." Keponakan Gita yang saat itu berusia enam tahun memandangnya penuh dengan kekaguman.


"Maura juga cantik," ucap Gita. Sejujurnya ia sedang gugup setengah mati. Walaupun ini hanya resepsi pernikahannya, tapi acaranya dibuat besar-besaran bukan seperti akad yang hanya mengundang keluarga inti.


Dari kemarin ia belum bertemu dengan Langit. Sehari sebelum acara, mereka dipisahkan atas permintaan orang tua mereka dengan alasan agar rindu dan berkesan. Walaupun keduanya sempat protes karena ini hanyalah perayaan biasa, tapi akhirnya mereka mengalah dengan permintaan Mama mereka.


Malam sebelum acara Gita tidur ditemani istri dari sepupunya, dan kedua putrinya yang masih balita. Hampir semalaman mereka bertukar cerita tentang kisah cinta masing-masing.


Gita juga belum bisa menghubungi kedua sahabatnya. Apakah sudah sampai di Bali atau malah berhalangan hadir. Entah kenapa semuanya bagai ditelan bumi.


"Kak, tamu-tamu sudah pada dateng belum?" tanyanya pada Lea, istri kakak sepupunya.


"Sudah beberapa," jawabnya singkat lalu kembali lagi fokus pada ponselnya. Sepertinya istri kakak sepupunya itu sedang beradu rayu dengan suaminya, terlihat dari senyuman dan wajahnya yang memerah.


Gita memandang ke arah cermin, dilihatnya bayangan wanita yang terpantul di sana. Sudah hampir satu tahun, ia menyandang gelar sebagai seorang istri dan ia juga sempat mengandung walaupun belum dapat ijin untuk merawatnya.


Gita hampir tak percaya jika wanita yang ada di cermin itu adalah dirinya. Gadis yang manja, malas dan cerewet itu sudah menjadi wanita yang sempurna di usianya yang bisa dibilang belum matang.


Namun ia sangat bersyukur karena pria yang memaksanya untuk menikah adalah Langit. Pria yang sejak ia masih balita, selalu ada dan terus ada di dalam lingkar kehidupannya. Jodoh itu ternyata tidak jauh, hanya terkadang harapan dan keinginan yang membuatnya terasa jauh.


"Sudah siap?" Kak Lea memegang kedua bahunya. Gita mengangguk mantap.


"Aku ini sudah nikah loh, Kak, tapi kok merasa masih deg-degan ya."


"Deg-degan kenapa? laper kali," seloroh Kak Lea yang otaknya kadang geser sejak menikah dengan sepupunya.


"Bukaan. Deg-degan mau ketemu sama suami pake baju pengantin gini." Gita terkikik geli.


"Itu karena kamu menikahi orang yang tepat," ujar Lea yang kali ini benar ungkapannya.


...❤❤...

__ADS_1


__ADS_2