
Langit berjalan mendekati ranjang rumah sakit yang ditempati Gita. Mama Gita yang melihat anak mantunya datang, langsung menyerahkan piring yang masih tersisa separuh nasi dan lauknya ke tangan Langit.
"Hai, apa kabar," sapanya lembut.
"Apaan sih, sopan banget." Gita terkekeh mendengar kalimat formal Langit.
"Masih sakit?" tanya Langit.
"Masih," ucap Gita manja. Tangan Langit ia arahkan ke atas perutnya, "Aku hamil, Phiu," ucap Gita pelan. Tangannya menggerakan tangan Langit, seolah mengusap janin yang ada di dalam perutnya.
"Iya, aku tahu," ucap Langit sedih.
"Phiu kok kayak ga seneng gitu sih denger aku hamil?"
"Aku seneng. Seneng banget malah." Langit mengusap rambut Gita. Ia masih mencari-cari kalimat yang tepat untuk menyampaikan pada istri kecilnya itu.
Langit melirik ke arah Mama dan mertuanya yang berdiri di ambang pintu. Mereka berdua memberi kode, jika akan keluar ruangan untuk memberi ruang dan waktu pada dirinya berdua bersama dengan istri.
"Kalo seneng kok mukanya seperti itu, sih? Aku minta maaf kalo kemarin sempet marah-marah sama Phiu."
"Iyaa, ga apa-apa. Aku cuman capek aja." Langit duduk di sisi pembaringan Gita.
__ADS_1
"Phiu, kenapa aku belum boleh pulang?"
"Empi ..." Langit menggantung kalimatnya, bingung akan melanjutkan apa.
"Permisi." Seorang perawat masuk ke dalam ruangan membawa nampan berisi segelas air putih dan satu buah kapsul, "Ini diminum ya."
"Obat apa ini, sus?" tanya Gita.
"Ini obat peluruh, diminum sekarang agar besok pagi proses kuretasinya lebih lancar," jelas perawat wanita itu.
"Peluruh? kuretasi? maksudnya apa itu, Sus?" tanya Gita tak mengerti. Ia pernah mendengar istilah itu tapi sedikit asing ditelinganya.
"Belum disampaikan?" tanya perawat itu pada Langit dengan suara pelan.
"Empi." Langit mengusap rambut Gita. Wajah istrinya itu masih tersirat kebingungan, "Aku tadi sudah ketemu Dokter, dia bilang tadi ... calon bayi kita tidak bisa tumbuh dengan baik." Langit berkata dengan sangat perlahan.
"Maksudnya ga bisa bertumbuh dengan baik gimana, Phiu? kan memang belum lahir."
"Dia di dalam perutmu, ukurannya kecil ga bertambah. Jadi harus dikeluarkan supaya kamu ga kesakitan terus."
"Maksudnya ... mati?" tanya Gita dengan suara tercekat.
__ADS_1
"Meninggal, Empi."
Gita mengusap perutnya perlahan. Wajahnya seketika muram, "Ini pasti karena aku sempet nolak dia ya?" Air mata Gita perlahan menetes. Tangannya masih terus mengusap perutnya yang rata.
"Bukan. Mungkin karena Tuhan tahu kalau kita berdua belum siap. Kita disuruh harus belajar lagi," bisik Langit.
"Phiu juga belum siap?"
"Aku siap. Jujur awalnya aku juga kaget, karena aku pingin kamu hamil setelah lulus SMU dulu, tapi aku juga seneng ada yang akan hadir di sini," ucap Langit seraya ikut mengusap perut Gita.
"Tadi waktu aku tanda tangan menyetujui dia untuk diambil dari sini ... aku ga rela." Mata Langit mulai berembun, "Baru saja aku merasa senang, dia sudah mau pergi."
"Phiu jangan ikutan nangis." Gita mengusap air mata suaminya yang belum sempat jatuh.
"Iya, aku ga nangis. Kita pasti bisa." Langit mengecup puncak kepala Gita.
"Iya, kita pasti bisa." Gita menganggukan kepalanya.
"Ini diminum dulu." Langit menyodorkan segelas air putih dan satu buah kapsul yang tadi dibawa oleh perawat.
Gita mengambilnya dari tangan Langit. Sebelum memasukan kapsul itu ke dalam mulutnya, ia memandang suaminya mengharap bantuan kekuatan. Langit tersenyum lalu mengangguk.
__ADS_1
...❤❤...