
Mereka berdua tidak mengatakan apapun, hanya Nindy yang mengeluarkan selembar kertas yang sudah kusut.
Langit mengambil kertas itu dari tangan Nindy. Matanya membesar saat melihat wajah istrinya ada di sana dengan pose yang tidak bisa dikatakan bagus. Ditambah ada tulisan yang cenderung ke arah fitnah dan memprovokasi.
"Apa ini??" tanya Langit menuntut jawaban pada kedua sahabat Gita.
"Kami juga ga seberapa tau, Kak. Pagi tadi saat kami datang ke sekolah, lembaran kertas itu sudah banyak bertebaran di halaman. Kami berdua langsung membersihkan, dibantu sama Pak Kadir yang biasa bersih-bersih sekolah," jelas Nindy.
"Ga cuman di halaman, Kak. kertas-kertas itu juga ditempel di pilar, majalah dinding sama di papan tulis tiap kelas. Tiap kami ambil dan buang ke sampah, selalu ada lagi yang menempel dan menyebarkan di halaman," lanjut Anggita.
"Siapa yang berani berbuat seperti ini??!" Langit menggeram marah. Kertas di tangannya sudah hampir tak berbentuk lagi.
"Kak jangan di rusak kertasnya, itu bisa jadi bukti," tahan Nindy seraya mengambil lembaran itu dari tangan Langit.
"Kami juga ga tau dan ga berani menunding pelakunya, tapi ...." Anggita menggantung kalimatnya. Mereka berdua kembali saling melirik.
__ADS_1
"Bilang aja, kalian berdua ga perlu takut. Ini sudah masuk kasus dalam perundungan yang parah di dalam sekolah, harus ada yang berani bersuara."
"Melinda, Teddy sama teman-temannya," ujar Nindy.
"Sudah kuduga." Tangan Langit saling meremas geram.
"Tapi kami hanya menduga loh, Kak karena mereka yang paling kelihatan senang saat lihat Gita di olok-olok. Mereka juga sempet menghadang Gita yang lari dari kelas ke kamar mandi," ujar Anggita berapi-api.
"Apa kata dari pihak sekolah?" tanya Langit.
Anggita dan Nindy kembali berpandangan dan menggelengkan kepala, "Ga ada."
"Cuman Pak Sarwono yang datang dan bantu bawa Gita ke rumah sakit pakai mobil pribadinya," papar Nindy.
Langit menggelengkan kepalanya, sebenarnya ia tidak kaget dengan situasi sekolahnya dulu. Apalagi Melinda sebagai putri tunggal pemimpin yayasan ikut terlibat dalam kasus ini.
__ADS_1
"Baiklah, terima kasih banyak untuk laporan kalian. Kalo ga ada kalian berdua yang bantu, ga tau Gita gimana nasibnya. Kalian memang sahabat yang baik," puji Langit.
Anggita dan Nindy tersenyum dan mengangguk, "Sama-sama, Kak. Kalau salah satu susah, kami pasti juga merasakan."
"Kertas ini aku pegang dulu ya. Aku pastikan masalah ini akan selesai dan sekolah kita tidak ada perundungan lagi."
Sepulang kedua sahabat istrinya itu, perlahan Langit keluar dari kamar ruang rawat Gita, dan langsung membuka daftar pertemanan di ponselnya. Ia mencari satu nama yang paling keluarganya andalkan di kepolisian kota mereka.
"Selamat malam, Pak Komandan," sapa Langit akrab.
"Selamat malam juga anak sultan," sahut suara ramah di seberang sana. Keduanya saling menertawai sapaan masing-masing.
"Saya ganggu ga malam-malam gini telepon Pak Komandan?"
"Jangan sebut begitulah, Lang. Kamu kayak orang lain aja. Ada apa? orang sibuk macam kamu kalo ga ada apa-apa, ga mungkin telepon di jam segini kan?" tebak Kapolres muda itu.
__ADS_1
"Masalah yang dulu. Sebenarnya aku malas mengurusi hal itu, hanya kali ini mengusik keluargaku. Aku harus ambil tindakan sebelum ada korban yang lain."
...❤❤...