
“Iya, pindahan dari Inggris.” Teddy kembali menatap gadis di depannya, dari atas hingga ke bawah.
“Tuh, di samperin,” celetuk salah satu gadis.
Gaby mengalihkan pandangannya ke pintu kantin, dari yang semula menatap Teddy. Diam-diam ia juga menilai cowok yang duduk di samping Melinda dan menurutnya, Teddy cowok yang sangat tampan dan menarik.
Langit berjalan mendekat ke arahnya, dengan wajah yang kusut. Ia tahu pria itu sebenarnya sudah malas menuruti segala keinginannya, tapi masih ada rasa belum puas jika Langit belum jatuh pada pelukannya.
Sejenak langkah Langit melambat seakan ingin berhenti saat melewati bangku Gita, sorot matanya pun berubah saat memandang gadis itu.
“Kak Langit!” panggil Gaby saat melihat Langit seperti ragu meneruskan langkah ke arahnya. Langit menghela nafas kesal dan melanjutkan langkahnya mendekati meja Gaby.
“Ciie … ciee ada yang takut ilang nih,” celetukan menggoda terdengar di sepanjang meja yang di duduki Gaby.
“Ada apa?” tanyanya dingin.
“Kak Langit sudah makan?” tanya Gaby pelan.
“Duuh, khawatir banget.”
“jadi ngiri deh kita.”
“Yang masih jomblo diem aja deh.”
Sahut-sahutan menggoda kembali riuh terdengar.
“Kamu sudah punya teman, aku kembali ke kelas,” ucapnya kesal dan langsung berbalik pergi. Ia benar-benar tidak tahan dengan rombongan Melinda, terlebih ada Teddy di sana.
“Waah, cowok yang cool. Emang setiap hari seperti itu, Gab?” tanya seorang gadis.
“Iya, emang gitu kalo di depan orang banyak, tapi kalo berduaan aja mesra dan sayang banget,” jawab Gaby sedikit terkikik malu. Ia sengaja berkata agak lantang, agar Gita yang masih duduk di seberangnya juga ikut mendengar.
“Aku susul Kak Langit dulu ya, nanti kalo ngambek bujuknya susah.”
“Kalo ngambek tinggal cium aja, Gab,” celetuk Melinda.
“Kalo itu sih sudah sering, Kak,” sahutnya sambil terkikik. Ia melangkah keluar dari kantin dengan perasaan yang sangat puas, saat melihat kepala Gita tertunduk dan kedua bahunya merosot tajam.
...❤...
__ADS_1
“Mereka dah pacaran, dah ciuman, dah bucin juga mungkin … srroooottt.” Gita menyusut hidungnya yang berair untuk kesekian kalinya.
Nindy hanya menanggapi dengan hmmm yang panjang, sedangkan Anggita sudah memejamkan mata dari tadi.
Malam ini Gita dan Anggita menginap di rumah Nindy setelah gadis itu memaksa sahabatnya untuk bercerita, mengapa ia tiba-tiba menangis di kantin saat istirahat siang tadi.
“Ceweknya cantik, kayaknya pinter, dari Inggris pula,” lanjut Gita masih terus menyusut hidungnya.
“Kamu juga cantik, tapi sayangnya ga pinter, jorok pula,” sindir Nindy. Lantai kamarnya sudah hampir tertutup oleh tissu bekas pakai Gita.
“Kalian kok ga dukung aku sih?!” sungut Gita kesal.
“Dukung gimanaaa lagi? kan tadi kita sudah kasih saran kamu tembak aja si Langit, toh mereka belum nikah ya sah-sah aja kamu ungkapin perasaan,” sahut Anggita malas masih dengan mata terpejam.
Sudah hampir tiga jam Gita menangis di kamar Nindy, dan selama tiga jam itu pula mereka berdua sudah mendengarkan dan memberi masukan untuk sahabatnya itu.
“Tapi kan maluuuu kalo ditolak.”
“Nembak kan ga harus diterima juga, Git," sahut Nindy.
“Ga mauuu,” rengek Gita.
“Anggiiii!” Gita merengek sambil mengguncang-guncangkan tubuh temannya.
“Sudaaah tidur dulu aja, siapa tau besok dapet undangan nikah dari mereka berdua,” Nindy menambahkan, lalu ikut menyusul Anggita naik ke atas tempat tidur.
“Nindyyyy!!” Gita menjerit semakin kencang.
Sekarang tinggal ia sendirian terjaga di tengah malam. Kedua temannya sudah terlelap di sisi kanan dan kirinya.
Gita termenung mencoba mengingat semua perjalanan hidupnya bersama Langit, ternyata pria itu dan keluarganya berperan penting dalam kehidupannya.
Sejak balita ia dan Bima tidak merasakan kasih sayang dari sang Ayah, Papa Langit seakan menutup kekosongan itu untuknya dan Bima.
Kado ulang tahun tidak pernah absen tiap tahunnya, untuknya dan dan juga untuk Bima. Saat ia menginjak usia sekolah dasar, Papa Langit lebih banyak menghabiskan waktu berkeliling dunia.
Perhatian dan kasih sayang tetap lanjut melalui tangan Langit.
Tiap harinya mereka semakin dekat … semakin dekat dan jauh lebih dekat ... hingga ia baru sadar jika ternyata Langit sudah menjadi sebagian dari dirinya.
__ADS_1
Ada yang kosong saat tidak ada pertanyaan klasik Langit yang mengganggunya. Sudah makan? Mau jalan? Pulang jam berapa? Mau kemana? Jalan sama siapa? Ada PR? dan pertanyaan membosankan lainnya.
Kak Langit ...
Aku ga mau kamu jauh …
Aku mau kamu di sini …
Jangan pergi …
Aku kangen …
...❤❤...
Ngeselin ya Gita dan Langit ini. Maklum kakak2, mereka berdua masih ABG apalagi si Gita baru 16th egonya masih tinggi 🙏😊
Baru belajar apa itu cinta, ajarin dong kakak2 senior 😁
Ingatkan lagi aahh ..
Love/favorite ❤
Komen bebas asal santun 💭
Like / jempol di setiap bab👍
Bunga 🌹
Kopi ☕
Rating / bintang lima 🌟
Votenya doong 🥰
Main-main ke sini yuk
__ADS_1