Ternyata Itu Cinta

Ternyata Itu Cinta
Pertemuan keluarga


__ADS_3

“Kamu kok baru pulang sih? Bilangnya jam lima sudah sampe rumah. Untung Mama belum jalan,” gerutu Mama, sembari sibuk menyusun roti dan kue basah dalam kotak saji.


“Banyak pesanan, Ma?” tanya Gita seraya mencomot sepotong roti, yang baru saja ditaruh di atas nampan.


“Eeehh, jangan diambil dulu! Masih mau diitung ini, Git.” Mama menepuk tangannya, lalu mengamankan sepiring penuh roti yang masih hangat.


“Laper,” keluh Gita.


“Kalo laper ya makan. Abis itu langsung mandi, terus ikut Mama anter kue ini ke rumah Tante Laras.”


“Mau arisan?” Gita menghentikan langkahnya yang sudah menuju ke kamar, lalu berbalik menghadap Mamanya.


“Lain, ada pertemuan antar keluarga katanya.”


“Pertemuan antar keluarga?” Gita bergumam sendiri.


“Iya, keluarga dari Inggris. Itu loh, Om Wahyu, orang kepercayaan Papanya Langit. Anaknya kan sekarang sekolah di tempat kalian kan?” tanya Mama, masih asyik dengan kegiatannya menyusun kue tanpa melihat ke arah Gita.


“Gaby,” ucap Gita pelan.


“Iya, Gab … Gab gitulah namanya.”


“Aku di rumah aja ya, Ma,” ucap Gita memelas.


“Loh, kamu tega biarin Mama bawa sendiri semuanya segini banyak?” Mamanya mulai merajuk.


“Okelah, tapi cuman nganter aja kan?” Gita memastikan.


“Iyaa. Buruan udah jam enam, mereka katanya datang jam tujuh.”


Selesai mandi, Gita berdiri terpekur di depan lemarinya yang terbuka. Ia merasa enggan sekali ikut bertemu dengan Langit dan Gaby.


“Giiitt!” seruan Mama dari luar kamar, memaksanya untuk segera mencari baju ganti di dalam lemari.


“Kamu itu coba lebih feminin dikit, pake rok kenapa?” protes Mamanya saat ia keluar dari dalam kamar, dengan kaos oblong warna putih dan celana jeans yang super nyaman.


“Tadi katanya cuman nganter doank trus pulang kan?” Mama tidak mau menjawab hanya menarik nafas panjang, dan menggelengkan kepalanya.


“Emang kita diundang, Ma?” tanya Gita, saat mereka berdua di dalam mobil menuju ke rumah Langit.


“Mama sih diminga nemenin.”


“Lah aku?” Gita menunjuk ke dirinya sendiri.

__ADS_1


“Ga tauuu,” seloroh Mamanya usil.


“Ya dahlah, ntar aku pulang sendiri aja.” Gita menggerutu kesal.


“Sudah ga usah pake cemberut gitu, buruan bantuin Mama turunin kue-kuenya.” Mama mulai membuka pintu mobil bagian belakang.


Rumah Langit masih tampak sepi, sepertinya masih belum datang tamu yang dimaksud.


“Terima kasih ya, Jeng. Pake ditambahi bonus segala.” Tante Laras tersenyum puas melihat apa yang dibawa oleh Mama Gita.


Bunyi bel dan ucapan salam dari arah pintu masuk, mengalihkan perhatian Tante Laras dari jejeran kue buatan Mama Gita.


Terdengar suara obrolan singkat melepas rindu antara Tante laras, Mama Gita, dan sepasang suami istri dari arah ruang tamu. Tak berapa lama Mama Gita masuk kembali ke dapur, mengajaknya keluar untuk berkenalan.


“Ini putri saya namanya Gita Gempita, satu sekolah juga kok sama Langit dan Gaby,” jelas Mama. Gita mencium punggung tangan kedua teman Tante Laras dengan hormat.


“Putrinya ga ikut? Tanya Mama Gita.


“Gaby katanya, habis beli perlengkapan prakarya nanti langsung nyusul kesini,” jawab Mama Gaby.


“Iya nih, mereka sudah sampai mana ya? Kok belum sampe. Sudah jam segini loh,” sahut Tante Laras khawatir.


“Jalan sama Langit? tanya Mama Gita.


“Sudah, biarkan saja. Maklum namanya anak muda, mungkin masih mau berduaan,” celetuk Om Wahyu disambut dengan gelak tawa tiga wanita paruh baya yang duduk di sekelilingnya.


Kursi yang di duduki Gita terasa sudah membakar bo*kongnya. Ia ingin berlari masuk ke dalam kamar mandi, dan duduk di dalam ember yang dipenuhi dengan es batu.


“Nah itu yang ditunggu sudah datang,” ucap Om Wahyu, seraya melongok ke luar jendela.


“Ma, aku ke belakang dulu. Kebelet,” bisik Gita. Mamanya hanya mengangguk sekilas.


Gita segera berjalan cepat ke belakang, sebelum Langit dan Gaby masuk ke dalam rumah. Sungguh ia belum siap bertemu mereka. Ia belum bisa berpura-pura kalau tidak suka dengan kedekatan Gaby dan Langit saat ini. Ia takut jika menangis di hadapan Langit, karena tidak bisa menahan cemburu.


Hampir sepuluh menit, ia berada di dalam kamar mandi. Akhirnya ia memutuskan keluar dan menunggu di dapur.


Terdengar suara obrolan ringan dari ruang tamu. Suara Gaby dan Om Wahyu yang paling mendominasi, sedangkan ia sama sekali tidak mendengar suara yang sangat ia rindukan.


Tiba-tiba semua suara itu terdengar mendekat. Gita langsung segera menyusut air matanya, dan meminum segelas air dingin untuk melancarkan kerongkongannya yang serak, karena sempat sedikit menangis.


“Kamu di sini toh, makanya tadi kok ga keliatan,” celetuk Tante Laras saat masuk ke dalam dapur.


“Git, lagi ngapain?” tanya Mamanya yang berjalan di belakang Tante Laras. Sorot mata Mamanya menelisik wajah Gita, seakan tahu ada yang disembunyikan oleh putrinya.

__ADS_1


“Git, tolong bantu bawakan ini ke meja makan ya, Sayang,” pinta Tante Laras. Gita mengangguk dan mencoba tersenyum.


Sebelum masuk ke ruang makan, Gita menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan keras.


Om Wahyu sudah duduk di ujung meja. Sedangkan istrinya dan Gaby, duduk berdampingan. Langit masih berdiri di belakang mereka, sedang mengetik sesuatu di ponselnya.


“Hai, Gaby,” sapa Gita ramah. Gadis itu tampak cantik dengan dress sabrina berwarna pastel. Sangat jauh dibanding penampilannya saat ini.


“Hai juga,” sahut Gaby datar.


Langit mendongak dan tersenyum lebar, begitu mendengar suara Gita ada di dekatnya.


“Loh, Git kamu ikut toh. Aku pikir kamu di rumah sendirian, ini aku baru mau kirim pesan,” ucap Langit dengan nada suara yang tidak bisa disembunyikan, bahwa hatinya sedang bahagia.


'Ow, ternyata Kak Langit tadi mau kirim pesan ke aku. Ahh, paling juga mau nawarin makan di sini, kasihan kali sama aku, ga ada makanan di rumah. Atau mau pamer pacar sekarang sudah punya pacar.’


Hati Gita yang semula senang, karena Langit ada perhatian sedikit dengannya, kembali merosot karena dugaan-dugaan yang mengganggu pikirannya.


“Tadi bantuin Mama bawa kue,” sahut Gita.


“Ini yang kemarin kamu ajak ke kantor kan, Lang?” tanya Om Wahyu. Langit mengangguk dengan senyuman lebar.


Gita menyalami kedua orang tua Gaby dengan sopan. Wajah Gaby semakin kusut mendengar, bahwa Gita pernah diajak ke kantor oleh Langit.


“Ayoo, makan dulu.” Tante Laras dan Mama Gita muncul dari arah dapur masing-masing membawa semangkuk sayur dan lauk yang baru matang.


“Duduk di sini ajaa." Saat Langit berjalan mendekati Gita yang masih berdiri di seberang meja, Gaby menarik tangan pria itu hingga terduduk di kursi sebelahnya.


...❤❤...


Ingatkan lagi aahh ..


Love/favorite ❤


Komen bebas asal santun 💭


Like / jempol di setiap bab👍


Bunga 🌹


Kopi ☕


Rating / bintang lima 🌟

__ADS_1


Votenya doong 🥰


__ADS_2