Ternyata Itu Cinta

Ternyata Itu Cinta
Saran dari senior


__ADS_3

Din ... din ... din


Suara klakson yang sudah familiar di telinga, terdengar begitu semangat dibunyikan. Seperti menggambarkan suasana hati sang pemilik kendaraan.


"Tuh, ga perlu nunggu kan." Mama berjalan mendahului. Gita mengikuti dari belakang dengan langkah malas.


"Tante kok pindah ke belakang?" protes Gita, saat Mama Langit keluar dan pindah ke bangku belakang mobil.


"Tante sama Mama kamu mau ceritaan, kalian yang muda di depan aja ya," ucap Mama Langit santai.


Langit menyambut dengan tersenyum lebar saat Gita masuk dan duduk di sebelahnya.


Entah kenapa Gita malas bertemu Langit, setelah tahu pria yang selalu memperhatikannya, sekarang memberi perhatian juga dengan gadis selain dirinya.


"Lang, nanti mampir ke minimarket seberang perumahan ya, kita belum beli oleh-oleh sama kado untuk babynya."


"Siap Tante," sahut Langit ceria.


"Dah kamu aja yang turun, beli kado, buah sama snack untuk ponakanmu," ucap Mama seraya memberikan kartu berwarna kuning pada Gita, saat mobil Langit sudah berjajar rapi di parkiran minimarket.


"Aku temani," ujar Langit.


"Ga usah!" seru Gita ketus. Langit tidak menghiraukan ucapan ketus Gita, ia tetap mengiringi langkah Gadis itu.


"Aku yang dorong." Langit mengambil alih kereta dorong dari tangan Gita.


"Di jadikan parcel bagus, Mpi," celetuk Langit saat Gita sibuk memilih buah-buahan.


"Mba, bisa di rangkai jadi parcel?" tanya Langit pada karyawan bagian timbangan, saat Gita menimbang buah-buahan yang telah ia pilih.


"Bisa, mas. Nanti setelah ditimbang bawa aja ke meja pojok sana."


"Terima kasih, Mba."


"Mpi, aku bawa buahnya ke sana ya, kamu mau cari snack untuk ponakanmu, kan?"


"Terserah," sahut Gita singkat. Kata pertama darinya setelah sekian lama mereka berada di dalam minimarket.


Gita terus berjalan meninggalkan Langit, yang masih memandangnya dengan sedih.


"Yang itu bagus," celetuk Langit saat Gita mengangkat beberapa stel baju baby.


Ia sendiri sudah selesai membungkus buah-buahan menjadi sebuah parcel yang cantik.


Sekilas Gita melirik Langit yang berdiri sebelahnya, lalu memasukan baju baby yang di pilih Langit ke dalam keranjang.


"Cewek ya babynya?"


"Hmm," jawab Gita tak acuh. Ia berjalan menuju karyawan yang bertugas merangkai hampers.


Setelah selesai, tanpa berkata apapun Gita berjalan menuju meja kasir diikuti Langit dari belakang.


Setelah Gita menyelesaikan pembayaran, Langit mengambil beberapa batang coklat yang ada di meja kasir.

__ADS_1


"Ponakanku ga boleh makan coklat terlalu banyak."


"Buat kamu," jawab Langit singkat.


"Aku ga minta coklat."


"Aku kasih, ga perlu kamu minta." Langit tetap melakukan pembayaran.


"Aku ga mau, bikin gendut." Gita menggerutu.


"Lebih baik jadi gendut, dari pada jadi bisu," sahut Langit tak peduli. Ia mengangkat tas belanja dan langsung berjalan meninggalkan Gita yang cemberut di belakangnya.


Di dalam mobil suasana di bangku belakang sangat jauh berbeda dengan di bangku depan.


Jika di bangku belakang dua wanita setengah baya saling berbisik lalu tertawa, lain halnya di bangku depan yang sunyi seperti dua orang asing.


"Selamat sore," sapa Mama menyapa Om Suroto dan istrinya.


Om Suroto adalah Kakak dari Mama Gita, yang baru mendapatkan cucu ketiga dari putra tunggalnya.


"Waah orang jauh baru datang," seloroh Om Suroto seraya memeluk adiknya.


"Nungguin anak-anak pulang sekolah dulu."


"Ini Bima?, kok berubah wajahnya," celetuk istri Om Suroto.


"Lain Mbak, ini Langit anaknya Laras. Masih ingat toh?"


"Oww, yaaa mereka yang dulu sering main bertiga. Anak jaman sekarang cepet banget tumbuhnya, kebanyakan makan baking soda kayaknya," seloroh Om Suroto seraya menepuk-nepuk lengan Langit yang jauh lebih tinggi dari dirinya.


"Bagus lah itu, temanan sejak kecil terus punya anak lanjut jadi besan," tambah istri Om Suroto.


Langit yang masih berada di tengah-tengah orang dewasa, agak sedikit salah tingkah mendengar celetukan kakak Tante Silvi dan istrinya. Apalagi Mamanya dan Mama Gita terkikik penuh arti. Sedangkan Gita sudah sejak tadi mendekat di ranjang menantu Om Suroto yang baru saja melahirkan, sehingga ia tidak sempat mendengar perbincangan yang bisa membuatnya semakin kesal.


"Kelas berapa?" tanya Om Suroto.


"Dua belas, Om."


"Loh bukannya kamu seangkatan sama Bima?"


"Iya, tapi Langit terpaksa harus mengulang lagi di kelas dua belas karena pas mau ujian Papanya meninggal di Inggris, dan dia harus tinggal di sana selama satu tahun untuk urus perpindahan kantor pusat ke Indonesia," jelas Mama Langit.


"Jangan salah, Pa. Langit ini statusnya aja anak SMU, tapi sebenarnya Bos besar. Kami sering ada proyek bersama, ya kan Lang?" celetuk putra Om Suroto.


Langit hanya tersenyum malu, mendengar pujian yang dilontarkan anak Om Suroto, tapi matanya tidak lepas dari interaksi antara Gita dengan istri Kak Ray yang sedang menggendong bayi.


"Suka?" tanya Kak Ray yang tiba-tiba sudah duduk di sampingnya.


"Ha?" Langit terkejut geraknya menjadi salah tingkah.


"Kamu suka sama sepupu aku?" bisik Kak Ray seraya menyenggol lengan Langit menggodanya. Ia hanya tertawa kecil dan menunduk menyembunyikan rasa malunya.


Apakah sekelihatan itu?, memalukan. batinnya.

__ADS_1


"Aku juga laki, Lang. Tau lah tatapan-tatapan pria yang sedang jatuh cinta itu seperti apa," bisik Kak Ray lagi.


"Waah, harus cepat di resmikan, Tan. Ini calon menantu idaman loh." Kak Ray sengaja bersuara keras agar Gita mendengar.


"Kami sih setuju-setuju aja, terserah mereka berdua. Gita lulus SMU mau langsung nikah selama pasangannya Langit, Tante sih oke-oke aja. Kalau yang lain mikir dulu."


"Apaan sih, Ma!" Wajah Gita merengut kesal, "Emang aku pelakor," tambahnya pelan. Langit dan Kak Ray yang sempat mendengar kalimat terakhir Gita mengerutkan kening mereka.


"Kamu sudah punya pacar?" bisik Kak Ray. Langit hanya menggeleng bingung, matanya masih tertuju pada Gita yang sudah kembali bercanda dengan anak-anak Kak Ray.


"Masih dalam perjuangan ceritanya?" goda Kak Ray.


"Sudah ditembak belum?"


Langit menggeleng dan tersenyum malu. Diakuinya ia takut mengatakan perasaannya, karena ia tidak ingin ada yang berubah antara dia dan Gita.


Friendzone bahkan brotherzone sudah sangat melekat pada hubungan mereka berdua. Jika ada cinta yang masuk, pilihannya cuman dua hubungan mereka berlanjut manis atau semakin rusak.


"Perasaan itu harus diungkapkan, apapun resikonya. Kamu akan jauh lebih menyesal, kalau tidak sempat menyatakan perasaanmu pada orang yang kamu sukai."


"Kalau ditolak, setidaknya kamu tau dia bukan untukmu. Sebaliknya bayangkan jika dia ternyata punya perasaan yang sama, tapi terlanjur dimiliki oleh orang lain ... semua sudah terlambat."


Langit melihat Gita jalan bersama Teddy saja hatinya sudah panas. Apalagi membayangkan Gita berada di pelaminan bersanding dengan Teddy, ditambah gadis itu menangis dan mengatakan 'sebenarnya aku juga suka sama Kak Langit.'


Langit menggeleng-gelengkan kepalanya dengan keras, mencoba mengusir bayangan mengerikan dalam pikirannya.


Kak Ray tertawa terbahak lalu menepuk bahunya dengan keras, "Makanya pepet terus, jangan sampai ditikung cowok lain," bisiknya, "Ini contohnya gerak cepat. Kalo aku lambat ambil keputusan, istri Kak Ray itu bisa balik lagi ke mantannya," tambah sepupu Gita itu, seraya menepuk dadanya lalu menunjuk istrinya yang sedang bersama Gita.


...❤❤...


Cerita tentang Kak Ray dan istrinya ada di sini



follow ig : ave_aveeii


Ingatkan lagi aahh ..


Love/favorite ❤


Komen bebas asal santun 💭


Like / jempol 👍


Bunga 🌹


Kopi ☕


Rating / bintang lima 🌟


Votenya doong 🥰


Mampir ke karya teman aku yuk

__ADS_1



__ADS_2