
"Terima kasih ya, Lang," ucap Tante Silvi sebelum turun dari mobil.
"Mama turun bentar ya, mau pipis." Mama Langit mengikuti Tante Silvi masuk ke dalam rumah.
"Empi," panggil Langit, saat Gita ikut berjalan di belakang Mamanya.
"Coklatmu," Langit menyodorkan tiga batang coklat dengan merk yang berbeda.
"Kan aku tadi udah bilang ga mau."
"Aku beli buat kamu."
"Ya makan sendiri aja," sahut Gita tak peduli, ia berbalik dan akan melangkah lagi.
Langit menarik tangan Gita, membuka telapaknya lalu menaruh tiga batang coklat itu di telapak tangannya yang terbuka.
"Bawa. Ga harus di makan sekarang juga." Langit menutup kembali telapak tangan Gita, hingga tiga batang coklat itu sudah berpindah di tangan.
"Maksa banget sih." Gita menggerutu.
"Ya, aku maksa. Masuk sana." Langit memutar tubuh Gita lalu mendorongnya pelan.
"Lang, tadi di rumah sakit kamu ngobrolin tentang Gita ya, sama si Ray? Kamu suka sama Gita?" tembak Mama langsung saat mereka berdua dalam perjalanan pulang.
"Su-suka gimana maksudnya sih, Ma." Langit tiba-tiba merasa jarak antara rumah Gita dan rumahnya sangat jauh, padahal hanya beda blok saja.
"Ga usah belagak bodoh, Mama sama Tante Silvi denger semuanya loh."
"Tante Silvi?!" Kalo Mama Gita yang tahu, satu kabupaten bisa dapat kabarnya juga.
"Bener?" desak Mama.
"Bener apanya sih, Ma?" kilah Langit.
"Ya udah, kamu ga mau jujur, Mama juga ga bisa bantu," sahut Mama lalu berjalan santai masuk ke dalam rumah.
Langit dengan cepat memarkir mobilnya, dan langsung menyusul Mamanya yang berada di dapur.
"Ma, emm ... tadi maksudnya mau bantu itu, bantu apa ya."
"Eh, penasaran toh. Mama kira kamu ga peduli. Sekarang jawab dulu, kamu suka sama adiknya Bima?" Langit masih diam tidak menjawab pertanyaan Mama.
"Ya udah kalo ga su---,"
"SUKA!" jawab Langit cepat sebelum Mamanya keluar dari dapur.
"Nah gitu, namanya laki-laki itu harus berani menyatakan diri." Langit tidak menanggapi perkataan Mama, ia mengambil segelas air dingin lalu segera minum sampai habis.
Dadanya masih bertalu sehabis mengakui di depan Mamanya. Ini baru di depan Mama, bayangkan jika ia harus mengatakan di depan orangnya langsung.
"Tapi kamu serius suka kan sama Gita?, bukan sekedar perhatian karena terbiasa sama-sama atau hanya iseng."
"Mama ga mau loh hubungan pertemanan sama Tante Silvi rusak gara-gara kamu."
"Mama sih seneng-seneng aja kalo kamu bisa jodoh sama Gita."
__ADS_1
"Uhuk ... uhuk ... uhuk." Langit batuk tersedak air yang diminumnya, gara-gara mendengar kata jodoh yang diucapkan Mamanya.
"Kamu kenapa sih? Lang, jangan bilang Gita cinta pertama kamu?" selidik Mama.
Langit tertunduk malu, ia memang belum pernah merasakan getar-getar apapun jika berada di dekat wanita selain dengan Gita.
"Kamu sudah pernah bilang sama dia?" suara Mama melunak.
"Gita suka sama cowok lain."
"Masih suka kan?, belum jadi pacar atau jadi istri?" Langit mengangguk.
"Tikung dong, anak Mama kok lemah. Kamu menang banyak, Lang. Ga perlu minta restu sama Tante Silvi, sudah pasti lancar. Rumah deket tinggal samperin tiap pingin ketemu, selalu ada alasan untuk selalu dekat. Terus bagian mana yang sulit?" Langit melongo melihat Mamanya yang kalem menjelaskan dengan berapi-api.
"Terus yang Mama bilang tadi mau bantu itu seperti apa?"
"Lah kamu sendiri sudah berusaha sejauh apa dulu? bilang suka aja belum. Ya kan?"
"Aku ga bisa bilang ...." Langit menggantung kalimatnya. Mengucapkan kata suka di depan Mamanya saja ia tidak sanggup.
"Takut ditolak?"
"Takut kalo Bima marah, Tante Silvi marah ... dia marah," ucap Langit lirih.
"Kalo Tante Silvi urusannya mama, lalu Bima kenapa harus marah selama kamu serius dan memperlakukan adiknya dengan baik."
"Kalo Gita yang marah, itu resiko yang harus kamu hadapi. Pernyataan cinta itu memang tidak selamanya berakhir manis, tapi disitulah letak tantangannya."
"Kalo dia ga mau ketemu aku lagi?" Langit memandang Mamanya sendu. Ia yang selama ini mempunyai image pria cool, terlihat tidak berdaya hanya gara-gara belum siap mengungkapkan cinta.
"Dia suka sama Teddy, Ma. Cowok idola di sekolah, tapi brengsek," ucap Langit kesal.
"Yakin?" Mama mengerling.
"Mau tau caranya nge-test cewek?, sini Mama kasih tau." Mama mendekat dan berbisik.
Beberapa saat kemudian matanya membesar, "Jangan kayak gitu ah, Ma."
"Ga percaya, coba aja." Mama tersenyum simpul lalu berjalan keluar dari dapur.
Langit diam terpekur, ide dari mamanya ini sungguh beresiko dan juga ia sama sekali tidak punya pengalaman.
...❤...
"Kak Teddy!" Gita menghadang Teddy di bawah tangga. Gita tidak tahan setelah beberapa hari Teddy seolah menghindarinya.
"Minta nomer Kak Teddy, ponselku rusak." Gita menyodorkan ponsel barunya ke hadapan Teddy.
Dengan alis berkerut dan sedikit-sedikit melirik Gita, Teddy mengetikan angka di ponsel Gita.
"Kak Teddy kenapa kok sepertinya menghindari aku?"
"Ga, perasaan kamu aja," sahut Teddy gugup. Ia heran dengan sikap Gita yang seolah tidak menyalahkan dirinya atas perlakuan Om Bagas.
Sepolos atau sebodoh itukah gadis ini, Teddy tertawa dalam hati.
__ADS_1
"Aku mau kasih tau sama Kak Teddy tentang Om Bagas." Tubuh Teddy menegang mendengar nama Om Bagas disebut.
"Dia itu ga baik loh, Kak. Orangnya kurang ajar, dia paksa cium aku di mobil," ujar Lea berapi-api.
"Sssstttt. Jangan keras-keras." Teddy menggiring Gita ke sudut gedung yang agak sepi.
"Kamu ga pa-pa?" tanya Teddy seolah khawatir.
"Syukurlah aku ga pa-pa kok. Ada Kak Langit yang nolong aku."
"Oh," respon Teddy singkat. Mendengar nama Langit disebut, rahang dan ulu hatinya mendadak ngilu kembali.
Malam setelah ia menyerahkan Gita ke Om Bagas, Langit mendatanginya di tempat ia biasa nongkrong bersama gengnya.
Tanpa berkata apapun pria itu langsung menarik dan menghajarnya tanpa ampun. Teman-temannya yang bersiap menolongnya berhenti saat Langit mengatakan, ia punya bukti yang akan menyeretnya ke kantor polisi.
"Kak ...." Gita menggantung kalimatnya saat melihat Anggita menatapnya tajam dari kejauhan.
Teddy mengikuti arah pandang Gita, "Mmm, aku pulang dulu ya," ucapnya. Saat ini sosok Anggita dan Langit, bagaikan hantu yang harus segera ia hindari sejauh mungkin.
Belum sempat Gita menjawab dan menahan langkah Teddy, pria itu sudah berlari kecil menjauh.
"Git, aku mau ke rumahmu." Anggita mensejajari langkah Gita.
"Mo ngapain?" tanya Gita tak acuh tanpa mengurangi kecepatan langkahnya.
"Nginep, boleh?"
Gita menghentikan langkahnya lalu menghadap Anggita, "Iya, mau ngapain??" sahutnya ketus.
"Ngobrol, kita sudah lama ga ngobrol," sahut Anggita pelan.
"Terserah." Gita kembali berjalan cepat ke arah pintu gerbang.
...❤❤...
follow ig : ave_aveeii
Ingatkan lagi aahh ..
Love/favorite ❤
Komen bebas asal santun 💭
Like / jempol 👍
Bunga 🌹
Kopi ☕
Rating / bintang lima 🌟
Votenya doong 🥰
Mampir ke karya teman aku yuk
__ADS_1