
Enji sangat ragu melangkahkan kakinya memasuki mansion johan. Ini kedua kalinya ia masuki mansion johan yang sangat megah dan ia tau apa yang terjadi nanti pada dirinya.
Bukan sebuah kebahagiaan yang akan ia dapatkan melainkan sebuah penderitaan.
langkah kaki enji perlahan telah memasuki mansion diikuti oleh asisten jiangwu, kedatangannya disambut sangat baik oleh para maid
"selamat datang nona kim" ucap para maid serempak dan memberi hormat pada enji.
Enji hanya tersenyum tipis pada para maid yang menyambutnya dengan baik. walaupun senyum enji tidak akan pernah dilihat oleh para maid.
"selamat atas pernikahan anda nona" ucap pria parubaya sembari membungkukkan badannya.
"terimakasih tuan" tersrnyum tipis pada pria parubaya itu.
"nona jangan manggil saya tuan saya disini bawahan nona, nona bisa memanggil saya pak jung saya disini kepala pelayan" jelas parubaya itu dengan mata menatap ke lantai keramik yang sangat bersih dan mengkilat.
"iya pak jung" cicit enji
"pak jung tolong antar nona eunji kekamarnya!" suruh asisten jiangwu
"baik tuan, mari nona" ucap pak jung dengan sopannya
"ba-baik" sahut enji tersendat sendat.
Enji langsung mengikuti langkah kaki pak jung yang berkerja sebagai kepala pelayan dikeluarga park. Pak jung menunjukkan arah kamar yang akan di tempati oleh enji.
Langkah pak jung langsung berhenti di depan pintu yang sangat tinggi berwarna hitam. Pak jung langsung membuka pintu kamar dengan lebar.
"silahkan masuk nona ini adalah kamar nona dan tuan johan" jelas pak jung
"oh iya pak"
Dan enji langsung memasuki ruangan itu,kamar yang super mewah dan kamar yg dominasi berwarna putih ruangan itu sangat indah dihiasi beberapa barang yang sangat mahal dan kamarnya sangat luas tiga kali lipat dari kamar ayahnya.
"kalau nona ingin kekamar mandi nona bisa melalui pintu yang bercat hitam itu."ucapnya sembari menunjukkan tangannya kearah salah satu pintu yang berada disudut ruangan itu.
"dan kalau pintu itu, itu ruangan walk in closet
Di sana sudah tersedia semua pakaian yang dibutuhkan nona"jelasnya
* pakaian? perasaan aku tidak membawa baju sama sekali* tanya enji dalam hatinya
"baiklah saya mengerti pak jung dan saya ucapkan terimakasih atas semua bantuan pak jung" ucapnya sangat ramah sembari membungkukkan badannya.
"sama sama nona dan nona tidak perlu sungkan terhadap saya. jika ada sesuatu yang nona butuhkan nona bisa memanggil saya atau pelayan lainnya." balas parubaya itu
"nanti jika ada yang saya butuhkan saya pasti manggil pak jung atau pelayan lainnya" sahut enji
"kalau begitu saya permisi nona, selamat beristirahat"
"silakan pak jung"
Sebelum pergi Pak jung memberikan hormat kepada enji lalu pergi meninggalkan enji sendiri.
Setelah pak jung keluar enji bisa bernafas lega
"huft" menghembuskan nafas nya secara pelan
"waw kamarnya besar sekali dan luas ini 3 kali lipat dari kamar ayah aku bisa berlarian didalam kamar ini." ucap enji terkagum kagum. mata rusa nya, yang baru pertama kalinya ia melihat kamar sebesar ini.
Enji melangkahkan kakinya menuju pintu ruangan walk on closet. tangannya langsung memutar handle pintu dan pintu betcat hitam terbuka lebar.
"ya tuhan ini ruang walk on closet banyak sekali lemari disini mana ya lemari yang berisi pakaian ku apa mungkin ini" ucapnya takjub melihat lemari yang sangat besar berwarna putih berjejer sangat rapi sembari melangkahkan kakinya mendekati lemari.
tangan mungilnya langsung membuka pintu lemari yang tak jauh dari dirinya.
" ini kan pakaian tuan johan, berarti ini lemari tuan johan. mungkin sebelah itu lemari pakaianku" monolog nya saat melihat isi lemari yang berisi semua tuxedo milik johan.
Dan tangan nya langsung menutup lemari yang berisi pakaian johan. langkahnya mendekati lemari yang tak jauh dari dirinya.
Enji langsung membuka lemari itu. betapa terkejutnya ia melihat semua isi dalam lemari itu yang dimana pakaian wanita tersusun rapi.
"astaga apa ini semua pakaianku? banyak sekali." ucapnya takjub dengan tangan membekap mulut nya.
tangannya langsung melepaskan bekapan dimulutnya. tangan Kanan nya mengambil salah satu baju berwarna putih yang tembus pandang.
"baju apa ini tipis sekali? Tembus pandang lagi mana ada orang pakai baju ini. ini cocok nya jadi lap meja" cicit enji saat tangannya megang baju yang sangat tipis
"tapi tunggu dulu masih berlebel coba liat berapa harganya?" tangannya meraih lebel yang masih melekat di baju itu
"Astaga dua puluh juta baju yang sangat tipis ini dua puluh juta. Kalau pun aku ada uangnya aku tak mungkin beli baju setipis ini membuang uangku saja" pekik enji sembari menggelengkan kepala nya. ia benar benar tidak percaya dengan harga baju itu.
__ADS_1
Ia kembali meletakkan baju itu ke tempat asal nya. tangan nya langsung meraih setel pakaian santai dan memakai nya.
Enji langsung keluar dari ruang walk on closet dan langkah kaki nya berjalan mendekati pintu kamar mandi tangannya langsung memutar handle pintu.
Dan pintu pun terbuka.
Mata enji langsung membulat sempurna
"astaga ini kamar mandi, kenapa besar sekali. Kamar mandi ini lebih besar dari kamarku. Kamar mandi kak Jessalyn saja tidak sebesar seperti ini. Bathupnya juga besar sekali bisa dimasuki 2 orang bisa juga lebih." jelas nya terkagum kagum
Saat enji ingin melangkahkan kakinya mendekati bathup, tiba tiba saja kepala nya sakit ia pun berhenti melangkahkan kaki nya. tangan kanan nya langsung memegang kepala nya
"akhh, kenapa kepalaku sakit sekali."pekik enji kesakitan
Enji pun langsung berbalik, perlahan lahan enji melangkahkan kakinya. Kepala nya benar benar sakit tangan kiri nya berpegang pada dinding agar ia tidak jatuh.
Setibanya enji dikasur yang empuk enji langsung duduk dan mengambil tas selempangnya diatas kasur yang sempat ia letak kan sebelum keruangan walk on closet.
Tangan mungil nya langsung membuka tasnya dan mengambil sebuah botol yang berisi obat.
"mungkin kepalaku sakit seperti ini karena aku belum minum obat aku harus minum obat agar rasa sakitnya menghilang." tutur enji
Tangan nya langsung mengeluarkan sebutir obat dalam botol.
"tapi disini tidak ada air minum, kalau aku keluar kurasa aku tak sanggup." jelas nya masih menahan sakit. tangan satu nya masih betah memegang kepala nya yang sakit.
Matanya melihat kesana kemari mencari air minum. Tak sengaja matanya tertuju pada gelas yang berisi air di atas nakas.
"itu sepertinya air minum. Tidak apalah minum air itu yang terpenting rasa sakit ini bisa menghilang" ucap enji sedikit demi sedikit ia menggeser tubuh nya.
Tangannya langsung mengambil gelas berisi air yang tak jauh dari dirinya. Tangan kanan nya langsung memasukkan sebutir obat kedalam mulutnya dengan cepat ia langsung meminum air yang tersisa setengah sampai habis ludes.
"huft, syukurlah sakitnya berkurang. Untungsaja jimmy berinisiatif membawakanku tas ini dan untungnnya didalamnya ada obatku. Kalau gitu aku harus istirahat" ucapnya syukur.
Enji pun langsung merebahkan tubuhnya dikasur yang sangat empuk. Tak butuh waktu yang lama ia sudah terlelap. karena obat yang ia minum mengandung obat tidur.
Sekitar jam satu siang enji sudah bangun dari tidurnya. Ia menyandarkan punggung nya di Headboard sembari matanya menatap lurus kedepan.
"ayah sedang apa dirumah? Aku sangat merindukanmu ayah" ucapnya sedih dan memejamkan kedua belah matanya.
Tok tok tok
Enji langsung membuka kedua belah mata nya dan menoleh ke pintu kamar
"iya sebentar" ucap enji sedikit meninggikan suaranya.
Enji setengah berlari kecil dan tangannya langsung memutar handle pintu sebelum itu enji mengubah raut wajahnya yang tadi sedih sekarang datar.
Terlihatlah seorang pria parubaya dan seorang perempuan memakai baju pelayan dengan tangan membawa nampan yang berisi makanan.
"ada apa pak jung?" tanya enji
"ini nona makan siangnya sudah saatnya makan siang nona" jelas pak jung
"kenapa dibawa kekamar? Saya ingin makan di meja makan bersama keluarga yang lain" balas enji saat matanya melihat nampan uang berisi makanan.
"maaf nona, ini perintah dari nyonya goo hee, karena nyonya tidak ingin makan satu meja dengan nona" tutur pak jung sedikit tidak enak menyampaikan pesan dari ibu kandung johan.
"Oh gitu ya." ucapnya sembari tersenyum paksa pada pak jung.
"ya sudah bawa masuk saja" titah enji sbari membuka pintu lebar lebar.
"baik nona" sahut pak jung
pak jung dan pelayan wanita itu masuk kedalam kamar enji.Enji langsung menutup pintu kamarnya dan mengikuti langkah pak jung. setibanya pak jung dan pelayan wanita itu didalam kamar enji, ia langsung meletakkan makanan enji dan air di atas meja.
"silahkan nona, dimakan. selamat makan nona" ucap pak jung semabri menunduk
"iya" jawab enji sudah duduk disofa.
*apa aku membut kesalahan sampai nyonya besar tidak ingin makan bersamaku?* pikir enji dalam batin nya.
"nona kenapa tidak dimakan? Apa makanannya tidak enak?" tanya pak jung mengangkat wajahnya saat telinganya tidak mendengar dentingan sendok.
"saya sedang berdoa pak jung" elak enji
"oh maafkan saya nona"
"tidak apa apa pak jung"
"pak jung kenapa masih disini?" tanya enji heran pada pak jung dan pelayan wanita yang madih berdiri dihadapannya.
__ADS_1
"saya akan menunggu nona selesai makan" jawab pak jung
"oh, pak jung sudah makan?" tanya enji sembari menyuapkan makanan ke dalam mulut nya
"belum nona, nanti setelah semua keluarga park selesai makan kami para pelayan akan makan" jelas pak jung
Enji hanya menganggukan kepalanya.
*aku harus cepat cepat selesai makan. Biar pak jung juga bisa makan. kasihan pak jung dan para pelayan lainnya tidak makan apalagi pak jung sudah tua. Bisa bisa nanti pak jung sakit.* monolog enji dalam hatinya.
Enji terus memasukkan makanan kedalam mulutnya.
Tak lama makanan enji telah habis.
"pak jung saya sudah selesai makan" ucap enji.
"oh ya nona, nona jangan lupa minum obat itu pesan dari asisten jiangwu" ucap pak jang mengingatkan enji untuk minum obat
"ah, iya. sebentar saya ambil obatnya dulu"
"nona duduk saja disofa, biar saya yang mengambilnya"
"iya pak jung, terimakasih"
"sama sama nona"
pak jung berbalik dan melangkahkan kakinya ke nakas yang berada disamping ranjang. tangan keriputnya mengambil plastik yang berisi obat diatas nakas. pak jung kembali kehadapan enji dan memberikan obat itu pada enji.
"ini nona" memberikan plastik yang berisi obat pada enji
"terimakasih pak jung" tangan mungilnya mengambil plastik itu ditangan pak jung.
Enji langsung membuka plastik itu dan mengambil tiga macam obat dan langsung meminumnya.
Setelah memastikan enji meminum obatnya, pak jung langsung meletakkan piring bekas dan gelas kosong kedalam nampan. pelayan wanita itu langsung mengambil nampan yang di tangan pak jung.
"pak jung" panggil enji
"iya nona, apa nona ingin makan sesuatu atau"
"tidak, aku tidak ingin makan sesuatu." potong enji
" Eh, tuan johan kapan pulang?" sambung enji
"tuan johan biasanya pulang malam nona" jawab pak jung
enji hanya membalas dengan anggukkan kepalanya.
"nona" panggil pak jung
"iya pak jung?" mata rusanya langsung menatao wajah yang keriput.
"ada satu hal yang harus nona ingat. Nona jangan pernah melangkahkan kaki nona keluar dari kamar ini. tanpa seijin tuan johan. Ini perintah dari tuan johan" tutur pak jung menyampaikan pesan johan
"iya, saya tidak akan keluar dari kamar ini" sahut enji tersenyum kecut.
"kalau begitu saya permisi nona."
"silahkan"
Pak jung dan pelayan wanita memundurkan beberapa langkahnya dan memberi hormat pada enji.
Dan pergi dari kamar enji membawa nampan yang berisi piring bekas.
Bersambung....
Maaf jika ada kata yang typo🙏🙏🙏
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK
LIKE👍
COMENT💬
TIP🌟
VOTE✔
FAVORIT❤
JIKA KALIAN SUKA DENGAN CERITA ATHOR BERI ATHOR DUKUNGAN YA DENGAN CARA DIATAS, BIAR ATHOR TAMBAH SEMANGAT BUAT UP PART SELANJUTNYA
__ADS_1
BYE BYE BYE😘😘😘