TERPAKSA MENIKAH DENGAN CEO PSYCHO

TERPAKSA MENIKAH DENGAN CEO PSYCHO
TMDCP #62


__ADS_3

HAPPY READING 📖


.


.


Entah kenapa pikirannya saat ini adalah enji, enji dan enji. Entah ia sudah memiliki rasa untuk enji atau hanya karena ia ingin mencicipi bibir enji lagi. Yang pasti ia hanya ingin mencium bibir tipis itu lagi,lagi, lagi dan lagi.


Tanpa menunggu lebih lama lagi johan berlari ke ruang ganti dan membuka lemarinya. Dengan tangan meraih mantel berwarna hitam dan tidak lupa pula syal berwarna senada.


tanpa pikir panjang lagi johan langsung memakai mantel dengan syal ia lilit asal di lehernya. Setelah ia merasa penampilannya oke ia berlari keluar kamar dan menuruni anak tangga satu persatu padahal ada life. Karena pikirannya saat ini bener benar kacau ia tidak mempedulikan dirinya yang hampir terjatuh saat menuruni anak tangga.


Mobil Lamborghini milik johan melaju cepat di jalanan yang terlihat sepi hanya ada beberapa mobil yang berselisihan dengan mobil johan karena jam sudah menunjukkan jam 12 malam.


Tak membutuhkan waktu yang lama johan telah sampai di depan lobi rumah sakit, ia sedikit berlari kecil di sepanjang koridor sampai sampai ia menabrak suster yang berselisihan dengannya dan memarahi suster itu.


"kalau jalan itu pakai mata!" teriak johan sembari merapikan mantelnya.


"maafkan saya tuan" balas suster perempuan dengan kepala menunduk


Karena johan sangat terburu buru ia langsung meninggalkan suster itu yang masih menundukkan kepala.


Setibanya johan di depan ruang rawat enji ia tak langsung masuk ke dalam. Ia sedikit membuka pintu dan melihat asisten jiangwu tengah duduk dengan kepala berada di sisi brankar rumah sakit.


"Pasti dia sudah tidur" tebak johan dalam hatinya.


Perlahan johan melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruang rawat enji, pandangan nya bukan tertuju pada Seorang pria yang tengah tertidur pulas namun pandangannya tertuju pada seorang gadis cantik yang di seluruh tubuhnya di penuhi alat alat medis, wajah yang pucat namun masih terlihat sangat cantik.


Tak bertahan lama pandangannya langsung teralihkan melihat asisten jiangwu tertidur pulas di samping enji.


"enak sekali ya tidur di samping istri orang apalagi itu adalah istri atasannya, pasti dia mencari kesempatan dalam kesempitan" gerutu johan menyipitkan kedua belah matanya.


Johan melangkah mendekati asisten jiangwu dan berniat untuk menarik rambut asisten jiangwu. Saat tangannya sudah terulur ingin menarik rambut asisten jiangwu tiba tiba saja ada suara yang sangat familiar di telinganya memanggil namanya.


"johan! "


Johan memutar matanya karena ia tau siapa pemilik suara itu selain temannya yaitu min young.

__ADS_1


"huft, ada apa?" tanya johan memutar tubuhnya tepat berhadapan dengan min young sedangkan min young menatap curiga johan.


"ada apa, ada apa. Kau yang ada apa? Tumben sekali tengah malam seperti ini berada di ruang eunji?"


"apa ada yang salah?!" balas johan dengan nada ketusnya.


"tentu saja salah, atau jangan jangan kau berniat jahat pada eunji dan berniat untuk membunuhnya" ucap min young penuh curiga pada temannya.


"mana ada suami ingin membunuh istrinya"


"istri? ckk, sejak kapan kau menganggap eunji adalah istrimu bukan kah selama ini kau menganggap eunji hanyalah seorang jala*g?" ucap min young dengan alis terangkat sebelah


"andai saja kau tak mendorong eunji dari lantai atas mungkin dia tidak akan berbaring lemah di rumah sakit ini"


"jadi kau menyalahkan ku?!" ucap johan sedikit meninggi, namun min young tidak menanggapi ucapan johan. Ia melangkah melewati tubuh johan dan menuju sisi brankar. memeriksa alat alat medis dan kondisi enji lalu ia catat di sebuah kertas.


Setelah selesai min young langsung keluar dari ruang rawat enji namun sebelum itu ia berhenti sejenak.


"lebih baik kau pulang, kalau kau masih berada di sini itu hanya akan mengganggu istirahat eunji yang sedang sakit " kata min young tanpa menatap wajah johan.


Perlahan tubuh min young menghilang di balik pintu. setelah kepergian min young johan langsung berbalik dan melangkahkan kakinya menghampiri enji yang masih betah memejamkan matanya.


"cepat sembuh aku menunggu mu,jala*g" bisik johan, entah kenapa tiba tiba saja johan mengatakan itu seolah olah ia sedang menunggu Enji.


setelah membisikkan kalimat itu johan langsung keluar dari ruang rawat enji.


Jam sudah menunjukkan angka ke 6 namun tidak ada tanda tanda asisten jiangwu akan bangun dari tidurnya.


Tiba tiba saja jemari lentik enji mulai bergerak perlahan menit selanjutnya matanya sedikit demi sedikit mulai terbuka. detik berikutnya akhirnya enji bisa mengatur cahya lampu di bola matanya.


Mata enji bergerak perlahan memperhatikan setiap sudut ruangan dan langit ruangan yang berwarna putih. Namun pandangannya tertuju pada seorang pria tengah tertidur pulas di sisinya.


"dia siapa? " gumam enji, tak bertahan lama ia kembali memperhatikan setiap sudut ruangan.


"ini bukan kamar, ini rumah sakit" ucap enji dalam hatinya karena ia memcium bau obat obatan dan melihat sekilas tangannya ada jarum infus tertancap di punggung tangannya.


Tubuhnya sedikit mati rasa karena ia sangat sulit untuk mengerakkan tubuhnya. Hanya kepalanya saja yang bisa ia gerakkan itu pun harus secara pelan pelan.

__ADS_1


"sakit" gumam enji dalam hatinya saat merasakan sakit yang luar biasa di sekujur tubuhnya.


Tak lama kemudian akhirnya asisten jiangwu mulai terbangun dari tidurnya dengan tubuh sedikit pegal karena harus tidur duduk.


perlahan asisten jiangwu mulai merenggangkan tubuhnya akibat tertidur sambil duduk badannya terasa pegal.


tiba tiba saja asisten jiangwu menoleh menatap wajah enji namun matanya langsung terbelalak melihat mata enji terbuka lebar karena enji masih menatap langit langit kamar.


"no non nona eun ji" ucap terbata bata asisten jiangwu.


Perlahan enji menoleh ke samping di mana asisten jiangwu masih terdiam mematung memperhatikannya. enji hanya diam memperhatikan asisten jiangwu yang tersenyum pada dirinya tanpa membalas senyum asisten jiangwu.


"non nona sudah sadar? sejak kapan nona sadar?" tanya asisten jiangwu dengan wajah sangat khawatir


namun yang di tanya hanya diam detik berikutnya enji malah tersenyum pada asisten jiangwu, asisten jiangwu pun yang merasa bingung karena enji tersenyum padanya dengan sedikit kakunya asisten jiangwu membalas senyuman enji.


Sedetik kemudian senyum asisten jiangwu luntur seketika,


"kenapa nona malah tersenyum di saat kondisi nona seperti ini?!"


"apa nona tau? Saya sangat khawatir dengan keadaan nona?! saya sangat khawatir saat saya membawa nona ke rumah sakit dengan kondisi nona berlumuran darah"


"saya Hampir gila hanya gara gara memikirkan kondisi nona, saya takut terjadi apa apa pada nona" ucap asisten jiangwu terdengar seperti bentakan.


Bersambung....


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK


LIKE👍


COMENT💬


TIP🌟


VOTE✔


FAVORIT❤

__ADS_1


JIKA KALIAN SUKA DENGAN CERITA ATHOR BERI ATHOR DUKUNGAN YA DENGAN CARA DIATAS, BIAR ATHOR TAMBAH SEMANGAT BUAT UP PART SELANJUTNYA


BYE BYE BYE😘😘😘


__ADS_2