TERPAKSA MENIKAH DENGAN CEO PSYCHO

TERPAKSA MENIKAH DENGAN CEO PSYCHO
TMDCP #75


__ADS_3

selangkah demi selangkah asisten jiangwu mulai memasuki mansion yang terbilang sunyi. semua anggota keluarga pasti melakukan kegiatannya masing-masing. memilih menyibukkan diri sendiri dari pada mengurusi hidup orang lain.


" pulang ke mansion ini adalah Mala petaka bagiku, sama saja aku sedang menyerahkan diriku sendiri" batin Enji.


" tidak ada pilihan lain selain pulang ke mansion bahkan rumah yang ku tinggali bertahun-tahun sudah tidak menerimaku lagi"


namun tanpa mereka sadari ada sepasang mata sedang mengamati mereka dari kejauhan. tatapan yang tajam bak seperti singa yang sedang mengamati mangsanya. ya siapa lagi selain Johan.


Johan sengaja tidak pergi berkerja hari ini, karena ia tau bahwa Enji akan pulang hari ini itu pun atas perintahnya pada dokter min young tanpa sepengetahuan siapapun.


"sial! bisa bisanya jiangwu menggendong gadis itu. aku saja tidak pernah menggendongnya. dasar asisten yang tidak tau batasannya!" umpat Johan menatap geram asisten jiangwu.


"jiangwu!" panggil Johan dengan intonasi yang tidak biasa. tepat berada di belakang punggung asisten jiangwu Johan berdiri.


deg


Enji sangat gugup mendengar Johan memanggil asisten jiangwu dengan intonasi yang tinggi.


"ada apa tuan Johan?" tanya santai asisten jiangwu. dengan posisi saling berhadapan.


Enji yang masih berada di gendongan asisten jiangwu hanya mampu menundukkan kepalanya. tangannya sedikit bergetar dan dingin asisten jiangwu bisa merasakannya karena kedua belah tangan Enji berada di leher asisten jiangwu.


tanpa aba aba Johan melangkah maju dan merebut Enji dari dalam gendongan asisten jiangwu.


" kau tak berhak menggendong nya, dia istriku bukan istrimu. kau harus tau batasanmu jiangwu! " sentak Johan, setelah mengatakan itu Johan langsung menapaki tangga dengan santai.


"apa tuan Johan sedang cemburu ? semoga saja itu adalah tanda cemburu " pikir asisten jiangwu sedikit lucu melihat ekspresi Johan.


***


Dengan santainya Johan menapaki anak tangga satu persatu dengan tatapan lurus ke depan tak lupa wajahnya yang datar tanpa ekspresi apapun.


Enji hanya menunduk ia sama sekali tak berani menatap Johan apalagi melirik sedikit pun.


"pegangan! jika kau tidak berpegangan denganku. aku tidak yakin kau akan selamat dari tangga ini. aku tidak menjamin keselamatan mu!" ucap Johan dengan suara bariton nya. masih diposisi yang sama tatapan yang lurus tanpa ekspresi apapun.


dengan jantung berdebar kencang Enji mulai mengalungkan kedua belah tangan di leher Johan. Johan bisa merasakan deru nafas Enji di leher nya.

__ADS_1


" kenapa jalannya sangat lambat, apa tuan Johan tidak keberatan menggendong ku? dan kenapa harus menaiki anak tangga, kan lift ada. bukan kah tuan Johan sangat anti menaiki anak tangga" pikir enji dalam hatinya tak habis pikir dengan jalan pikiran Johan.


"sebenarnya aku menggendong apa ya? kenapa sangat ringan sekali seperti menggendong kapas saja. apa ayahnya tidak memberi dia makan sampai sampai badannya saja sangat ringan" pikir Johan merasa ia menggendong kapas bukan manusia.


seperkian detik Enji memberanikan diri untuk menatap wajah Johan namun tak bertahan lama Enji kembali mengalihkan pandangannya karena matanya tak sengaja bertemu dengan mata Johan.


" ada apa dengan jantung ku ini Tuhan? kenapa detaknya sangat cepat seperti habis lari maraton?" monolog Enji dalam hatinya.


"semoga saja tuan Johan tidak mendengarkannya" harap Enji.


telapak tangan Enji mulai berkeringat ya lebih tepatnya Enji sangat gugup berada di dekapan johan. jantungnya tak henti berdetak lebih cepat dari biasanya. ingin rasanya ia cepat cepat keluar di situasi seperti ini namun Johan seperti mengatur situasi nya.


"leherku basah? apa aku berkeringat? ah, ku rasa tidak. apa dia gugup atau ketakutan sampai sampai telapak tangan nya basah oleh keringatnya sendiri?" batin Johan melirik sekilas Enji yang menunduk.


setibanya mereka di depan kamar, Johan langsung membuka pintu kamar walaupun sedikit kesusahan karena Enji berada di gendongan nya.


bukan Johan namanya jika ia tidak bisa membuka pintu kamar walaupun Enji ada di gendongan nya.


dengan lembutnya Johan mendudukkan Enji di kasur king size nya. yang selama ini Enji sangat jarang sekali mendudukinya. jangankan mendudukinya merebahkan tubuh di kasur itu pun sangat di larang keras oleh Johan.


"istirahatlah" untuk pertama kali nya Johan berkata lembut pada Enji biasanya ia akan berkata kasar dan selalu menghina, mencaci maki Enji sampai mulutnya berbusa.


"pak Jung" panggil Johan


entah sejak kapan pak Jung berada di belakang Johan, yang pasti Enji tidak tau. matanya hanya fokus pada Johan seorang.


"iya tuan, ada yang bisa saya bantu?" jawab pak Jung dengan kepala menunduk.


"pastikan nona muda istirahat total, apa pun yang ia perlukan? kabulkan!" ucap Johan mutlak.


untuk kesekian kalinya Enji kembali terenyah lagi. Johan menyebutnya nona muda, tidak biasanya Johan memanggilnya dengan sebutan itu. biasanya ia akan menyebut Enji jala*g bodoh atau apalah yang membuat Enji sakit mendengarnya.


"baik tuan" ucap patuh pak Jung.


setelah mengatakan itu Johan berlalu pergi namun sebelum itu ia mengusap lembut Surai enji.


" selamat beristirahat" Enji yang di perlakukan seperti itu hanya diam, bibirnya sangat kelu untuk mengucapkan iya atau terima kasih.

__ADS_1


saat di ambang pintu pun Johan membalikkan badan untuk menatap Enji sebentar. Enji yang ditatap hanya terdiam.


"apakah itu benar benar tuan Johan?" gumam Enji dengan tatapan menatap pintu kamar yang sedikit terbuka karena Johan tidak sepenuhnya menutup pintu.


"itu benar benar tuan johan, nona" jawab pak Jung untuk memastikan.


" tapi kenapa? hari ini sikapnya aneh"


" itu bukan aneh nona, tapi itulah sikap asli tuan Johan. saat nona berada di rumah sakit, tuan Johan sering melamun dan lebih banyak mengurung diri di dalam kamar"


" apakah aku bisa percaya apa yang barusan pak Jung katakan? bisa saja itu hanyalah karangan semata"


"terserah nona mau percaya atau tidak"


"ini benar benar aneh, kenapa sikap tuan Johan sangat lembut hari ini" monolog Enji


" ia seperti langit susah untuk di tebak, kadang cerah dan kadang juga gelap" Enji menatap lurus foto Johan yang terpajang di dinding kamarnya.


"bisakah pak Jung keluar aku ingin istirahat?" pinta Enji


"baik nona, selamat beristirahat" ucap pak Jung menundukkan kepalanya dan berlalu pergi meninggalkan kamar agar Enji bisa lelusa istirahat.


Bersambung....


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK


LIKE👍


COMENT💬


TIP🌟


VOTE✔


FAVORIT❤


JIKA KALIAN SUKA DENGAN CERITA ATHOR BERI ATHOR DUKUNGAN YA DENGAN CARA DIATAS, BIAR ATHOR TAMBAH SEMANGAT BUAT UP PART SELANJUTNYA

__ADS_1


BYE BYE BYE😘😘😘


__ADS_2