
HAPPY READING
.
.
Tepat jam 4 pagi johan baru pulang dari perusahannya. Ia langsung ke ruang bawah tanah, tempat yang sering ia kunjungi namun setelah ia menikah dengan enji ia sangat jarang mengunjungi tempat itu terakhir ia mengunjungi tempat itu pada saat ia mengurung enji. Tempat yang sangat minim cahaya, berbau anyir. Tempat yang ia gunakan untuk menyiksa musuh bisnisnya atau pengkhianat.
Johan terus melangkahkan kakinya dengan angkuhnya, dengan kedua belah tangan ia sembunyikan di saku celananya.
Cukup lama johan berjalan di tengah kegelapan tanpa ada rasa ketakutan. ia harus menuruni beberapa anak tangga dan sekitar 10 meter baru ia sampai di ruangan di mana ia akan menyiksa orang yang berani mengusik hidupnya.
Sesampainya johan di depan pintu bercat hitam yang terlihat sangat usang, dengan perlahannya johan memutar handle pintu dan mendorong pintu itu sampai terbuka lebar.
Johan melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan yang sangat gelap gulita, tangan kekarnya mulai meraba mencari saklar lampu.
Lampu pun menyala sangat terang benderang sampai ke penjuru ruangan tidak ada kegelapan lagi yang hanya adalah cahaya yang sangat terang.
Johan langsung duduk di kursi yang tak jauh dari ia berdiri, dengan kaki ia silangkan.
"bisa bisanya marmut marmut kecil ini tertidur dengan nyenyak, di saat tinggal beberapa jam lagi mereka akan musnah dari muka bumi ini" kata johan matanya tak pernah berpaling dari 3 orang yang tengah tertidur pulas dengan tangan dan kaki di ikat pakai rantai besi.
Johan terus memperhatikan 3 manusia yang sebentar lagi akan ia musnahkan tanpa ada rasa untuk membangunkannya.
"Nikmati lah detik detik terakhir kalian berada di dunia ini" ucap batin johan sambil tersenyum smirk
Enji mulai terbangun dari tidurnya padahal masih jam 4 pagi. Perlahan enji mulai menggeliatkan tubuhnya dan duduk di lantai keramik yang sangat dingin tempat selama ini ia tidur tanpa alas apapun.
Mata coklatnya menatap ranjang kosong yang menjadi tempat tidur johan seorang diri.
"tuan johan belum pulang ya? Sesibuk itu kah tuan johan di kantornya sampai lupa untuk istirahat. Pantas saja nona ji hwa sangat kesepian jika tuan johan saja tidak memiliki waktu untuk keluarganya" monolog enji.
Enji bangkit dari duduknya dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi, tak lama kemudian enji keluar dari kamar mandi dengan rambut yang basah dan mengenakan kimono. Enji langsung berlalu masuk ke dalam ruang walk in closet untuk mencari pakaian santai untuk ia kenakan.
__ADS_1
Enji keluar dari kamarnya menuju lantai bawah ia ke ruang khusus yang terdapat peralatan bersih bersih seperti sapu, lap lantai, kemoceng dan membawanya kembali ke lantai atas untuk ia bersihkan.
Sekitar jam 6 pagi akhirnya perkerjaan enji telah selesai lebih cepat dari biasanya. Karena ini musim salju jadi enji tidak bisa membersihkan halaman belakang ataupun bersantai di taman belakang.
Tanpa sengaja enji melewati pintu yang sangat tinggi dan lebar. Seketika enji menghentikan langkahnya dan memundurkan langkahnya ke belakang.
"pintu itu kan pintu yang menuju ruangan yang sangat gelap itu, saat tuan johan mengurungku di sana" ucap enji bergidik ngeri mengingat johan menyeretnya secara paksa masuk ke dalam ruangan yang sangat gelap.
secepat mungkin enji menggelengkan kepalanya mengusir ingatannya yang mengingat kejadian itu.
"lebih baik aku pergi dari sini, daripada nanti kena getahnya" pikir enji ia tidak ingin mendapat hukuman lebih mengerikan lagi dari johan.
Saat enji melangkahkan kakinya menjauh dari pintu itu tiba tiba saja telinganya mendengar samar samar teriakan seseorang yang seperti kesakitan ia langsung menghentikan langkahnya dan berbalik menatap pintu bercat hitam itu.
"suara teriakan seseorang yang sedang kesakitan, apa mungkin suara itu berasal dari ruangan itu. Tidak mungkin sepertinya telingaku mulai keliru" ucap enji sambil menggelengkan kepalanya.
Enji kembali melangkahkan kakinya namun seketika enji kembali menghentikan langkahnya dan berbalik menatap pintu itu yang sedikit terbuka.
Tanpa pikir panjang lagi enji langsung mendorong pintu itu dan masuk ke dalamnya, semakin enji berjalan lebih masuk ke dalam ruangan itu suara teriakan itu semakin jelas di dengar oleh telinga enji.
Johan terus menyiksa 2 orang parubaya yang meurutnya bersalah karena anaknya telah mengkhianatinya. Anaknya hanya bisa memohon ampunan pada johan dengan mata menatap ngeri melihat kedua orang tuanya di siksa oleh johan tanpa mendengarkan ampunan dari mereka.
"tuan saya mohon hentikan, kasihan kedua orangtua saya mereka tidak bersalah" mohon pria itu dengan wajah basah karena air mata.
"Aaaaa,,, ampun tuan" teriak parubaya itu sangat kesakitan
Namun johan terus menyiksa kedua orang tuanya tanpa mendengar ampunan dari mantan perkerja di perusahaannya yang telah mengkhianati johan.
Johan terus menyayatkan pisau kesayangannya yang sangat berkarat di tubuh kedua parubaya itu sampai mereka merintih kesakitan.
"bagaimana rasanya?" tanya lirih johan tepat di telinga kedua parubaya itu
"ampun tuan, saya mohon maafkan anak saya tuan" ucap memohon pria parubaya itu dengan bibir bergetar hebat karena ketakutan dan merasakan tubuhnya yang kesakitan luar biasa. tubuhnya sudah di penuhi darah yang keluar dari sayatan yang di torehkan oleh johan sedangakan sang istri sudah tak sadarkan diri sejak mendapat sayatan dari johan.
__ADS_1
Sedangkan enji ia terus mengikuti suara teriakan yang kesakitan, sampai ia mulai menuruni anak tangga satu persatu. Dan melanjutkan langkahnya menuju pintu yang terbuka lebar dengan jarak 10 meter dari dirinya.
Enji hanya bisa membungkam mulutnya dengan kedua belah tangannya, saat matanya menangkap sosok yang selama ini ia kenal dengan kejamnya menyiksa parubaya yang tengah memohon pada johan.
Di balik tembok samping pintu enji menyembunyikan dirinya agar johan tidak mengetahui keberadaannya, enji menatap ngeri melihat parubaya yang sudah tidak bisa mengucapkan ampunan pada johan sedangkan johan ia terus menyayat pisau yang sudah ia ganti dengan pisau yang sangat tajam pada kedua parubaya itu.
Ya bisa dibilang kedua parubaya itu sudah meninggal. "Sangat membosankan, mudah sekali membunuh parubaya ini tanpa mengikuti permainanku lebih dulu, jauh dari ekspektasiku" pikir johan dalam hatinya
"tuan johan sangat kejam, psychopath, iblis, tidak punya perasaan, monster. Bisa bisanya aku menikah dengan seorang psychopath sama saja aku menyerahkan diriku untuk ia bunuh" maki enji dalam hatinya airmatanya sudah luruh melihat kedua parubaya itu tak bergerak lagi tubuh mereka sudah dihiasi oleh sayatan yang sangat banyak sampai tidak bisa di hitung oleh jari.
.
.
.
Bersambung....
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK
LIKE👍
COMENT💬
TIP🌟
VOTE✔
FAVORIT❤
JIKA KALIAN SUKA DENGAN CERITA ATHOR BERI ATHOR DUKUNGAN YA DENGAN CARA DIATAS, BIAR ATHOR TAMBAH SEMANGAT BUAT UP PART SELANJUTNYA
BYE BYE BYE😘😘😘
__ADS_1