
Hening
tidak ada jawaban yang keluar dari bibir asisten jiangwu, membuat Enji kembali bertanya,namun saat Enji kembali bertanya.ada beberapa pelayan masuk ke dalam kamarnya tanpa seijin dirinya membuat Enji mengurungkan niatnya untuk bertanya.
"selamat siang nona"sapa salah satu pelayan sembari menunduk hormat pada Enji.
"siang" balas Enji menatap bingung kepada pelayan itu.
tatapan Enji meneliti semua pelayan tanpa sengaja tatapan itu terhenti pada salah satu pelayan yang membawa beberapa buku yang begitu tebal,Enji yakin itu bukanlah sebuah buku novel atau semacam lainnya melainkan buku khusus belajar.
"buku apa itu?dan untuk apa?" tanya Enji tatapannya masih tertuju pada pelayan wanita itu.bukannya menjawab pertanyaan Enji pelayan wanita itu hanya diam menunduk.
"nona,ijinkan mereka melaksanakan tugas mereka tanpa nona bertanya" sahut asisten jiangwu kini menatap Enji.
"melaksanakan tugas? tapi apa?dan buku itu"
"nona cukup diam,lebih baik nona duduk jangan terlalu lama berdiri tidak baik untuk kesehatan tubuh nona"
Enji semakin heran dengan beberapa pelayan yang membawa alat tulis berserta buku buku.bukan hanya itu saja ada satu pelayan laki laki yang membawa meja plus kursi yang cukup minimalis dan meletakkannya dekat jendela.
" apakah itu meja belajar?"gumam Enji menebak nebak.
hampir 30 menit Enji hanya memperhatikan semua pelayan yang melakukan pekerjaannya ada yang meletakkan meja dan kursi, menaruh buku buka dan alat tulis kemudian di rapikan.terakhir membuat Enji terkejut di atas meja belajar sudah ada komputer berserta laptop termahal.bahkan sejak Enji menjadi mahasiswi ia tidak pernah memiliki laptop yang berlogo apel yang sudah digigit.
"semua tugas kami telah selesai tuan"ucap salah satu pelayan laki laki mewakili semua pelayan yang bertugas sembari menunduk hormat pada asisten jiangwu dan Enji.
"kalau begitu kami permisi tuan dan nona" sambungnya dan berlalu oergi meninggalkan asisten Jiangwu dan Enji di kamar.
Enji masih mematung menatap pangling meja belajar yang sangat indah apalagi menatap alat elektronik yang sangat ia impikan dulu.
"nona pasti binggung bukan? kenapa meja belajar itu berada di dalam kamar?ini semua atas perintah tuan Johan nona" jelas asisten jiangwu
"maksudnya?" kedua belah alisnya menyatu setelah mendengar penuturan asisten jiangwu,buka karena ia terlalu polos atau bodoh hanya saja otaknya masih loading.
" berterima kasihlah pada tuan Park Johan,kerena telah mengijinkan nona untuk melanjutkan pendidikan nona lagi"
"apa? maksudnya?aku masih bingung dengan ucapan asisten jiangwu barusan? " otaknya masih mencerna satu persatu kalimat yang keluar dari mulut asisten jiangwu.
"mulai besok atau seterusnya nona boleh kuliah lagi di universitas nona dulu," ulang asisten jiangwu dengan kalimat yang mudah dipahami oleh Enji.
"apa? ini sungguhan asisten Jiangwu?" tanya Enji tak percaya.langsung di anggukkan kepala oleh asisten jiangwu.
__ADS_1
tanpa pikir panjang Enji langsung loncat kegirangan dan melambungkan kedua belah tangan ke udara.
"Yessss,yessss.akhirnya aku bisa kuliah lagi."ucapnya ke girangan.senyum manisnya begitu merekah siapa pun yang melihat senyum Enji sekarang pasti akan ikut tersenyum seperti asisten jiangwu sekarang.
tanpa sadar Enji berlari mendekati asisten jiangwu dan langsung memeluk erat asisten jiangwu.
"thanks very much asisten jiangwu"ucapnya masih dalam posisi memeluk asisten jiangwu. asisten jiangwu masih terkesima atas pelukkan Enji tersebut hadap dirinya.
perasaannya asisten jiangwu kini bener benar campur aduk,antara senang,deg degan,dan aneh.
seneng karena bisa melihat Enji tersenyum bahagia seperti ini,deg degan ini mungkin pertama kalinya asisten jiangwu di peluk oleh perempuan dan aneh,perasaannya mulai aneh ada rasa nyaman saat di peluk Enji seperti di peluk oleh keluarganya sendiri.
"iya sama sama nona" sahut asisten jiangwu tangannya terulur untuk membalas pelukan Enji dan mengusap lembut punggung Enji.
detik selanjutnya Enji melepaskan pelukannya dan tersenyum manis pada asisten jiangwu.
"dimana tuan Johan?" tanya Enji menanyakan keberadaan Johan.
"aku ingin berterima kasih pada tuan Johan kerena sudah mau mengijinkan aku kuliah lagi" lanjutnya terus tersenyum sangat manis.
"seperti biasa nona, tuan Johan ada di ruang kerjanya"
setelah mendapat jawabannya Enji langsung berlari keluar kamar tanpa mendengar larangan asisten Jiangwu.
"semoga saja tidak akan terjadi apa apa" harapnya.
...----------------...
setibanya Enji di depan pintu ruangan Johan ia langsung mengetuk pintu,
tok tok tok
tidak ada jawaban dari dalam dengan ragunya Enji langsung masuk ke dalam.terlihatlah seorang pria tengah duduk dengan mata terfokus ke layar laptopnya jari jari tangannya tengah asik menari di atas keyboard.
"tu-tuan " panggil Enji gugup.
johan hanya diam padahal dia mengetahui keberadaan Enji di depannya,berpura pura apa yang akan di lakukan enji.
"tuan Johan" panggilnya lagi.
"apa?" sahut Johan matanya masih terfokus dilayar laptop.
__ADS_1
"eh,,,,,itu sa-saya te-terimakasih" kata Enji terbelit Belit.
"kalo bicara itu yang bener!" teriak Johan membuat Enji terkejut.
"anu,,, tuan itu,,, saya terimakasih" ucap Enji sangat gugup.
"apa sejak kecil kau belum pernah di ajari berbicara yang benar ?!berbicara seperti itu terberbelit Belit ,kau bisu?" bentak Johan ia berhenti melakukan pekerjaannya mata tajamnya menghunus Enji yang tengah tertunduk.
"saya datang ke sini hanya ingin mengucapkan terimakasih banyak karena telah mengijinkan saya melanjutkan pendidikan saya di universitas" ucap Enji to the points.
"ckk,mulai besar kepala ya kamu.jangan geer saya mengijinkan kamu bukan ingin mengabulkan permintaan kamu karena saya masih memiliki hati nurani and seperti itu kah caramu berterimakasih pada tuanmu ini tanpa imbalan apapun"
"tuan ingin uang,saya akan berkerja nanti sepulang kuliah dan membayarnya pada tuan"
"bodoh!kamu pikir saya kekurangan uang?bahkan uang saya lebih dari apapun dari harga dirimu itu tidak seberapa dengan selembar uang saya."ucap Johan begitu angkuh sembari melangkah mengikis jarak antara dirinya dan enji.sedangkan Enji refleks memundurkan langkahnya sampai ia terpentok di dinding.
hanya berkisar 10 cm antara Enji dan Johan,tangan kekar itu terulur menyentuh lembut rahang Enji kemudian mulai turun dan tiba tiba tanpa aba aba Johan langsung mencekik leher Enji tanpa mengijinkan Enji menghirup oksigen.
Enji mencoba melepaskan cekikan itu namun tenaganya tidak sebanding dengan Johan.
"le-lep-sin tu-an sa-ya kes-ulitan ber-na-fas" pinta Enji wajahnya sudah memerah karena tidak ada pemasokan oksigen.
BONUS VISUAL JOHAN AND ENJI
Bersambung....
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK
LIKE👍
COMENT💬
TIP🌟
VOTE✔
FAVORIT❤
__ADS_1
JIKA KALIAN SUKA DENGAN CERITA ATHOR BERI ATHOR DUKUNGAN YA DENGAN CARA DIATAS, BIAR ATHOR TAMBAH SEMANGAT BUAT UP PART SELANJUTNYA
BYE BYE BYE😘😘😘