
Revan tersadar saat hari menjelang siang, dilihatnya Dira yang sedang meletakkan bubur diatas nakas disamping ranjang
"Dimana aku?" tanyanya sembari duduk, dia merasakan tubuhnya remuk dan wajahnya perih
"Oh kamu sudah sadar..kamu dirumahku, sudah semalaman kamu tidak sadarkan diri. Sekarang bagaimana tubuhmu, lebih baikan tidak?" tanya Dira lembut pada pria yang sudah dianggapnya adik.Revan mengangguk pelan
"Dimana Elina?" tanyanya langsung saat tidak melihat kekasihnya disana
"Dia ada keperluan diluar sebentar, sebaiknya kamu makan dulu supaya nanti saat Elina kembali dia bisa melihatmu dengan tenang karena sudah menghabiskan makananmu" tutur Dira dengan lembut, dia perlu sedikit kebohongan agar tidak terlalu menyakitkan bagi Revan saat mengetahui Elina pergi meninggalkannya
Revan dengan segera menggapai mangkok bubur yang sudah disediakan oleh Dira dan mulai menyantapnya dengan antusias..setidaknya dia harus terlihat sehat didepan Elina, pikirnya
"Lalu dimana pria brengsek itu?" tanyanya lagi baru teringat pada Mike yang kemarin datang kesana sebelum dia pingsan karena pukulan Mike
"Dia pergi setelahnya"
"Dia tidak bertemu Elina?"
"Mereka bertemu tapi Elina langsung mengusirnya untuk pergi.Elina sepertinya sangat membenci pria itu" jelas Dira pada Revan
"Dia memang pantas untuk dibenci, pembunuh" desis Revan dengan marah saat membayangkan wajah Mike
"Pembunuh..maksudnya?" Dira bertanya bingung
"Ah tidak..aku hanya kepikiran saja" ujar Revan mencoba kembali fokus pada buburnya
πππ
Mike memandang pantulan dirinya di cermin, dia sudah terlihat gagah dengan setelan jasnya.Dia sudah membayangkan hal-hal indah sebentar lagi saat dia akan mempersunting wanita mungil pemilik mata polos, Mike tidak akan peduli walau nanti Elina akan menolak dirinya karena dia akan langsung menyeret wanita itu untuk mengucapkan janji suci mereka
Terdengar kejam memang, tapi Mike tidak akan membiarkan siapapun menggagalkan pernikahannya kali ini. Tidak para sahabatnya, tidak pula Revan dan tidak juga gubernur Erwin.Dia sudah bertekad akan menikahi gadis mungil itu
"Tunggu saja" gumamnya memandang sekali lagi penampilannya serta wajahnya yang masih terlihat jelas luka lebamnya.Dia segera keluar dengan senyum lebar, apalagi saat melihat Billy yang tampak sedang menunggunya di mobil
"Selamat tuanku, mari kubukakan pintunya untukmu" ujar Billy bersikap layaknya asisten seorang raja dengan membukakan pintu mobil untuk Mike sambil membungkuk.Mike tersenyum lucu dengan tingkah sahabatnya itu dan mulai memasuki mobilnya.Billy buru-buru berlari kekursi kemudi untuk menyetir mobilnya
"Kenapa kamu yang kemudi, kemana supirnya?" tanya Mike
__ADS_1
"Hari ini aku yang jadi supirmu" jawab Billy dengan cerah tidak lagi menampakkan kesalnya pada Mike
"Terserah kamu lah Bil.." ujar Mike menyandarkan punggungnya ke kursi penumpang sembari membayangkan bagaimana ekspresi Elina nanti saat melihatnya.Diam-diam dia tersenyum membuat Billy mengerutkan keningnya melihat tingkah sahabatnya yang tidak biasanya tersenyum sendiri itu
"Sepertinya Marcel benar, kamu kesurupan Mike" ujar Billy yang memandang Mike dibalik spionnya
"Apaan sih kamu..merusak mood saja" Mike langsung mengubah mimik wajahnya menjadi dingin kembali, Billy terkekeh menggoda temannya itu
"Kamu terlihat sangat tampan Mike, lebih tampan dari saat kamu sama Imelda"
"Diamlah, aku malas mendengar apapun sekarang" Billy hanya tersenyum melirik sahabatnya dibelakang dan kembali fokus menyetir
πππ
Setelah Revan berhasil menghabiskan semangkuk penuh bubur yang dibuatnya.Dira memandang dengan serius pada Revan
"Ada apa?" tanya Revan heran saat melihat Dira memandangnya dengan pandangan yang serius
"Aku ingin menyampaikan sesuatu tapi sebelum itu aku minta kamu untuk tetap tenang saat mendengarnya ya?" Kening Revan berkerut bingung, sebenarnya apa yang ingin dibicaran suster didepannya dan Revan hanya mrngangguk pelan
"Iya, katakan saja apa yang ingin kamu sampaikan" kata Revan tidak sabaran, perasaannya tidak enak sejak dia bangun tadi apalagi kini dia kepikiran sama Elina yang pergi keluar sendiri tidak seperti biasanya
"Sebenarnya..Elin..dia sudah pergi sejak pagi tadi, dia pergi membawa semua pakaiannya" akhirnya Dira bisa mengatakan hal itu
"Apa! hah! Itu tidak mungkin, pasti kalian sedang mengerjaiku kan?" Revan membantah dengan tawa tidak percayanya
"Aku sedang tidak bercanda Revan..Elin benar benar pergi"
"Tidak..aku tidak percaya.Dia cuma keluar sebentar seperti katamu tadi" kata Revan tidak percaya dan langsung bangkit memeriksa lemari Elina namun yang didapatnya lemari itu telah kosong.Revan langsung terdiam dan terduduk diatas lantai, mata pria itu memerah hendak mengeluarkan air mata
"Tidak..tidak mungkin Elina tega meninggalkanku" teriaknya dengan pilu, dia tidak dapat percaya gadis yang dicintainya dan sudah dijaganya dengan tulus pergi meninggalkannya
"Kamu pasti tahu kemqna Elina pergi?" tudingnya pada Dira yang langsung menggeleng
"Aku tidak tahu, Elina juga tidak memberitahukan padaku" kata Dira menjelaskan namun dengan kebohongan, dia sudah berjanji pada Elina untuk tidak bicara apa-apa pada Revan soal kemana dia pergi
"Aku tidak percaya ini semua..Aakkh" Revan berteriak marah dengan semua keadaan yang sedang dihadapinya hingga suara ketukan dipintu membuat dua orang itu segera menoleh.Revan langsung tersenyum cerah membayangkan Elina yang kembali karena tidak sanggup berpisah darinya.Dia dengan cepat bangkit dan berlari kearah pintu meninggalkan Dira yang tampak bingung melihatnya
__ADS_1
"Elin..aku.." kata Revan terhenti begitu dia membuka pintu dan senyumnya juga terganti dengan ekspresi marah melihat siapa yang berada dibalik pintu
"Bajingan..buat apa kamu kemari lagi" ujar Revan dengan mata yang berapi-api memandang pria yang menjadi dasar semua masalah yang dirasanya
"Wow, ternyata kamu masih disini.Menakjubkan, aku kesini mau bertemu dengan calon istriku.Dimana dia?" Mike bertanya santai
"Siapa calon istrimu?"
"Elina juliana" ucap Mike dengan pelan sengaja memancing emosi Revan
"Kurang Ajaarr" teriak Revan hendak melayangkan bogemannya kembali namun langsung dihentikan oleh Billy yang berada disamping Mike
"Bagus, sekarang kau membawa bodyguard? Dasar pecundang cih" Revan meludah kedepan Mike yang hanya tersenyum remeh pada Revan yang masih belum sepenuhnya pulih
"Aku kemari bukan untuk cari ribut denganmu kawan lamaku tapi aku kemari ingin membawa ibu dari calon anakku agar kami bisa mengucapkan janji suci pernikahan kami"
"Jangan mimpi kamu, Elina tidak akan pernah sudi menikah dengan pria minim akhlak sepertimu" timpal Revan masih berusaha lepas dari Billy yang memegangnya
"Minim akhlak? Lalu bagaimana denganmu sendiri?" balas Mike memandang tajam Revan,sungguh dia tidak percaya kalau dulu dia pernah berteman akrab dengan pria didepannya
"Lepaskan Revan,Billy" seru Dira lantang dari balik tubuh Revan.Billy terdiam dan melepas pelan Revan saat pandangan menusuk Dira tertuju padanya, tampak sekali kalau Dira marah besar padanya.Mike melirik sahabatnya, dia akhirnya sadar masalah apa yang membuat Billy memiliki mood yang jelek beberapa hari ini.Ternyata sahabatnya punya masalah dengan suster didepannya yang kini tampak memeriksa Revan dengan penuh perhatian
"Kamu tidak apa-apa Revan?" tanyanya khawatir,Billy hanya mampu menahan kekesalannya Dira bertanya begitu lembut pada pria didepannya yang bahkan tidak dikenalnya
"Buat apa kalian kemari?" tanya Dira kemudian pada dua pria tampan didepannya
"Aku ingin bertemu Elina" jawab Mike
"Elina tidak ada disini, dia telah pergi.."
.
.
.
Kritik dan saran diharapkanπ
__ADS_1