
Meringis pelan saat rasa perih begitu terasa di wajahnya akibat pukulan dari mitra kerjanya sekaligus temannya, Mike menatap pada Christ yang menyeruput tehnya dengan santai, tanpa rasa bersalah sedikitpun telah memberikan hadiah bogeman mentah pada wajah tampannya
Disamping pria bule itu duduk seorang Claudia yang tertunduk sambil memainkan kukunya, gadis itu takut pada kemarahan kakaknya
" Aku sudah menyuruhmu menjaga adikku dengan baik kan?" ujar Christ membuka suara
"Maaf, akhir-akhir ini banyak masalah yang harus ku selesaikan" jawab Mike memberanikan diri menatap pria eropa itu
"Masalah yang harus kau selesaikan! hmm..boleh aku tahu masalah apa itu hingga adikku harus kelelahan menghandel semua tugasmu?"
"Kakak, aku.."
"Diam Claudia! Kamu juga berutang penjelasan pada kakak" tampak sekali Christ sedang marah terlihat dari urat wajahnya yang timbul
"Maaf Christ, saat ini aku sedang punya masalah dengan istriku hingga aku tidak fokus pada kerjaan kantor dan akhirnya malah membuat Claudia yang terpaksa menghandel semua pekerjaanku" jelas Mike
"Istri?" kening Christ berkerut
"Kau sudah menikah?" Mike mengangguk. Christ menjatuhkan pandangannya pada sang adik
"Wah adikku, kau ternyata gagal dan malah mengandung anak pria bajingan itu" ujar Christ membuat dua pasang mata lain disana membulat
"Kamu tahu?" " kakak tahu?" tanya Mike dan Claudia bersamaan, merasa sangat terkejut Christ mengetahui kehamilan Claudia
"Kalian pikir aku sebodoh itu hingga hal ini tidak ku ketahui" Christ menatap kearah Mike lalu beralih pada Claudia
"Aku bahkan sudah memberi hadiah pengenalan pada pria brengsek itu" Claudia membulatkan matanya menatap sang kakak
"Apa yang kakak lakukan pada Revan? Kakak tidak melukainya kan?" rasa khawatir menjalar dihati Claudia pada ayah dari janinnya itu, kakaknya bukanlah orang yang mentolerir sifat pengecut. Claudia takut kakaknya itu melukai Revan dengan berat
"Tenang adikku, dia belum mati kok" jawab Christ santai kembali memfokuskan diri pada Mike yang juga terkejut dengan pernyataan Christ tentang pria itu yang sudah menghajar Revan
"Aku akan menarik Claudia dari perusahaanmu, aku tidak bisa mentolerir adikku kelelahan sampai jatuh pingsan karena perbuatanmu. Aku akan membawanya kembali ke Inggris" jelas Christ membuat Mike meremas kuat telapak tangannya. Kalau Claudia pergi dia akan kehilangan pegawainya yang paling kompeten
"Tapi kak.." Claudia mencoba bersuara
"Tidak ada tapi-tapian. Kau harus ikut kakak kembali"
__ADS_1
"Baiklah, aku juga tidak bisa memfokuskan diri untuk terus menjaga Claudia disini karena istriku juga sedang mengandung" kata Mike membuat Christ tersenyum. Pria bule itu pernah berharap Mike jadi saudara iparnya tapi takdir tidak mengijinkan itu. Dia menepuk pelan bahu Mike
"Semoga kau berhasil dengan istrimu" ujarnya lalu menarik Claudia untuk ikut dengannya keluar dari perusahaan Mike walau Claudia masih tidak rela meninggalkan tempatnya bekerja selama lebih tiga tahun tersebut
" Pesan dua tiket menuju london untuk besok" perintah Christ pada asistennya
πππ
"Kau serius akan menyelesaikannya semua malam ini" tanya Billy via video call pada sahabatnya Mike
"Iya. Aku harus pergi menemui Elina besok" jawab Mike sembari menghelakan nafas lesu melihat banyaknya laporan yang bertumpuk di mejanya. Mungkin akan sedikit terbantu jika Claudia masih bekerja bersamanya tapi kini dia sedikit kesulitan dan asistennya Niko tidaklah se kompoten Claudia dalam bekerja
"Sebaiknya kau istirahat Mike, besok masih bisa kau selesaikan. Malam sudah sangat larut" ujar Billy yang sudah menjatuhkan diri diatas kasur ranjangnya sembari memandang wajah kusut sahabatnya dari balik ponsel
"Tidak bisa. Aku sangat merindukan istriku dan akan menemuinya besok"
"Kau yakin Elina akan mau bertemu denganmu?"
"Mau tidak mau, aku akan tetap menemuinya. Walau mungkin dia akan marah, aku tidak akan peduli, aku harus menjelaskan kebenarannya pada Elina"
"Tidak masalah, aku akan menerima apapun yang akan dilakukannya pada diriku selama aku masih bisa memeluk dirinya dan calon anak kami"
"Bagaimana jika dia meminta nyawamu sebagai tebusan nyawa ayahnya?"
"Aku bisa memberikannya" ujar Mike dengan yakin
"Kau gila!" timpal Billy sedikit kesal dengan apa yang baru saja diucapkan sahabatnya. Apakah nyawa semurah itu di mata pria jantan itu
"Iya, kau benar Bil! Aku memang sudah gila. Sudah ya, aku harus kembali bekerja, bye" kata Mike mematikan sambungan teleponnya lalu kembali fokus pada berkas didepannya walau gelapnya malam tampak membungkus alam di luaran sana
Mike akan berusaha lagi dalam menggapai wanita yang sudah sangat di sakitinya sekaligus yang sudah sangat dalam dicintainya
Elina Juliana
πππ
Besoknya, pagi-pagi sekali Revan buru-buru keluar dari penginapannya dengan sedikit berlari menuju sebuah perusahaan, dimana dia akan bertemu dengan wanita yang sudah disakitinya. Dengan wajah yang masih terdapat lebam bekas pukulan Christ kemarin, Revan berjalan cepat memasuki kantor Mike dengan satu tujuan ingin menemui Claudia. Walau terjadi banyak pencegahan dirinya untuk masuk ke dalam ruang kantor Mike, Revan tetap berusaha menerobos hingga akhirnya dirinya lolos dan berhasil membuka pintu kantor Mike
__ADS_1
Tampak disana Mike yang menatap heran dirinya diambang pintu dalam keadaan yang sama dengannya, sama-sama terlihat kusut dan menyedihkan apalagi wajah keduanya yang terdapat banyak lebam walau Mike tidaklah separah pukulan yang dirasa Revan
Mike berisyarat pada tim pengamanan yang tampak menyeret Revan agar berhenti dan membiarkan dirinya bersama dengan pria itu
"Ada apa kau kemari? Belum puas menghancurkanku?" tanya Mike menahan rasa marah dihati
"Dimana Claudia?" tanpa peduli dengan pertanyaan mengejek yang dilontarkan Mike, Revan langsung bertanya pada tujuan pertamanya dia kemari
"Hah! Hahahahaha" tawa Mike pecah, dia tertawa terpingkal-pingkal yang tampak seperti tawa yang sengaja di buat-buat sebagai ejekan buat Revan
"Kau bertanya tentang Claudia padaku? Hah! Tak dapat dipercaya. Kau pikir hidup ini lelucon apa?" ujar Mike dengan suara menggeram, tawa yang tadi terlihat mendadak hilang seketika berganti dengan wajah penuh amarahnya
"Kau memanipulasi cerita dengan sangat baik, mengumbar suatu kebohongan beradu dalam kebenaran, menuduhku sebagai pembunuh padahal jelas-jelas kau tahu kebenarannya. Aku tidak pernah sengaja melakukan itu semua" kata Mike mulai mengeluarkan semua emosi yang dirasanya
"Lalu, bagaimana dengan tuduhanmu pada Elina dulu?" tanya Revan menjawab Mike. Dia juga tidak ingin menyalahkan Mike tapi saat mengingat bagaimana pria itu menuduh Elina dulunya pada suatu hal yang tidak berdasar membuat darahnya mendidih
"Kau tidak berbeda dariku Mike. Jangan sok suci" kembali Revan berteriak pada Mike yang tampak tertawa tapi terlihat begitu menyedihkan
"Iya, kau benar Rev, tapi apakah pantas jika dirimu menyalahkan semuanya padaku? Aku mengakui kalau aku salah, aku yang telah menabrak ayah Elina, aku yang telah menuduh Elina, aku yang merenggut kehormatannya Elina dan aku yang telah menghancurkan hidup wanita yang ku cintai itu" tutur Mike memukul dadanya keras setiap kata-kata itu terucap. Lupakan tentang penampilannya yang jauh dari kata baik-baik saja, Mike bahkan belum beristirahat sedikitpun ataupun membersihkan diri. Dia benar-benar terlihat kacau
"Tapi aku tidak pernah ingin meninggalkan semuanya. Aku tidak pernah ingin pergi dari tanggung jawab apapun. Kau! Kau yang menyuruhku saat itu" tuding Mike pada Revan
Revan yang mendengar setiap kata-kata itu terlontar hanya mampu berdiri dengan tangan terkepal erat. Pada dasarnya keduanya bersalah dan keduanya juga tidak bersalah, tergantung bagaimana orang memandang sudut pandangnya
"Bisakah untuk tidak membahas hal itu sekarang. Aku cuma ingin tahu dimana Claudia?"
"Kakaknya membawa Claudia kembali ke inggris saat ini. Mungkin mereka sedang menuju bandara saat ini" Mike yang juga lelah akhirnya menjawab apa yang ditanyakan diawal oleh Revan
"Apa!!" Revan membulatkan matanya terkejut dan langsung berlari keluar dari kantor Mike mencari taksi untuk mengantarnya ke bandara
.
.
.
Kritik dan saran diharapkanππ
__ADS_1