The Grudge Love

The Grudge Love
BAB 28


__ADS_3

Kicauan burung menggema menciptakan alunan musik alami yang khas, pelan-pelan daun kering rontok dari ranting saat sang bayu menghembusnya dalam sekejap, langit baru saja berhenti menurunkan airmatanya,bau tanah basah menyeruak kedalam hidung. Suasana tenang merasuk dalam diri seorang wanita yang kini berbadan dua, dia memandang pemandangan pagi yang begitu damainya dibalik jendela kamar panti yang ditempatinya.


Suasana khas desa terpampang dengan jelas didepannya, pagi-pagi sekali sudah terlihat orang-orang memakul pacul, karung, dan alat-alat lainnya menuju ladang,sawah dan perkebunan yang menjadi tempat para orang desa mencari nafkah.


Terlihat begitu damai saat orang-orang itu saling menyapa dengan candaan ringan di pagi buta.Tidak ada benci dan dendam,tidak ada rasa rakus akan kekayaan dan kekuasaan, tidak ada yang saling membedakan si kaya yang terhormat dengan si miskin yang melarat.Semua saling melengkapi dalam suka maupun duka.Sungguh begitu indah pemandangan orang-orang desa sebelum kerakusan dan tuntutan kehidupan merasuki mereka dan terpaksa mengubah segala kedamaian itu dalam bentuk kejahatan yang berujung penyesalan


Elina tersenyum penuh rasa syukur sembari mengusap perutnya yang mulai sedikit menonjol.Kandungannya baru memasuki minggu keempat, dimana belum terlihat jelas kalau dia sedang mengandung


"Alangkah damainya kehidupan orang-orang itu" gumamnya masih dengan senyum lembutnya saat netranya menangkap sepasang anak kecil yang saling berebut buah diujung jalan dengan tawa yang nyaring, dia membayangkan akankah anaknya kelak dapat tertawa lepas seperti itu? Bagaimana dia akan menjawab saat anaknya bertanya tentang ayahnya? benarkah pilihannya ini untuk bebas dari pria iblis itu?


Tok..tok..tok..


Ketukan dipintu kamar membuyarkan lamunan Elina, dia dengan segera mempersilahkan orang dibalik pintu untuk masuk dan kemudian seorang wanita paruh baya mulai masuk dengan nampan berisi makanan untuk Elina


"Elin..ayo kamu sarapan dulu nak" ujar si ibu paruh baya.Airmata Elina berlinang memandang wanita yang sudah dianggapnya ibu sejak 10 tahun yang lalu.


"Iya bu" jawabnya mendekat kearah ibu rahma selaku pengurus panti asuhan tersebut.Elina sudah menceritakan semua yang menimpanya pada ibu panti hingga dia kembali dengan berbadan dua.Pemberitahuannya itu tentu saja sangat mengejutkan bagi ibu panti, anak yang sudah dirawatnya itu hamil tanpa seorang suami yang mendampingi, tentu saja itu menjadi berita yang sangat mengejutkannya.


Seperti kata pepatah untung tak dapat diraih, malak tak dapat ditolak, bu Rahma menerima dengan baik semua yang menimpa Elina dan juga akan merawat gadis itu bagaimanapun keadaannya


"Bagaimana keadaanmu Elin..apa masih mual-mual?" tanya bu Rahma mengusap pelan punggung Elina penuh kasih sayang


"Tidak bu..aku merasa lebih baik sekarang setelah minum obat herbal yang ibu kasih" jawab gadis itu tersenyum mencoba menyamarkan rasa khawatirnya akan keadaan yang tengah dihadapi

__ADS_1


"Syukurlah kalau begitu..sekarang kamu makan dulu, jangan sampai nanti terjadi apa-apa pada kandunganmu karena kurang gizi.Ayo, mari makan dulu" kata ibu panti mengambil makanannya dan meletakkannya didepan Elina yang sudah berkaca-kaca memandang wanita paruh baya itu


Elina tidak tahu harus pergi kemana selain panti ini satu-satunya tempat yang dirinya merasa aman dan nyaman.Dirinya sangat minim pengetahuan akan dunia luar,bahkan disaat dirinya seperti ini hanya panti ini yang terpikir olehnya sebagai tempat kembali.


Elina mulai memakan makanannya dibawah tatapan penuh kasih ibu panti yang menatapnya lembut sambil tersenyum


"Padahal kamu terlihat sangat cantik dengan rambut panjangmu nak, kenapa kamu memotongnya?" ujar Ibu panti, Elina terdiam.Dia tidak pernah ingin memotong rambut panjangnya,namun saat matanya melihat rambutnya otomatis ingatan saat dirinya dilecehkan oleh pria iblis itu seakan berputar dalam kepalanya.Elina ingat dengan jelas bagaimana Mike menghirup wangi rambutnya sesaat setelah pria itu melepaskan titik kenikmatannya dan Elina membenci itu


"Rasanya terlalu pengap bu dengan rambut panjangku makanya aku memotongnya biar lebih nyaman" jawab Elina tersenyum dan kembali memakan makanannya


"Boleh ibu tanya sesuatu?" Elina mengangguk


"Apa yang akan kamu lakukan jika ayah dari janinmu sampai kesini?" Elina kembali terhenti dan memandang ibu panti


"Tidak ada yang tidak mungkin nak.Jika takdirmu memang tercipta untuk pria itu maka apapun yang coba kamu lakukan untuk menjauh darinya, dia tetap akan datang mendekat padamu.Begitupun sebaliknya, kalau kamu tidak tercipta untuknya tetap kamu akan lepas seberapa eratpun dirinya mengikatmu" setelah mengucapkan petuahnya itu, ibu panti pamit keluar meninggalkan Elina yang larut dalam pikirannya


๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€


Hari selalu tampak cerah membawa keceriaan bagi setiap insan yang sedang larut dalam kegiatan-kegiatan yang tidak ada habisnya namun keceriaan itu tidaklah hadir pada seorang pria tampan yang sudah beberapa kali memarahi karyawannya hanya karena kesalahan sepele


"Singkirkan itu semua dari depanku sekalian juga dengan diri kalian yang bahkan tidak becus dalam bekerja" ujar pria itu penuh penekanan dengan suara dalam, sedangkan tiga orang didepannya saling menyikut untuk menjawab perkataan bos mereka yang menatap tajam


"I..itu sudah kami klarifikasi dan hasilnya memang begitu tu..tuan" jawab salah satunya dengan gemetar.Sudah beberapa hari ini bosnya berada dalam mode badmood hingga apapun yang mereka kerjakan akan selalu salah dimatanya walaupun sudah dibuat sebaik mungkin

__ADS_1


"Aku tidak mau mendengar alasan apapun.Singkirkan sampah ini dari hadapanku dan angkat kaki kalian dari sini" kata si pria menunjuk map diatas mejanya dan berucap dengan kejam


Suasana hatinya sangat berbanding terbalik dengan suasana cuaca diluar, Mike bahkan menyuruh Claudia meninjau proyek yang sudah sangat jelas kembali hanya sebagai alasan agar gadis itu pergi dari hadapannya.Tapi tetap saja ada masalah saat para karyawan datang dengan menjilat padanya dengan membawa sebuah laporan yang sangat tidak memuaskannya dan akhirnya inilah yang terjadi, para karyawan itu jadi sasaran kekesalannya yang tidak jelas


Semua orang tampak sangat menjauh darinya beberapa hari ini karena moodnya yang sedang mode iblis sedang on.Para karyawan dikantor banyak yang memilih tidak berhadapan langsung dengan bos mereka itu hingga banyak yang mencoba cara agar tidak perlu bertemu dengan Mike.Di rumah para pelayan banyak yang mencoba menyelesaikan pekerjaan mereka dengan cepat lalu pergi menjauh dari hadapan tuan mereka walau itu tidak banyak membantu karena ada saja tiap harinya pelayan yang kena marah dari tuannya hanya karena masalah kecil


Para sahabatnya bahkan tidak ada yang muncul setelah hari dia gagal menikah untuk kedua kalinya, karena para sahabatnya juva tidak mau berurusan dengan Mike saat pria ifu tidak dalam kondisi hati yang baik


Para karyawan didepannya buru- buru pergi setelah mengambil map yang berisi kerja keras mereka namun sama sekali tidak ada harga dari bos mereka.Setelah semuanya keluar dan suasana ruangan itu menjadi sepi, Mike memejamkan matanya, mencoba melepas emosi yang bergejolak dalam dirinya


Pikirannya dipenuhi dengan Elina yang tidak dia ketahui keberadaannya dan dia juga sadar Revan juga tidak mengetahui kemana kekasih pria itu pergi, terlihat dari pembawaan pria itu yang begitu menyedihkan selama dalam pemantauannya


"Aaarrgg..."teriaknya dengan kesal ketika tidak menemukan petunjuk sedikitpun dimana keberadaan Elina hingga tatapannya jatuh pada gambar pegunungan di sebuah kalander yang begitu asri dan indah


"Apa jangan-jangan gadis itu kembali ke desanya?" gumamnya dengan kening berkerut, karena Mike sedikit tahu dengan kehidupan Elina yang hanya seorang gadis yang besar di panti asuhan yang berada di sebuah desa


"Sepertinya pemikiranku benar.Gadis itu kembali ke desanya karena hanya itu tempatnya" lanjutnya tersenyum penuh maksud dan dia akan mulai bergerak mencari dimana desa gadis itu


.


.


.

__ADS_1


Kritik dan saran diharapkan๐Ÿ™


__ADS_2