The Grudge Love

The Grudge Love
BAB 62


__ADS_3

Mike mulai kembali menceritakan kisah masa lalunya walau Billy pernah mendengarnya tapi tidak pernah disangkanya kalau korban itu adalah ayahnya Elina


"Aku mengerti bagaimana perasaanmu saat ini tapi, ini bukanlah saatnya kamu berputus asa, Mike" Billy menepuk bahu Mike memberi semangat pada sahabat baiknya itu


"Elina membenciku dan sekarang mungkin dia takkan pernah memaafkanku" lirih Mike sendu


"Apa hanya karena masalah ini kamu menjadi seperti ini, mengabaikan perusahaanmu, mengabaikan kami dan bahkan mengabaikan dirimu sendiri"


"Aku tidak peduli" jawab Mike


"Kamu boleh tidak peduli tapi coba lihat kami Mike, kami bertiga tidak pernah meninggalkanmu, kami selalu ada dibelakangmu untuk mendukungmu dan sekarang kau akan menyia-nyiakan apa yang pernah begitu kau perjuangkan. Kau akan meruntuhkan kepercayaan Marcel padamu, kau bahkan akan mengecewakanku dengan semua ini dan satu lagi, gara-gara dirimu yang tidak datang ke kantor, sekretarismu, Claudia jatuh pingsan pagi tadi karena kelelahan menghandel tugasmu" pemberitahuan Billy menghentakkan Mike dari kelesuannya


"Claudia" gumamnya, dia melupakan satu fakta kalau gadis blonde itu sedang hamil dan dirinya meninggalkan semua pekerjaannya pada gadis itu


"Masih banyak cara kamu menggapai cinta istrimu Mike dan untuk sekarang aku harap kamu mau bangkit untuk menggapainya" kata Billy memberi semangat


Mike bangkit dari duduknya, dia tidak mau melakukan kesalahan lagi yang akan membawanya pada penyesalan kembali.


"Baiklah, aku akan ke kantor sekarang. Apa kau tahu bagaimana keadaan Claudia sekarang?" tanya Mike berubah dalam sekejap. Walau Elina membencinya tapi faktanya dirinya tetaplah masih suami dari gadis itu dan ayah dari janin yang dikandungnya


Mike akan memulainya dari mengurus kantornya, Cladia jatuh pingsan karena kelelahan dan Mike yakin paling lambat besok kakak dari Claudia akan mendarat di indonesia hanya untuk memberi hadiah berupa bogem mentah untuknya


"Aku kurang tahu. Berita yang ku dengar dia jatuh pingsan tadi pagi dan hanya itu saja" jelas Billy merasa heran dengan perubahan sekejap Mike


"Kau baik-baik saja Mike?" tanyanya pelan khawatir sahabatnya itu kesurupan. Namun, tanpa menjawab Mike melangkah menuju kamarnya tanpa peduli dengan Billy yang melongo lebar


"Sepertinya aku tidak lagi berharga untuk kalian bertiga" gumam Billy merasa kecewa dengan tingkah tiga sahabatnya yang mengabaikannya akhir-akhir ini. Dia bahkan tidak sempat menceritakan masalah besar yang diperbuatnya pada ketiga sahabat super sibuknya. Satu sibuk ngebucinin istri, satu sibuk mengurusi istri dan satu sibuk mengejar istri, menghembuskan nafas kecewanya Billy mulai melangkah untuk meninggalkan kediaman Mike


"Terima kasih Bil atas semangatnya, kau memang saudara terbaikku" ujar Mike dibalik pintu melihat kearah Billy dengan senyumnya

__ADS_1


"Mike, kupikir kamu sudah tidak peduli denganku. Ah! Aku terharu, bolehkah aku memelukmu?" kata Billy mendekat kearah Mike namun Mike dengan cepat menutup pintunya


"Jangan coba-coba, itu menjijikan. Sebaiknya kamu pergi sana cari istri biar tidak bersikap bodoh terus menerus" ujar Mike yang membuat Billy memanyunkan bibirnya lalu melangkah pergi


"Aku akan berjuang untuk meyakinkanmu, Elina" Mike membatin sembari memandang pantulan dirinya di cermin. Dia harus segera ke kantor untuk melihat keadaan sekretarisnya yang jatuh pingsan


πŸ€πŸ€πŸ€


Revan memutuskan kembali ke penginapannya di Jakarta, dirinya merasa begitu tidak berguna walau tetap berada di panti, Elina bahkan tidak ingin memandangnya. Terlebih Revan tidak dapat memberi alasan yang tepat untuk penjelasan kenapa dia bisa mengetahui tentang kecelakaan ayahnya Elina dengan jelas


Revan bersyukur, setidaknya Elina sudah mau keluar dan kembali bermain dengan anak-anak panti, pukulan yang diterima gadis itu pastilah sangat berat. Mungkin jika bukan karena janinnya, Elina sudah kembali memutuskan untuk bunuh diri


Revan melangkah lesu menuju penginapannya, dia berencana besok akan menemui Claudia dan akan memperjelas semuanya. Panggilan teleponnya tidak diangkat sama sekali oleh Claudia, Revan mencoba mengerti. Wanita mana yang tidak kecewa diabaikan setelah dipergunakan, mungkin Claudia masih marah padanya makanya gadis itu sama sekali tidak mengangkat telponnya


"Jadi disini kau tinggal pengecut" ujar sebuah suara dalam penuh penekanan. Revan mendongakkan wajahnya dan dilihatnya seorang pria berkebangsaan luar tampak berdiri didepannya, Revan yakin pria itu bukanlah warga negara Indonesia


"Siapa Anda?" tanya Revan dengan wajah berkerut bingung, dia sama sekali tidak mengenal pria berambut sedikit pirang didepannya. Si pria tertawa mencemooh dengan pertanyaan Revan, dia melangkah perlahan mendekat pada sosok Revan dan langsung melayangkan satu tonjokan pada wajah tampan Revan


"Berani berbuat tapi tidak berani bertanggung jawab, dasar brengsekk" pukulan terus diberikan pada Revan tanpa ada celah untuk Revan membalasnya. Revan terbatuk-batuk dan darah mengalir keluar dari hidung dan mulutnya


"Beruntung kamu tidak langsung kubunuh disini bajingan! Entah apa yang dilihat adikku dari seorang keparat sepertimu. Cih! Memuakkan" si pria meludah dengan jijik disamping Revan lalu bangkit berdiri dari tubuh Revan yang terkapar


"Si-si-a-pa ka-mu?" Revan masih bertanya tentang siapa pria bule yang datang datang langsung memukulnya tanpa Revan ketahui apa alasannya


"Aku? Hah!" si pria tersenyum mengejek lalu berujar


" I Am Christ Laurent" ujarnya dengan penuh kuasa menatap rendah Revan dibawahnya sedangkan Revan langsung membulatkan matanya saat mendengar nama itu terucap


"Ka-kamu ka-kak nya Clau-dia" tanyanya masih tersenggal-senggal

__ADS_1


"Baguslah jika kau mengenalku! Kali ini akan kubiarkan kau hidup, aku harus menemui adikku dulu, baru setelahnya kamu akan ku kirim ke alam lain" ujar Christ sembari mengelap tangannya dengan sapu tangan, menghapus darah Revan yang terkena tangannya saat dia menonjok pria itu tadi


"Sekarang aku harus menghajar satu orang sampah lagi" lanjutnya sembari berbalik


"Antarkan aku ke perusahaan Middle Corp." titahnya pada anak buahnya yang hanya berdiri memandangnya memukuli Revan tadi


"Baik tuan" jawan si anak buah langsung sigap bekerja


Revan berusaha bangkit walau sedikit susah apalagi wajahnya yang kini dipenuhi darah dan lebam. Dia tidak percaya bahwa kakaknya Claudia bisa datang langsung untuk menghajarnya karena telah berani merenggut kesucian Claudia


πŸ€πŸ€πŸ€


Mike membebas tugaskan Claudia selama seminggu tapi gadis itu tetap keras kepala pergi bekerja hingga membuat Mike tampak. Seperti atasan yang kejam. Bagaimana bisa tetap menyuruh Claudia bekerja saat semua tugasnya diselesaikan gadis itu hingga rampung dan memuaskan, walau akhirnya resikonya gadis itu kelelahan dan jatuh pingsan


"Claudia, apakah kamu benar-benar akan menyembunyikan kehamilanmu dari Revan?" tanya Mike pada sekretarisnya itu. Mike tidak memberitahukan masalah itu pada Revan karena Mike masih menghormati sosok Claudia yang sudah dianggapnya adik, bagaimana dia memberitahukan kehamilan gadis itu pada Revan tanpa persetujuan dari Claudia


"Aku tidak tahu" jawab Claudia lirih. Mike menatap wanita blonde itu dan mulutnya tergerak untuk kembali berujar, namun..


Braakk..


Pintu kantornya terbuka dengan tidak sopan menampilkan seorang pria yang sangat dikenali oleh Mike dibaliknya


"Hai kawan.."


.


.


.

__ADS_1


Kritik dan saran diharapkanπŸ™πŸ™


__ADS_2