
Revan duduk termenung setelah menyelesaikan prosesi muntahnya yang tidak jelas.Pikirannya kini dipenuhi dengan Claudia, ada tebersit di benaknya kalau gadis itu mungkin sedang mengandung anaknya karena kesalahan satu malam itu, namun Revan dengan tegas menggelengkan kepalanya, menolak percaya dengan isi kepalanya.Tidak mungkin Claudia hamil kan? Mereka hanya melakukannya satu kali dan itupun kesalahan atau mungkin bukan, Revan dengan jelas mengenali Claudia malam itu walau dibawah pengaruh alkohol namun, dirinya terlalu keras kepala untuk mengakui fakta bahwa dirinya tidaklah lebih baik dari Mike yang bajingan
"Minum ini mas agar perutmu lebih baik" Elina menyerahkan minuman jahe hangat pada Revan untuk sedikit meredakan rasa mual pria itu
"Mas ada salah makan ya?" Revan menggeleng
"Lalu, apa mas masuk angin?"
"Mungkin saja,Elin" jawab Revan sembari menyeruput minuman hangat tersebut.Perutnya saat ini benar-benar telah kosong, muntahnya benar-benar ekstrim hingga tidak menyisakan sedikitpun makanan dalam perutnya dan Revan merasa tubuhnya sangatlah lemas serta dia tidak berselera pada makanan walau perutnya kosong
"Dulu, aku juga muntah-muntah diawal kehamilan tapi tidak separah mas.Kalau saja mas bukan laki-laki, pasti aku mengira mas sedang hamil" ujar Elina dengan tawa ringannya.Revan melirik gadis itu dengan pikiran yang masih terfokus pada kekhawatirannya bahwa Claudia sedang mengandung
"Apa Mike pernah muntah-muntah juga saat kamu hamil?" tanya Revan hati-hati. Dia ingin memastikan sesuatu.Elina tampak berpikir
"Kurasa tidak, kan yang hamil aku bukan dia.Kenapa dia harus muntah-muntah?" Elina menatap Revan merasa sedikit ambigu dengan pertanyaan pria itu. Apa hubungannya kehamilannya dengan ayah dari janin yang dikandungnya
"Tidak, aku hanya penasaran saja" jawab Revan mencoba mengalihkan wajahnya dari tatapan Elina yang tampak curiga padanya
"Mas tidak sedang menyembunyikan sesuatu kan?"
"Tidak Elin, memang apa yang bisa kusembunyikan darimu?" timpal Revan cepat, dia tampak gugup
"Baiklah kalau begitu, mas istirahat ya! Aku mau melihat bocah-bocah itu dulu"
"Eum.." Revan kembali termenung selepas kepergian Elina
"Semoga ini hanya perasaanku saja" batin Revan mulai gelisah
๐๐๐
" Makanya jangan usil, enak kan rasanya dikeroyok" ujar Mike setelah puas mentertawai Billy yang wajahnya sedikit lebam, hadiah dari dua sahabatnya yang dikerjainya semalam
"Mana aku tahu akan separah ini, lagian Eric. Sejak kapan kau jadi pemarah?" tanya Billy pada sahabatnya yang duduk santai diatas sofa ruangan kantor Mike
"Sejak semalam, saat aku hampir tinggal nama. Kau tahu seberapa mengerikannya istriku saat marah, apalagi saat ini dia sedang mengandung. Aku benar-benar hampir dibunuhnya semalam. Memang pantas wajahmu kutonjok" jawab Eric yang kesal. Billy meringis akibat perih luka diwajahnya yang sengaja ditekan Mike didekatnya
"Beruntung kamu tidak beneran dihajar Marcel. Kalau tidak, kurasa kau harus menjalani operasi setelah ini" tutur Mike pada Billy yang masih terus meringis. Pagi-pagi sekali dia sudah harus menyembunyikan diri dikantor Mike dari kemarahan dua sahabatnya, walau akhirnya mereka tetap menemukannya dan melayangkan sedikit hadiah
__ADS_1
"Aku tidak memukulnya karena istriku marah, malahan aku berterima kasih padanya untuk itu tapi, aku memukulnya karena telah berani menempelkan bibir jeleknya pada wajahku.Itu menjijikan" ujar Marcel sarkas. Dia menjadi sangat marah saat melihat video dimana Billy mengecupi wajahnya dan Eric saat mabuk dengan bibir berlipstick pria itu
"Bukannya bersyukur bibirku yang melakukannya. Kalau aku suruh seorang wanita yang melakukannya, sudah dapat dipastikan, burung kalian tidak akan menemukan sarangnya lagi"
"Tetap saja itu menjijikan!" seru Marcel tidak mau kalah. Mike hanya menonton sembari mengangkat tangan pasrah dengan kelakuan para sahabatnya
"Kalau kalian sudah selesai, bisakah kalian pergi.Aku harus bekerja, tidak ada waktu bolos seperti kalian" sindir Mike dengan halus. Ketiga pasang mata itu menatap kearahnya tidak percaya
"Kau mengusir kami?" tanya Billy
"Sayangnya iya, silahkan pergi! Aku harus segera menyelesaikan pekerjaanku agar bisa secepatnya bertemu dengan istriku, dan kalian hanya datang mengganggu"
"Sia-sia aku buang tenaga menghajar pengawal si rubah tua itu, kalau tahu kau seperti ini" ujar Marcel kesal, Mike mengkerut bingung
"Maksudnya?"
"Dua hari lalu kami ke kediaman si bandot tua untuk memperingatkannya agar tidak lagi mengganggumu dan kami terlibat perkelahian disana tapi sepertinya ancaman kami membuahkan hasil, gubernur itu tidak lagi mengusikmu kan?" jelas Billy membuat Mike menatap sahabatnya takjub, tidak dapat dipercayainya kalau para sahabatnya akan bertindak sejauh itu untuk kebaikannya
"Entah kenapa, aku rasanya ingin sekali memeluk kalian, para saudaraku" ujar Mike sedikit terharu
"Aku juga" Eric juga bersuara membuat Mike sedikit kecewa dengan reaksi sahabatnya itu padahal dia baru saja tersentuh dengan tindakan para sahabatnya itu
"Dasar kalian ini ya!" Billy berdesis pada dua sahabatnya yang duduk santai diatas sofa
"Sini Mike, kamu peluk aku saja" tawar Billy membuka lengannya lebar bersiap menerima pelukan sahabatnya
"Kalau kamu lebih baik tidak deh" tolak Mike menjauh dari Billy yang tampak bingung
"Kenapa dengan kalian semua? Sepertinya kalian sangat menjauhiku sekarang!"
"Bukan kami ingin menjauhimu tapi, kelakuanmu itu bikin kami jijik tau! kau seperti kaum jeruk makan jeruk" timpal Marcel seperti biasa dengan mulut pedasnya. Billy melongo mendengar penuturan itu
"Aku normal guys, mantanku dimana-mana dan kalian pikir aku g*y?"
"Makanya segeralah menikah, biar kami tidak berpikir macam-macam tentangmu" sahut Mike yang memilih membuka berkasnya sembari meladeni ocehan sahabatnya. Memang tepat kata pepatah. Kunci bahagia ada 3, istri yang patuh, anak yang berbakti dan sahabat yang cocok dan Mike sudah memiliki salah satunya tinggal membuat Elina menjadi istrinya yang patuh lalu punya anak yang berbakti setelahnya
Para sahabatnya benar-benar menjadi moodboosternya dalam menyelesaikan masalah dan menjalani hidup.
__ADS_1
"Permisi pak" seru sebuah suara lembut dari luar pintu membuat Billy dan Marcel yang sedang sibuk adu mulut terdiam. Mike mempersilahkan sekretarisnya masuk
"Hai Claudia!" sapa Billy sembari menampilkan senyum menawannya, mode buaya nya on
" Iya pak Billy" Claudia menyambut sapaan itu dengan lembut, dan dirinya sedikit menunduk saat melewati tiga pria tampan itu menuju kearah Mike. Bukan dirinya tidak tertarik pada salah satu dari mereka tapi Claudia bukan penggila pria tampan
"Maaf mengganggu pak, saya kemari ingin mengabarkan kalau nona Imelda memaksa masuk untuk menemui Anda" lapor Claudia membuat Mike berdiri dari duduknya, begitu pula dengan ketiga sahabatnya yang terkejut dengan keberanian Imelda
"Untuk apa dia kemari?"
"Saya tidak tahu pak, tapi nona Imelda berkeras ingin menemui Anda"
"Kenapa kalian tidak memberitahukan padaku tentang kedatangan wanita itu?"
"Maaf pak, tapi.." Claudia melirik kearah telepon kantor Mike yang sudah tercabut kabelnya, itulah mengapa pihak resepsionis tidak bisa menghubungi Mike untuk pemberitahuan
Mata Mike langsung mendelik pada tersangka utama yang pura-pura tidak melihat
"Billy!!" desis Mike menatap kesal pada si biang kerok masalahnya
"He..he..maaf Mike, tadi aku sengaja memutuskannya agar kamu tidak mengangkat teleponnya saat Marcel dan Eric mencariku kemari tapi, aku lupa kalau mereka juga punya akses bebas di kantormu" Billy hanya mampu nyengir
"Kamu.." ujaran Mike terpotong saat pendengarannya menangkap sebuah panggilan untuknya
"Sayang!" tampak Imelda dengan penampilan seksinya berjalan masuk dengan penuh percaya diri keruangan Mike mendekati pria itu
"J****g sekarang banyak yang tidak tahu malu ternyata?" gumam Billy menatap sinis Imelda yang terkejut saat melihatnya dan juga dua sahabatnya yang lain
.
.
.
Maaf, untuk ceritanya yang membosankan.
Kritik dan saran diharapkan๐๐
__ADS_1