The Grudge Love

The Grudge Love
BAB 31


__ADS_3

Sebuah mobil melaju dengan kecepatan rata-rata diatas jalanan yang menuju kesebuah desa, panas terik matahari tidak menyurutkan semangat yang begitu membara dalam diri seorang pria yang berada dibalik kemudi untuk menemui wanita yang kini sedang mengandung anaknya


Mike langsung bergegas saat bawahannya berhasil menemukan desa tempat tinggal Elina, dia bahkan meninggalkan penyelidikannya tentang Imelda karena saat ini dirinya lebih membutuhkan Elina dari apapun juga.


Semalam dirinya sudah merenungi semuanya dengan jelas, dia benar-benar merasa sangat bersalah pada gadis mungil yang dia rusak masa depannya.Mungkin jika dia tidak menodai gadis itu, Elina akan hidup bahagia menikah dengan Revan namun tidak lagi sekarang.Mike sangat tidak rela jika itu benar-benar terjadi sekarang, karena dirinya sudah bertekad untuk mendapatkan hati wanita itu


"Tunggu aku Elina, akan kubuat kamu menjadi wanita paling bahagia didunia ini" ucapnya lirih, Mike merasa sangat menyesal atas semua perbuatannya selama ini pada Elina.Menuduhnya sebagai pembunuh disaat gadis polos itu bahkan tidak mengetahui apa-apa, melecehkannya dengan begitu biadab serta kembali memaksakan kehendak pada gadis itu yang jelas-jelas tidak bersalah


"Sial.." Mike memukul keras setir mobilnya saat ingatannya kembali pada saat dirinya melakukan tindakan asusila pada gadis itu, bagaimana Elina yang memohon-mohon padanya tapi tidak digubrisnya, bagaimana Elina yang mencoba menjelaskan dengan semampunya kalau dirinya tidak bersalah namun sama sekali tidak didengar olehnya permohonan dan penjelasan gadis malang itu.Dirinya bahkan dengan buasnya menyesakkan diri pada Elina, menikmati detik-detik prosesnya tanpa peduli dengan air mata gadis itu yang terus mengalir dalam kesakitan


"Kau benar-benar iblis Mike" ujarnya pada dirinya sendiri dengan penuh penyesalan.Dia melajukan mobilnya membelah jalanan menuju tempat dimana dia bisa bertemu dengan wanita yang sudah begitu dalam disakitinya


πŸ€πŸ€πŸ€


Elina sedang larut dalam kegiatannya meracik obat herbal, dirinya kini kembali pada hobinya dulu setelah beberapa hari hanya beristirahat karena kondisi tubuhnya yang kurang fit, dirinya sering merasakan keram di perutnya dan mual yang terus menyerang saat pagi hari, belum lagi penciumannya yang super sensitif.Dia akan merasa mual hanya karena mencium bau-bau yang begitu menyengat,terlebih kini dia jadi lebih pemilih dalam makanannya padahal Elina tidak pernah pemilih dalam memakan apapun karena seleranya tidak pernah berpatok pada makanan tertentu


Gadis itu tersenyum sembari mengusap perutnya yang sedang tumbuh sebuah nyawa baru didalamnya


"Kamu tenang sekali hari ini, ada apa?" tanyanya pada janin yang bahkan masih belum berbentuk.Bukan tanpa alasan Elina bertanya begitu, itu dikarenakan dia merasa begitu nyaman hari ini dan begitu sehat.Tidak ada rasa mual yang biasanya menyerang dipagi hari, tidak ada rasa malas yang hampir seminggu lebih menghinggapinya dan tidak ada rasa keram yang biasa menghantam perutnya.Elina merasa seakan janinnya sedang bahagia hari ini, entah itu karena apa


"Elin..kamu sedang apa?" suara ibu panti membuyarkan pemikiran Elina

__ADS_1


"Aku sedang meracik obat herbal bu" jawabnya dengan tersenyum cerah membuat ibu panti juga tersenyum bahagia


"Kamu jangan banyak beraktifitas dulu jika masih merasa kurang enak badan"


"Tidak bu, aku merasa sehat sekali hari ini.Aku tidak mau hanya makan istirahat saja, nanti aku jadi gendut lagi" kata Elina diselingi dengan tawa kecilnya


"Baiklah jika kamu merasa sehat, apa perlu ibu panggil adik-adikmu biar bisa membantumu disini?"


"Tidak bu, aku bisa sendiri.Ini mudah kok" Bu panti terpana ketika melihat wajah Elina yang tersenyum lepas saat gadis itu fokus dengan tanaman herbal ditangannya.Senyum yang tidak terlihat sejak Elina kembali ke panti, tapi kenapa gadis itu tersenyum sebahagia itu?


"Elin..kamu tampak begitu bahagia nak..apa ada hal bagus yang menimpamu?" tanya bu panti lagi, Elina terhenti dari kegiatannya dan beralih menatap bu panti


"Tidak bu, entah kenapa Elin merasa senang saja hari ini" Elina bahkan heran sendiri dengan dirinya yang tiba-tiba merasa sangat senang dan bahagia


Elina juga bersyukur, kehamilannya tidaklah terlalu merepotkan.Setidaknya dia tidak pernah punya keinginan untuk makan sesuatu seperti yang sering dialami ibu-ibu hamil biasanya yang disebut dengan istilah 'ngidam'. Karena itu pasti akan sangat merepotkannya disaat tidak ada seorang suami disampingnya


πŸ€πŸ€πŸ€


"Dasar bos tidak ada akhlak" Claudia terus menggerutu kesal sembari membereskan proposal-proposal yang baru saja dipresentasikannya didepan klien.Dia terus mengutuk Mike yang menyerahkan semua tugasnya untuk dihandle oleh Claudia secara tiba-tiba.Claudia ingin sekali protes karena tidak mungkin baginya dapat mepresentasikan proposalnya saat dia tidak punya persiapan sedikit pun.


Mungkin akan mudah jika Mike mengatakannya sehari sebelumnya, jadi ada kesempatan untuknya mempelajari point proposalnya tapi bos sialannya itu baru memberi kabar saat satu jam menuju pertemuan dengan klien yang langsung membuat Claudia kalang kabut, apalagi Mike yang langsung mematikan handphonenya setelah memberi perintah untuk menghandel semua pertemuan hari ini tanpa memberi waktu sedikitpun untuknya berbicara

__ADS_1


Claudia ingin sekali rasanya mencakar wajah tampan bossnya itu dengan segala kearoganannya yang sangat menyebalkan.Dia merasa rambutnya tidak akan lama beruban kalau masih mempunyai atasan seperti Mike.Syukur dia berambut blonde, jadi tidak akan terlalu mencolok kalau rambutnya tumbuh uban gara-gara bos sialannya


"Sebenarnya ada hal penting apa sih sampai-sampai si Mike sialan itu harus meninggalkan pertemuan dengan klien penting seperti ini" tanyanya bingung, karena yang dia ketahui Mike sebatang kara, tidak ada orang tua ataupun saudara.Hanya tiga sahabatnya yang selama ini menemani pria itu dan juga mantan kekasihnya yang sudah meninggal.Jadi, apa yang membuat pria itu rela meninggalkan keuntungan besar perusahaannya?


"Apa jangan-jangan terjadi sesuatu dengan salah satu sahabatnya" Claudia berpikir itulah jawaban yang paling logis, karena yang selama ini dirinya lihat.Persahabatan empat pria itu sudah seperti saudara kandung walau tak ayal mereka sering saling mengejek dan menjahili satu sama lain


"Iya, pasti itu alasannya..kalau bukan itu, tidak mungkin Mike meninggalkan keuntungan besar ini" lanjutnya sembari melangkah keluar untuk pergi makan siang karena waktu sudah menunjukan waktu makan siang


Ditengah langkahnya menuju restoran terdekat, Claudia terkekeh kecil mengingat panggilannya pada bosnya saat pria itu tidak ada 'Mike sialan' panggilan yang sangat kurang ajar dan tentu saja akan mendatangkan amarah pria itu jika mendengarnya


"Salah sendiri, siapa suruh jadi laki-laki menyebalkan seperti itu" gumamnya sembari terus mempercepat langkahnya dan terhenti mendadak saat sudah didepan pintu restoran


"Revan" gumamnya lirih sembari menajamkan pandangannya saat melihat pria yang mengganggu pikirannya sedang terduduk lesu di sebuah kursi paling pojok dari restoran itu


Claudia menghembuskan nafasnya mencoba menormalkan detak jantungnya yang berdetak dengan gila hanya karena memandang pria itu, dia berjalan mendekat kearah Revan


"Hai.." sapanya sembari tersenyum membuat Revan mendongakkan kepalanya dan melihat gadis blonde itu berdiri didepannya dengan senyuman cerah secerah matahari siang


.


.

__ADS_1


.


Kritik dan saran diharapkanπŸ™


__ADS_2