The Grudge Love

The Grudge Love
BAB 73


__ADS_3

" Pokoknya aku tidak mau" Mike mendesah pasrah oleh keadaan dimana istrinya ngotot tidak ingin mengganti pakaiannya yang terkena tumpahan minuman


" Lalu apa yang kamu inginkan sayang?" Mike bertanya dengan nada terlembutnya, dia tidak ingin sang istri kembali kesal padanya


" Aku mau mangga muda yang langsung dari pohonnya yang tinggi terus harus mas sendiri yang mengambilnya" ujar Elina dengan wajah cemberutnya


" Hah!" Mike hanya mampu melongo mendengar permintaan itu


" Tapi di rumah kita tidak ada pohon mangga sayang"


" Punya tetangga kan ada" Mike hanya mampu mengusap wajahnya dengan permintaan konyol itu


" Baiklah, kita petik mangganya sekarang ya" Mike mengalah dan senyum cerah langsung terbit di wajah sang istri


Mempertebal muka menahan malu, Mike berjalan kearah rumah tetangga untuk meminta sebuah mangga muda untuk istri tercinta. Bukan karena susahnya tapi malunya itu yang bikin Mike ingin segera menghilang dari muka bumi. Pemilik mangga menahan tawa saat melihat seorang pengusaha lengkap dengan pakaian jas kerjanya malah naik keatas pohon hanya demi sebuah mangga muda. Mike akan menahan rasa malu itu demi srbuah senyuman yang tercetak di wajah sang istri yang terlihat bahagia


" Kau senang" tanya Mike pada Elina yang terus menerus menatap mangga muda yang diperjuangkannya. Elina mengangguk


" Lalu kenapa tidak kamu makan, sayang" Mike bertanya dengan rasa bangga karena telah memenuhi salah satu keinginan sang istri. Elina mengalihkan tatapannya dari mangga di tangan ke wajah sang suami


" Siapa bilang aku ingin memakannya, aku hanya suka melihatnya. Siapa yang ingin makan mangga asam seperti ini" ujar Elina tanpa rasa bersalah membuat Mike termangu menatap sang istri. Jadi, semua perjuangannya tadi hanya untuk di pandang bukan untuk di nikmati


" Yang ingin ku makan sekarang adalah Nangka yang matang di pohonnya langsung dan mas juga yang harus memetiknya" apalagi sekarang, Mike memukul pelan kepalanya pada setir mobil. Nangka! Harus dia yang ambilkan dan harus matang di pohon pula.


'Tuhan, bisakah Engkau kembalikan Elinaku yang dulu' pinta Mike dalam hati menatap ngeri sang istri dengan segala permintaan anehnya


Suara ponselnya membuyarkan Mike dari keluhan tersembunyinya


" Iya, ada apa" ujarnya langsung


" Tuan, apa Anda benar-benar akan mengalihkan kuasa atas perusahaan" terdengar suara asisten Niko di seberang


" Tidak jadi, batalkan saja pertemuannya"


" Tapi tuan.."


" Tidak ada tapi-tapian, lakukan saja perintahku" tut..Mike langsung mematikan ponselnya setelah menyerahkan tugas pada asisten Niko yang kembali harus uring-uringan

__ADS_1


๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€


Hari peresmian, Elina tidak henti- hentinya menghembuskan nafasnya gelisah, dia takut akan pandangan orang-orang berkelas terhadapnya yang hanya seorang upik abu, apa pantas dirinya bersanding dengan Mike. Mengusap pelan perutnya yang terkandung buah hatinya, sekedar untuk mendapatkan kekuatan dari sang buah hati


" Setelah ini kamu akan terlahir dengan status resmi, sayang" lirihnya pada sang bayi dalam perutnya


Kriet.. Suara pintu ruangannya terbuka, tampak Mike yang menatap penuh cinta pada sang istri masih terduduk ragu di kursinya


" Sayang, ayo keluar. Para tamu sedang menunggumu" ujar Mike mendekat ke arah sang istri yang sedang duduk menghadap ke cermin besar didepannya, Mike menunduk dan mengecup pelan pipi istrinya itu


" Ibu dan anak-anak panti juga sudah hadir sayang, mereka sedang menunggumu keluar" bisiknya di telinga Elina yang langsung membuat Elina menatap suaminya itu terkejut


" Mas mengundang orang panti juga?" tanya Elina terharu, Mike mengangguk


" Tentu saja sayang, mereka keluarga kita juga, mana mungkin kita tidak mengundangnya bukan" kata Mike tersenyum lembut


" Tapi ku pikir pesta ini hanya untuk orang-orang berkelas saja"


" Sayang" Mike menyentuh kedua bahu sang istri lalu menatap dalam mata polos yang begitu memabukkannya


" Terima kasih mas, terima kasih atas semuanya" ujar Elina dalam pelukan suaminya itu


" Tidak sayang, aku yang seharusnya berterima kasih padamu sayang. Terima kasih telah menerima pria berlumur dosa sepertiku, terima kasih telah memberi kesempatan untuk pria pembunuh sepertiku dan terima kasih telah mempercayai pria bajingan sepertiku. Kamu bagai hadiah terbesar yang Tuhan kirimkan dalam hidupku, yang membuatku bisa memandang apa itu kebenaran dan apa itu kesalahan" Mike menatap dalam mata istrinya itu


" Aku mencintaimu istriku, sangat mencintaimu" ujarnya dengan tulus, Elina balas menatap tatapan tulus sang suami lalu mengangguk dan menjawab


" Aku juga mencintaimu suamiku" jawabnya yang langsung membuat Mike tersenyum senang dengan pengakuan itu. Pria itu langsung memeluk erat tubuh mungil yqng tampak sedikit berisi itu


" Sayang, sebenarnya ingin sekali aku membawamu ke atas ranjang sekarang tapi keadaan sedang tidak cocok. Sepertinya aku harus bersabar sampai nanti malam" bisik Mike di telinga Elina yang membulatkan matanya dan spontan mencubit perut suami mesumnya itu


" Aow" ringis Mike kesakitan


" Pikiranmu itu ya" kesal Elina dengan tingkat kemesuman suaminya itu yang sangat menyebalkan. Mike tersenyum setelah selesai dengan ringisannya lalu kembali menarik sang istri kedalam dekapannya


" Setidaknya berilah sedikit asupan gizi untuk suamimu ini" kata Mike yang langsung tertuju pada bibir sang istri lalu keduanya larut dalam ciuman mereka


Ekheumm...

__ADS_1


Suara deheman yang tampak disengaja menghentikan sepasang suami istri yang sedang larut dengan ciumannya. Mike melepas bibir istrinya dengan tidak rela lalu menatap garang pada tiga pria pengganggu di pintu ruangan


" Mukbang terus kerjaannya" ujar Billy si pelaku utama yang mengganggu


" Kalian tidak ada kerjaan lain apa, menggangguku terus kerjaannya" umbar Mike kesal sedang Elina sudah menunduk dengan wajah memerah malu, dalam hati dia juga mengutuk para sahabat suaminya yang tidak tahu sopan santun. Pintunya diketuk kek kalau mau masuk


" Mengganggumu juga salah satu pekerjaan favorit kami, ya kan ric" ujar Marcel menyenggol bahu Eric disampingnya


" Keluarlah, para tamu sudah menunggu kalian dari tadi tapi disini kalian malah...ah sudahlah" tutur Eric yang paling bijak dalam kawanan


" Iya, sebentar lagi kami juga akan keluar, kalian saja yang beralasan padahal ingin mengganggu kegiatanku"


" Lebih baik kau tahan dirimu sampai nanti malam, Mike. Sekarang keluarlah! Aku tidak ingin membuat istriku menunggu terlalu lama, jadi segera keluar kalau tidak ingin kuseret keluar" tutur Marcel dengan sedikit sadis di akhir kalimat


" Iya, aku juga tidak ingin mendengar ocehan istriku karena terlalu lama menunggu" timpal Eric setuju


" Dira ku juga tidak boleh menunggu terlalu lama" sahut Billy yang langsung mendapat tatapan aneh dari tiga sahabatnya


" Memang dia sudah menerimamu?" tanya Marcel dengan nada remeh, Eric di sampingnya juga mengangguk


" Ah kalian ini, tidak membantu sama sekali" kata Billy yang langsung berbalik ingin kembali ke tempat acara di ikuti oleh Marcel dan Eric di belakangnya yang mengulum senyum dengan perjuangan cinta sahabatnya itu


" Waktumu lima menit untuk segera berada disana kalau tidak, jangan salahkan kami yang akan menyeretmu kesana" ujar Marcel sebelum benar-benar pergi dari hadapan sepasang suami-istri tersebut


" Pergilah, mengganggu saja kalian" teriak Mike dengan kesal lalu beralih pada istrinya yang masih merona malu


" Siapkan dirimu sayang. Kita keluar sekarang"


" Baik" Elina meraih lipstick, kembali mengolesnya pada bibir setelah bekas lipstick sebelumnya habis tersapu bibir suaminya


.


.


.


Kritik dan saran diharapkan๐Ÿ™๐Ÿ™

__ADS_1


__ADS_2