
Imelda memasuki kantor Mike dengan penuh percaya diri, dia tidak menyadari tentang kehadiran tiga sahabat Mike yang menatap sinis pada wanita itu
"Dia masih berani mengganggu Mike" ujar Eric menatap wanita itu yang berjalan kearah Mike namun terhenti, saat matanya menangkap kehadiran tiga pria tampan itu
"Hai Nona Barbie!" sapa Billy dengan senyum termanisnya walau nyatanya pria itu sangat muak melihat wajah ****** Imelda. Marcel membuang muka, merasa sangat tidak tertarik pada Imelda dan bukan hanya Imelda, hampir semua wanita tidak ada yang menarik baginya kecuali sang istri yang tentu saja menjadi pusat bucin baginya. Sedangkan Eric hanya menatap datar wanita itu
"Se-sedang apa kalian disini?" tanya Imelda mulai gugup dibawah tatapan 3 pria disana minus Marcel dan juga tatapan Claudia
"Kamu yang sedang apa disini? Apa tujuanmu kemari?" sahut Mike dikursinya menatap tajam wanita yang pernah begitu diinginkannya
"Sayang.."
"Berhenti memanggilku dengan panggilan menjijikan itu!!" bentak Mike semakin kesal, dia sudah sangat terganggu dengan kedatangan 3 sahabat teletubbiesnya dan sekarang datang lagi wanita yang sudah sangat menjijikan baginya
Imelda tertunduk setelah mendengar bentakan itu. Semua kebohongannya sudah hampir membuatnya jatuh kedasar jurang tapi dia tidak bisa kehilangan Mike, satu-satunya pria yang begitu memperhatikannya dan juga yang paling memperjuangkannya. Wanita itu memantapkan tekad terus melangkah mendekati Mike
"Sayang, dengarkan penjelasanku dulu, semua yang mereka katakan itu hanya..." penjelasan Imelda terhenti saat Mike mengangkat tangannya berisyarat agar wanita itu diam. Billy tersenyum penuh kebanggaan di ujung sofa pada sikap Mike yang jauh lebih tegas sekarang
"Sebaiknya kau pergi dari sini Melda, sebelum aku bersikap kasar padamu" oh Tuhan! Mike benar-benar muak dengan wanita itu. Kalau saja dia bukan seorang perempuan, sudah lebih dulu dihantamnya wanita ini dari tadi
"Sayang, please! Dengarkan aku dulu!" Imelda semakin mendekat pada Mike hingga wanita itu dengan berani menyentuh wajah Mike. Dulu, Mike akan segera luluh kalau dia melakukan ini, mengusap rahang tegas pria itu
"Sudah cukup!!" Mike meraih kasar tangan kecil Imelda lalu mendorong wanita itu menjauh. Jangan salahkan dia bersikap kasar pada wanita itu, karena dirinya bahkan pernah begitu kasar pada wanita yang saat ini mengandung anaknya
Tangannya terangkat hendak menampar Imelda namun terhenti saat Billy mendekat dengan cepat dan memegang tangan Mike
"Oo tidak kawan, kita tidak bertindak kasar pada wanita,Mike" ujar Billy berhasil menghentikan gerak tangan Mike yang akan Menampar Imelda. Claudia yang berada didekat mereka pun terdiam saat melihat Mike yang sedang marah, pria itu benar-benar mengerikan ketika sedang emosi
"Claudia, bisa kamu panggil keamanan untuk membawa Imelda pergi dari sini" pinta Billy yang membuat Claudia tersentak dari keterkejutannya lalu bergerak cepat keluar untuk memanggil tim keamanan
Setelah keamanan datang membawa pergi Imelda yang memohon-mohon pengertian Mike, Billy menghembuskan nafas lelahnya sembari menghempaskan diri diatas sofa samping dua sahabatnya yang tidak mau peduli apapun
__ADS_1
"Aku tidak menyangka, kamu ternyata sekasar itu, Mike" ujar Billy menatap Mike yang masih terlihat berang
"Diamlah!" balasnya dengan judes sembari memejamkan matanya diatas kursi kebesarannya. Dia memang seorang pria kasar, terlahir dari keluarga miskin dan jadi yatim piatu saat masih kanak-kanak dan bahkan sempat jadi remaja nakal dan karena itulah dirinya memiliki pembawaan kasar saat emosi walau, itu semua sekarang telah berubah sejak bertemu dengan ketiga sahabatnya itu
"Sepertinya Imelda belum ingin melepasmu" ujar Marcel menatap kearah Mike yang tampak memijat keningnya lelah dengan keadaan yang terjadi
"Elin, aku membutuhkanmu saat ini" batin Mike berucap bahkan pria itu tidak peduli dengan ujaran Marcel. Satu-satunya hal yang terpikir olehnya hanya seorang Elina
๐๐๐
Dua hari telah berlalu, Revan masih saja terus mengalami muntah-muntah, paling parah dipagi hari terlebih tubuhnya yang mudah lemah dan tidak berseleranya pada makanan apapun. Dia sudah pergi ke klinik didesa tersebut untuk mengecek keadaannya. Namun, pertanyaan dokter membuatnya semakin tidak tenang dengan kenyataan
"Apa istri bapak sedang mengandung saat ini?" satu pertanyaan yang membuat jantung Revan seakan berhenti
"Saya belum menikah dok"
"Oh maaf pak, saya pikir gejala yang saat ini Anda hadapi ini merupakan syndrom couvade atau yang biasa disebut kehamilan simpatik, biasanya gejala ini dialami sang ayah saat kandungan si ibu berada di trimester pertama dan trimester ketiga kehamilan. Tapi, dalam kasus Anda yang belum menikah saya tidak tahu pastinya akan penyakit ini atau mungkin ada seseorang yang saat ini mengandung bayi Anda" jelas sang dokter yang tentu saja membuat Revan terdiam dan dirinya semakin yakin benihnya sedang tumbuh dirahim Claudia
"Elin.." gumamnya yang menatap Elina di ambang pintu dengan perut gadis itu yang sudah tampak membuncit, kandungan Elina sudah berjalan 3 bulan dan Mike belum juga meresmikan pernikahannya dengan Elina walau mereka sudah menikah sah dimata hukum dan negara
Revan mencoba bangun dan menghampiri Elina, dia tidak ingin mengecewakan Elina yang dengan sabar merawatnya saat ini.
"Keluar kemana Elin? Ini sudah terlalu sore untuk kita keluar" kata Revan sedikit berdalih dengan alasan padahal dirinya merasa sangat malas untuk sekedar melangkahkan kakinya apalagi kondisi tubuhnya yang terasa begitu lemah
"Kita kepinggiran kolam pak RT yuk? Menikmati matahari terbenam. Disana kan matahari terbenamnya terlihat indah" Revan menghelakan nafasnya lesu. Ingin sekali rasanya Revan menolak ajakan itu, tapi itu pasti akan mengecewakan gadis itu.
Akhirnya Revan memilih menemani gadis itu menikmati matahari terbenam. Revan dapat melihat senyum bahagia terpancar di wajah Elina saat gadis itu melihat matahari mulai kembali ketempat peraduannya. Sifat polos Elina yang menatap takjub surya yang berlembayung diujung senja tersebut membuat Revan terbayang ke masa lalu, saat Elina yang berumur 10 tahun juga menatap takjub matahari terbenam sembari menepuk tangannya dengan kata-kata takjub terus terlafadz dibibirnya
Elina nya masih belum berubah tapi kini keadaan yang telah merubah semuanya. Kesalahan demi kesalahan yang diperbuatnya tidak dapat membuatnya kembali seperti semula. Revan telah salah mengambil langkah, dia memulainya dengan kesalahan dan kesalahan juga yang akan dituainya. Airmata dibalas airmata dan tawa dibalas tawa, begitulah hukum alam bekerja
"Maafkan aku Elin.." lirihnya sangat pelan dengan setitik air menetes dari matanya
__ADS_1
Setelah puas menikmati cahaya sore yang mulai redup itu, mereka kembali melangkah pulang ke panti dengan beberapa candaan ringan sepanjang jalan
Sampai dihalaman panti Revan berhenti yang membuat Elina juga terhenti langkahnya saat melihat Revan berbalik menghadapnya yang berada di belakang pria itu
"Elin.."
"Ada apa mas?"
"Sepanjang jalan tadi aku sudah memikirkannya"
"Memikirkan apa?" Elina bertanya bingung
"Aku mencintaimu Elin.." Elina kembali mengatupkan mulutnya saat mendengar pengakuan itu kembali
"Tapi aku tidak akan mengambil tindakan egois saat ini. Sepanjang jalan tadi aku sudah memikirkannya! Aku akan menyerah untuk mendapatkanmu kembali. Aku sadar, tidak ada lagi namaku dalam hatimu dan aku tidak bisa memaksakan perasaanmu padaku" jelas Revan dengan pilu, Elina meneteskan air matanya saat mendengar penuturan itu
Revan adalah laki-laki terbaik yang pernah hadir dalam hidupnya, bahkan laki-laki itu terlebih baik dari Mike sekalipun tapi hati tetap tidak dapat dipaksakan, Elina telah jatuh cinta pada seorang Mike dan Revan tidak lagi menjadi pria yang dicintai Elina atau mungkin tidak pernah sekalipun nama Revan tersemat dihati gadis itu. Elina menyayangi pria itu seperti seorang adik menyayangi kakaknya dimana seorang kakak selalu melindungi adiknya dan itulah yang dirasanya terhadap Revan
"Elin, bolehkah aku minta sesuatu padamu?" Elina menatap mata Revan tanpa menjawab apapun
"Izinkan aku menciummu untuk yang pertama dan terakhir kalinya, anggap ini sebagai tanda kita berteman" kata pria itu lagi membuat Elina membulatkan matanya namun tidak menjawab ataupun menolak pria itu
Melihat diamnya Elina, Revan mendekatkan wajahnya pada gadis itu lalu mengecup pelan bibir Elina yang hanya terdiam membeku dengan kecupan yang diberikan Revan
"Terima kasih Tuhan, Engkau telah mengenalkanku pada gadis ini dan saat ini kumohon padamu agar kau hilangkan perasaanku untuknya" doa Revan dalam hati. Akhirnya impiannya dulu yang ingin mencium Elina tersampaikan juga walau hanya berupa kecupan tanda perpisahan, karena setelah ini Revan akan kembali ke jakarta untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya pada Claudia
"Bagus sekali.." ujar sebuah suara yang sangat dikenali Elina maupun Revan
"Mike" batin Elina yang langsung menjauhkan wajahnya dari Revan. Dilihatnya Mike yang menatap marah pada mereka
__ADS_1
Kritik dan saran diharapkan๐๐