
Mike mengangguk mengerti setelah mendengar semua cerita Claudia. Disini Mike tidak menyalahkan Revan ataupun membenarkan Claudia karena pada dasarnya dua-duanya salah dan dua-duanya benar, mereka melakukannya atas dasar saling suka. Tentu akan sangat berbeda dengan kasusnya dan Elina, dia yang memaksakan kehendaknya pada gadis itu tanpa peduli Elina suka atau tidak dan Mike sangat menyesali itu sekarang
Tapi yang tidak dapat Mike tolerir dari perbuatan Revan adalah sikap pengecut pria itu yang begitu tidak bertanggung jawab. Tunggu saja saatnya Mike akan membuat pria itu sadar akan kesalahan yang diperbuat, jauh di lubuk hatinya Mike masih mengingat segala kebaikan Revan padanya dulu sebelum sebercak noda datang mengotori semuanya.Mike tidak ingin Revan melakukan kesalahan yang sama dengannya yang mungkin akan membuat mereka sama-sama terluka
"Oke, tenanglah Claudia.Aku akan mengurusnya untukmu"
"Tidak, jangan katakan apapun padanya" Claudia menyahut dengan cepat, terlihat gurat kekhawatiran pada wajah gadis itu, Mike menaikkan keningnya bingung
"Lalu kau ingin bagaimana?"
"Aku akan merawat bayi ini sendiri"
"Lalu membuat kakakmu mengamuk padaku?" tanya Mike dengan mimik datarnya
"Aku hanya.."
"Sudahlah Claudia.Kamu cukup pastikan saja kakakmu tidak sampai mendengar berita ini, aku akan mengurus hal lainnya.Disini, anggap saja aku kakakmu ya" kata Mike menampilkan senyum tipisnya membuat Claudia menatap atasannya itu tidak percaya, hampir mustahil baginya untuk melihat Mike tersenyum padanya tapi hari ini Claudia melihat sisi lain dari atasannya itu
"Baiklah" jawab Claudia akhirnya memilih menyerah sebagaimana arus takdir akan membawanya
"Gadis pintar.."
πππ
Dua orang pria menatap dua pria lainnya didepannya dengan senyum jahil menghiasi wajah salah satunya
"Mereka kenapa?" tanya Mike pada Billy saat melihat dua sahabatnya yang lain tampak uring-uringan
Malamnya saat Mike baru saja ingin lembur agar menyelesaikan semua pekerjaannya dengan cepat dan segera bertemu sang istri di desa lalu akan kembali berjuang mendapatkan hati Elina.Namun, tiga manusia bergender pria itu datang menyeretnya ke tempat yang sangat tidak cocok untuknya berkumpul bersama mereka
"Biasa, kehidupan pria beristri.Beban pikiran bertambah" jawab Billy tertawa
"Bersyukurlah kita belum mempunyai istri"
"Kamu saja kali, aku punya.Ingat!" timpal Mike mengingatkan Billy yang lupa kalau dia sudah menikah. Billy hanya tersenyum dengan kelupaannya
"Memang apa masalah mereka dengan istrinya?" tanya Mike lagi semakin dibuat bingung dengan kelakuan dua temannya yang sedang minum-minum.Dia berpikir, sejak kapan Marcel yang perfeksionis terlihat berantakan seperti itu dan satu lagi, Eric yang dikenalnya tenang kini malah mabuk-mabukan
__ADS_1
"Aku kurang tahu masalahnya, tapi sepertinya mereka berdua ditendang dari ranjang oleh istri mereka" Billy tertawa dengan jawabannya, begitupun Mike yang ikut tertawa
"Aku lebih menyedihkan, malah belum pernah dizinin naik ranjang setelah kami menikah" tutur Mike menertawakan dirinya yang lebih menyedihkan dari 2 sahabatnya yang lain
Mendengar itu, Billy bukannya prihatin malah tertawa dengan kehidupan menyedihkan tiga sahabatnya
"Itu karma yang sudah seharusnya kamu dapatkan" kata Billy menepuk pelan bahu Mike
"Kamu sama sekali tidak membantu Bil.." ujar Mike menyingkirkan tangan Billy yang menyentuh bahunya
Tiba-tiba ide gila keluar dari otaknya Billy, pria itu menarik Mike mendekat untuk menceritakan idenya dalam mengerjai dua temannya yang sudah terkapar mabuk
"Tidak..tidak..tidak..kau gila" Mike langsung menolak tidak setuju dengan ide gila Billy yang ingin mengerjai dua sahabatnya
"Kalau kamu tidak mau jangan lakukan, biar aku saja yang melakukannya.Kamu cukup videoin saja sebagai hadiah buat dua pria ini" kata Billy lalu bangkit menemui seorang wanita yang tidak jauh darinya lalu kembali dengan sebatang lipstick ditangannya
"Perhatikan ya!" ujar Billy mulai mengoleskan lipstick warna merah menyala dibibirnya dibawah tatapan mata Mike yang menatap pria itu dengan jijik
"Kau yakin mau melakukan ini?" Mike sekali lagi memastikan ide aneh sahabatnya itu dan Billy mengangguk mantap
Mike memegang ponsel itu dengan tatapan menjijikan saat kelakuan Billy yang menciumi wajah sahabatnya terekam di kamera ponsel itu. Bekas lipstick di bibir Billy memenuhi wajah Marcel dan Eric yang tidak sadar, Billy bahkan menempelkan bibirnya pada pakaian dua sahabatnya itu
"Ah! Pasti akan sangat menyenangkan, melihat istri mereka mengamuk karena bekas lipstick ini" Billy tertawa puas dengan maha karyanya lalu mengambil tisu membersihkan bekas lipstick dibibirnya
"Menjijikkan" desis Mike hampir muntah.Ingatkan dia agar jangan sekali-kali mabuk saat ada Billy bersamanya
"Kamu mau juga?" tawar Billy dengan wajah tidak berdosanya
"Menjauhlah dariku!" Mike masih menatap jijik pada Billy yang menjatuhkan pandangannya pada dua sahabatnya yang sudah sangat berantakan
"Menyenangkan juga mengerjai mereka, aku sudah tidak sabar ingin melihat reaksi istri mereka nantinya"
"Kamu tahu bicara karma tapi lupa kalau perbuatanmu ini juga suatu saat akan berbalik padamu"
"Makanya aku mulai hati-hati sama kalian dari sekarang dan kamu ada saatnya juga nanti aku kerjai" Billy kembali tertawa senang, Mike menghelakan nafas kasarnya
"Jadi, kita kemari hanya untuk menemani mereka minum?" Mike menunjuk kearah Marcel dan Eric yang tampak seperti baru saja menghabiskan malam hebat dengan bekas lipstick memenuhi wajah dan pakaian mereka
__ADS_1
"Iya, memang kau berharap apa lagi?"
"Kalau tahu begini, aku tidak ikut tadi" jawab Mike malas
"Memang kau tega melihatku menggotong kedua pria ini sendirian?"
"Itu lebih bagus" jawab Mike yang membuat Billy memukul pelan bahu Mike lalu keduanya tertawa, lebih tepatnya menertawakan dua sahabat mereka yang lain
Mike tidak terlalu peduli dengan masalah para sahabatnya dan istri mereka karena ada hal yang lebih penting baginya untuk dipedulikan yaitu istri dan calon anaknya
Apalagi saat ini dia sadar Revan ada disana bersama sang istri dan mereka pernah mengikat tali kasih, semakin membuat hati Mike tidak tenang.Dia tidak takut soal Revan yang akan melakukan hal bejat pada Elina, karena Revan tidaklah separah itu dalam bersikap dan kejadian Revan dengan Claudia itu masuk pengecualian, karena bisa jadi saat itu Revan tidak sadar karena mabuk hingga melakukan tindakan tersebut pada Claudia
πππ
Elina memandang bingung kearah Revan yang bolak balik kamar mandi dengan wajah memucat, pria itu sudah sejak pagi merasakan perutnya mulas dan muntah-muntah, semua makanan yang dimakannya tidak bertahan lama dalam perutnya, akan selalu terdorong keluar hingga pria tampan itu terduduk lemas didepan pintu kamar mandi
"Mas Revan kamu kenapa?" tanya Elina dengan bingung
"Elin, aku.." Revan tidak dapat melanjutkan perkataannya dan kembali bangkit menuju kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya yang kembali terasa mulas, itu benar-benar menyiksa dirinya hampir seharian ini
Elina merasa apa yang dialami Revan persis seperti apa yang pernah dialaminya saat awal-awal mengandung dulu.Namun, gadis itu segera menepis pikiran anehnya yang tidak akan pernah mungkin seorang pria mengandung bukan? Revan mungkin sedang masuk angin saja
Elina masuk kedalam untuk sekedar memijat tengkuk Revan agar pria itu bisa lebih merasa enakan saat mengeluarkan isi perutnya yang bahkan tidak bersisa.Melakukan ini membuat Elina teringat akan saat dulu ketika Mike mencium dirinya yang baru saja selesai muntah, ciuman yang menjijikan namun berkesan. Mendadak wajahnya menjadi merah saat teringat masa-masa itu, apalagi saat dia menghisap bisa ular dibibir Mike, itu sangatlah memalukan
"Mas Revan sudah seperti orang hamil saja, muntah-muntah" ujar Elina
DEGH...
Detakan jantung Revan seakan berhenti saat Elina mengucapkan kata-kata itu dan pikiran pria itu langsung tertuju pada satu nama yang sudah diabaikannya beberapa hari ini....CLAUDIA LAURENT
.
.
.
Kritik dan saran diharapkanππ
__ADS_1