The Grudge Love

The Grudge Love
BAB 48


__ADS_3

Awan mendung tampak membaluti langit, cuaca itu seakan menggambarkan suasana hati seorang pria yang fokus mengemudi sedang disampingnya seorang wanita layaknya Barbie hidup menatap takut-takut padanya yang sedang dalam suasana hati buruk


"Honey" panggil Imelda takut-takut, dia sudah terbiasa memanggil Mike begitu hingga sulit baginya untuk mengubah panggilannya ke yang lain


"Jangan memanggilku begitu" ujar Mike tanpa mengalihkan pandangannya dari depan


"Tapi, biasanya aku selalu mamanggilnya begitu"


"Itu dulu, tidak untuk sekarang.Setelah semua kebohongan ini"


"Tap..."


"Jelaskan padaku, apa yang membuatmu pura-pura mati dan membohongiku?" Mike memotong perkataan Imelda dan langsung menanyakan inti dari semuanya


"Aku tidak pernah membohongimu sayang, aku juga tidak sadar waktu itu.Disaat aku sadar, kamu tidak ada disampingku" ujar Imelda menjelaskan


"Maksudmu, dulu kamu memang tidak meninggal.Hanya tidak sadarkan diri saja?" tanya Mike spontan, Imelda mengangguk


"Tapi aku jelas-jelas melihatmu membeku dalam peti mati, bagaimana kamu akan menjelaskan itu semua?"


"Itu bukan aku, itu hanya sebuah boneka lilin yang dirancang oleh daddyku hingga persis sama sepertiku" jelas Imelda lalu dengan cepat menutup mulutnya, dia keceplosan


"Jadi, semua skenario ini memang sudah dirancang sedari awal oleh ayahmu?" tanya Mike tidak percaya menghentikan mobilnya dengan mendadak dan menatap tajam pada Imelda


"Apa kamu juga bekerja sama dengan gubernur sialan itu untuk menjebakku seperti ini?"


"Ti..tidak.Aku tidak tahu apa-apa"


"Kalau begitu, apa tujuan ayahmu menjebakku seperti ini?" tanya Mike mengguncang tubuh Imelda yang sudah mengeluarkan keringat dingin


"Aku tidak tahu" wanita itu terus menggeleng


"Baiklah, aku tidak akan memaksamu untuk menjawab lagi.Tapi ingat, jangan sampai aku tahu kau berbohong padaku" tidak ada lagi kata-kata lembut yang memuja dari pria itu pada Imelda, semuanya telah lenyap terganti pada satu nama lain


Mike kembali memfokuskan diri pada kemudi mobilnya dan mulai menjalankan mobilnya kembali sedang Imelda sudah meremas kuat tangannya dengan keringat dingin tampak mengucur didahinya dan itu semua tidak lepas dari lisikan mata tajam Mike.Dia tidak dapat lagi mempercayai Imelda


πŸ€πŸ€πŸ€


Bu panti mengusap pelan rambut Elina yang masih sesenggukan dalam pangkuannya

__ADS_1


"Sudahlah nak! Jangan menangis lagi. Seperti yang pernah ibu bilang, apa yang menjadi milikmu tidak akan pernah berpaling darimu.Dia akan tetap menjadi milikmu" tutur bu panti dengan lembut, dia sudah mengetahui semuanya dari Reno, si bocah matre dan Nita, gadis cilik yang suka bergosip


Ditambah sedikit cerita dari Revan, membuat bu panti begitu menyayangkan nasib Elina.Namun, nasi sudah menjadi bubur.Elina telah menjadi istri dari pria yang beliau kira memiliki ketulusan dalam mencintai Elina


"Apa salahku bu, hingga aku harus dihukum seperti ini?" lirih gadis itu dengan pilu.Takdir seperti apa yang sedang dijalaninya saat ini sebenarnya?


" Jangan menangis lagi Elin, kamu harus kuat! Ingat, kamu akan segera menjadi seorang ibu" ujar bu panti menyemangati Elina


"Kamu tidak ingin menemui nak Revan?"


Elina menggeleng, dia masih merasa sangat bersalah pada Revan ditambah lagi kini hatinya sudah berpindah haluan pada ayah si bayi dalam kandungannya walau harus diakuinya, Revan tetap memiliki tempat teristimewa dalam hatinya sebagai pahlawannya selama 10 tahun ini


Diluar kamar, Revan menatap nanar pintu kamar Elina.Dia tidak diijinkan masuk saat bu panti masuk untuk menenangkan Elina


Ponselnya berbunyi dan dilihatnya nama Claudia tertera dilayarnya, tatapannya menjadi begitu sendu menatap ponselnya tanpa berniat menjawab panggilan dari gadis itu hingga panggilannya terhenti dengan sendirinya


"Maafkan aku Claudia" lirihnya dengan begitu menyesal, menghelakan nafas panjangnya dan menjatuhkan punggungnya bersandar diatas bangku kayu yang tersedia diruang tamu panti


Revan sebenarnya juga sangat lelah dengan hidupnya, baru saja dirinya ingin kembali mendapatkan kekasihnya namun dirinya sudah lebih dulu jatuh dalam kesalahan besar lainnya


"Apa yang harus kulakukan sekarang?" gumamnya menatap langit-langit bertanya pada dirinya sendiri, langkah apa yang akan diambilnya sekarang



πŸ€πŸ€πŸ€


Braakk...


Pintu rumahnya terbuka lebar setelah dibuka dengan kasar oleh dua orang pria dibelakangnya.Mike menatap mereka dengan malas, dirinya baru saja ingin bersantai tapi para sahabatnya datang mengganggu, dan parahnya gaya datang mereka persis seperti preman, asal dobrak saja pintu rumahnya


"Ada apa kalian datang?" tanyanya dengan malas, bukannya dia tidak senang melihat sahabatnya tapi saat ini dirinya lagi butuh waktu untuk menenangkan dirinya dulu dan kedatangan sahabatnya itu pasti untuk mengganggunya


"Tidak kusangka kamu masih hidup, kupikir sudah beda alam dengan kami" jawab Billy berjalan mendekat dan langsung menjatuhkan diri diatas sofa samping Mike


"Iya, Billy benar.Handphonemu tidak aktif hampir 2 minggu ini dan sekalinya aktif langsung mati lagi" timpal Eric yang juga mendudukan diri diatas sofa


Mike menghelakan nafasnya malas menatap dua sahabatnya itu.Untung Marcel tidak ikut, setidaknya berkurang satu orang yang akan mengejeknya saat ini


"Kami hampir saja mengeluarkan brosur pencarian orang hilang kalau saja anak buahku tidak menyampaikan kamu kembali ke rumah" ujar Billy lagi

__ADS_1


"Kalian tidak perlu sekhawatir itu.Aku bisa menjaga diriku sendiri" jawab Mike mencoba memejamkan matanya sembari bersandar di sandaran sofa.Kedua sahabatnya itu menatapnya kecewa dengan jawaban yang diberikan pria itu


"Bagaimana kami tidak khawatir padamu Mike.Kamu sudah menjadi anggota keluarga kami,para sahabatmu.Kau itu sudah seperti saudara kami.Apakah kamu tidak pernah merindukan kami selama hampir 2 minggu ini?"


"Tidak" jawab Mike asal dengan mata terpejam.Bagaimana dia tidak merindukan para sahabatnya itu yang sudah dianggapnya sebagai keluarga besar, dengan mereka Mike dapat merasakan kasih sayang seorang Ayah, ibu dan juga saudara walaupun selama ini dia hidup sebatang kara


"Dasar teman laknat" Billy langsung mengikat leher Mike dengan lengan kokohnya yang langsung membuat pria sok jantan itu memukul-mukul lengan Billy karena merasa tercekik.Inilah yang dibencinya kalau ada sahabatnya, tidak ada waktu tenang


Eric tertawa melihat tingkah konyol dua lelaki dewasa didepannya


"Hei, lepaskan" Billy baru melepaskan leher Mike saat melihat wajah laki-laki itu sudah benar-benar merah karena tercekat oleh lengannya


"Kurang ajar kau Bil" umpat Mike setelah terbatuk-batuk beberapa kali


"Rasain.Kau pikir bagaimana perasaan kami saat kamu tidak dapat dihubungi, di kantor tidak masuk, dirumah tidak pulang dan di apartemen tidak ada.Kami semua mengkhawatirkanmu Mike.Tapi, seenak jidatmu kau berkata tidak merindukan kami.Belum pernah merasakan jurus kepala kejepit ketek ya! Hingga berani menjawab begitu" protes Billy menatap kesal Mike


Eric terdiam, dan Mike merasa begitu bahagia.Matanya berkaca-kaca, dia pernah berada dititik terendah hidupnya dan para sahabatnya ini menjadi penyemangat sekaligus tolak ukur kesuksesannya..


Dengan spontan Mike memeluk erat tubuh Billy, pelukan hangat sebagai seorang sahabat


"Terima kasih Bil..terima kasih, kalian semua mau menjadi sahabat sekaligus saudaraku" gumamnya lirih lalu menatap eric dan beralih memeluk pria itu juga


Billy menatap aneh sahabatnya itu dengan jenaka


"Bodoh" timpalnya lalu berhambur memeluk keduanya sekaligus.Mereka tampak begitu aneh, tiga pria dewasa berpelukan, itu sangat menggelikan


"Untung Marcel tidak ada, kalau tidak kita pasti akan diejeknya" ujar Billy


Braakk


Mike memejamkan matanya kesal.Sepertinya dia harus segera mengganti pintunya agar tidak selalu jadi sasaran hantaman sahabat premannya


"Sedang apa kalian?" tanya orang yang baru saja disinggung Billy tentang ejekan


.


.


.

__ADS_1


Kritik dan saran diharapkanπŸ™πŸ™


__ADS_2